TOKOH AGAMA PERTAHANKAN KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

JIC, PANGKAL PINANG — Para tokoh agama Bangka Belitung melakukan dialog bersama Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin di Hotel Novotel, Pangkal Pinang, Bangka Belitung. Dalam dialog tersebut, tokoh agama tampak khawatir dengan kondisi bangsa, khususnya yang terjadi di Ibu Kota pasca-Pilkada DKI Jakarta 2017.

Kendati demikian, mereka tetap berkomitmen untuk menjaga kerukunan umat beragama di provinsi Bangka Belitung. Povinsi ini terdiri dari dua Kelpulauan besar, yaitu Kepulauan Bangka dan Belitung. Walapun didominasi umat Islam, dua kepulauan ini juga dihuni oleh umat agama lainnya, seperti Kristen, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Berdasarkan pantauan Republika.co.id, satu per satu dari perwakilan tokoh agama itu diperkenankan untuk menyampaikan aspirasinya di depan Menteri Lukman yang juga ditemani Kakanwil Kemenag Bangka Belitung, Andi M Darlis dan Dirjen Pendis Kemenag, Kamaruddin Amin.

Tokoh agama yang mewakili agama Islam, Abdul Latif Somad menyampaikan kekhawatirannya terhadap permasalahan yang berkembang di Jakarta terkait kasus penistaan agama dengan terpidana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Menurut dia, meskipun masyarakat Bangka Belitung selama ini hidup rukun tapi masalah tersebut patut menjadi perhatian serius.

“Permaslahan yang dapat kita perhatikan atau kita ikuti perkembangan sekarnag ini. Kita mengkhawatirkan persoalan-persoalan yang dari ibu kota Jakarta, ini bisa berdampak ke daerah-daerah lain, khususnya Bangka Belitung,” ujar Ketua PWNU Babel tersebut.

Karena itu, warga NU Babel menginginkan agar bangsa ini bisa lebih membumikan agama dan ideologi Pancasila. Pasalnya, persoalan tersebut sudah mengarah kepada adanya perpecahan. “Di Babel pun yang rukun damai dan kondusif, tapi riak-riak ini (perpecahan) sudah mulai terjadi. Dan kerugian-kerugian ini jelas terjadi kepada umat beragama, khususnya bagi umat Islam,” ucapnya.

Dia mengatakan, permasalahan di Ibu Kota tersebut terjadi lantaran tidak adanya singkronisasi antara ideologi, undang-undang, dan organisasi keagamaan. Kendati demikian, menurutnya, untuk menjadikan negara tetap rukun, damai dan sejahtera maka semua pihak pelu membumikan agama dan pancasila.

Hal senada juga disampaikan, perwakilan tokoh agama Hindu, I Wayan Suta. Ia pun mengajak kepada seluruh tokoh agama lainnya untuk menyadari bahwa jika keamanan negara sudah terancam dengan masalah yang ada di Jakarta tersebut, maka akan berdampak pada kerugian yang sangat besar.

“Mohon kita sadar semua bahwa kalau keamanan ini sudah terancam itu biayanya sangat luar biasa. Kita bisa lihat di telivisi kejadian akhir ini pengerahan sekian ribu aparat keamanan dan sekian ribu massa itu sangat menyita energi bangsa ini,” ucapnya.

Karena itu, untuk mempertahankan kerukunan umat beragama di Babel ia pun mengusulkan kepada Menteri Lukman agar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Bangka Belitung lebih diberdayakan lagi, sehingga tidak hanya menjadi seperti pemadam kebakaran saja.

“Kemudian tadi juga disampaikan oleh tokoh dari NU bahwa memang betul Pak kalau Pancasila ini kita anggap sesuatu yang tidak penting maka kita akan menunggu kehancuran bangsa ini Pak,” katanya.

Menurut dia, tokoh agama yang tergabung dalam FKUB sudah mendiskusikan bahwa Pancasila sebgaai dasar bernegara saat ini sedalam dalam keadaan darurat, sehingga perlu melakukan edukasi supaya Pancasila kembali dicintai dengan sepenuh hati.

Sementara, perwakilan tokoh agama Kristen, Pendeta Sanema juga menegaskan, bahwa hingga saat ini Bangka Belitung masih hidup rukun dan damai. Namun, salama dialog tersebut Pendeta Sanema lebih banyak menyampaikan tentang permasalahan perndirian Rumah Ibadah, khususnya terkait pendirian Gereja.

“Tentu saya tidak berpanjang-panjang saya langsung ke poinnya saja pak. Pak Kanwil tadi sudah memaparkan bahwa situasi keagamaan di Bangka Belitung sangat kondusif dan rukun,” ujarnya.

Hal itu juga disampaikan oleh perwakilan tokoh Agama Buddha, Biksu Badra Widya. Selama tinggal di Bangka Belitung, Biksu Badra merasakan betul kerukunan yang ada di Bangka Belitung. “Lima tahun terakhir saya bertugas di Babel ini saya cukup nyaman dan tidak ada kendala berarti berhubungan dengan kerukunan umat beragama. Kemarin, kami juga melaksanakan waisak kami disambut dengan hangat dan baik,” ucapnya.

Ia menuturkan, meskpun di dalam pemberitaan disebut bahwa saat ini tengah krisis kebhinnekaan, tapi sebenarnya jika melihat kondisi di lapangan sebenarnya tidak ada masalah keagamaan di Bangka Belitung. “Kalau dilihat di lapangan sendiri kita sebenarnya santai-santai saja gitu, tidak ada sesuatu yang berarti, cuma tadi seperti yang diungkapkan kawan-kawan yang namanya percikan api kalau tidak segera dipadamkan takutnya nanti merembet,” ujarnya.

Kendati demikian, Biksu Badra yakin dan percaya jika para tokoh agama di Babel tetap mengedepankan visi dan mis, serta mengedapankan ajaran agamanya masing-masing, maka kedamaian dan Kebhineekaan itu akan tetap terjaga.

Menteri Lukman pun menagapi satu-satu per satu. Ia pun mencoba menyegarkan ingatan para tokoh agama tersebut dengna menjelaskan esensi agama dalam konteks Indonesia. Menurut dia, tokoh agama sepatutnya berterimakasih kepada pendiri bangsa yang memahami dengan baik realitas keindonesiaan yang mejemuk.

“Tapi pendiri bangsa tidak cukup hanya dengan nilai kebangsaan itu. Lalu dengan kearifan mereka, mereka menemukan agama. Agama sesungguhnya menjadi faktor yang mempererat kita di tengah-tengah kemajemukan itu, karena itu kita dikenal dengan bangsa yang sangat relegius,” kata Lukman.

Ia pun berharap, dengan diadakannya dialog tersebut, kerukunan umat beragama di Bangka Belitung bisa tetap terpelihara dengan baik meskipun kondisi di Ibu kota masih bergejolak di tengah-tengah kepentingan yang pragmatis.

Sumber ; republika.co.id

Write a Reply or Comment

seven − 6 =