ZEYNEP FADILIOGLU, PEREMPUAN PERTAMA PERANCANG MASJID

JIC, JAKARTA —  Wanita menjadi perancang masjid? Ini memang sangat jarang terjadi. Namun, hal itu telah menjadi kenyataan di Turki. Masjid Sakirin, yang resmi dibuka pada Mei 2009 di Istanbul, Turki, berdiri megah berkat sentuhan dingin seorang arsitek wanita, Zeynep Fadilioglu. Tak hanya dia, ia pun melibatkan sejumlah wanita lain dalam pengerjaan proyek ini.

Mendapat sentuhan wanita, tampilan masjid ini sungguh indah dengan tampilan gaya modern yang membedakannya dengan gaya masjid-masjid lain di Turki. Sebelumnya, Zeynep lebih kerap mendesain interior rumah orang-orang kaya dan hotel-hotel megah. Ini adalah kesempatan pertamanya terjun ke bidang desain interior pembangunan rumah ibadah.

Keindahan Masjid Sakirin Ternyata Buah Karya Arsitek Perempuan

Baginya, merancang pembangunan masjid sungguh istimewa, tak seperti ketika ia mendesain restoran atau hotel. Tak berlebihan jika Zeynep menyebut proyek religius ini sebagai karya monumentalnya.

“Ketika saya mendapat tawaran proyek ini, air mataku meleleh. Menurut saya, ini sangat menarik karena pembangunan masjid justru ditawarkan bagi arsitek perempuan,” tutur Zeynep.  Apalagi, proyek masjid ini sangat prestisius karena dipesan khusus oleh keluarga terpandang keturunan Arab-Turki di Istanbul untuk mengenang ibunda mereka.

Untuk masjid ini, Zeynep memadukan unsur modern dan klasik. Untuk menunjukkan bahwa Muslimah memiliki hak serta fasilitas ibadah yang sama dengan pria, ia sengaja menyediakan ruang bagi jamaah wanita yang sama besar dan sama indahnya dengan ruang bagi jamaah pria. Terlebih selama ini, ia melihat, tempat shalat di masjid bagi Muslimah Turki tak selalu terawat dengan baik.

Woman Designed the Sakirin Masjid

“Saya dan tim arsitek ingin para jamaah yang memanfaatkan masjid ini merasa nyaman dan merawat karya seni ini selayaknya di rumah mereka sendiri,” katanya. Dia juga menekankan, meski dia terlahir dari generasi Turki yang sekuler, persamaan hak beribadah harus diperhatikan lewat fasilitas yang ada.

 Urusan menggarap megaproyek bukan hal baru bagi Zeynep Fadilioglu. Acap kali tawaran mendesain dan membangun hotel dan rumah mewah menghampirinya. Tidak saja dari Turki, tapi dari benua Eropa, India, hingga kawasan Timur Tengah.

Namun, proyek Masjid Sakirin ini sungguh luar biasa. Setidaknya, proyek ini menahbiskannya sebagai wanita Turki pertama yang membangun rumah ibadah. Keyakinan kuat mendorong perempuan lajang ini menuntaskan tugasnya sebaik mungkin. Dia yakin, arsitek perempuan akan memberi sentuhan berbeda pada masjid.

“Saya selalu lebih detail pada segi estetika. Begitu pula kepedulian saya pada kepentingan publik. Karena itu, saya mencoba membangun tempat terbaik untuk menghadap Allah, bukan hanya sebagai simbol semata.”

Kini, Masjid Sakirin mampu mewakili sisi religiusitas Kota Istanbul. Gaya arsitektur bangunannya memperlihatkan identitas Turki yang merupakan gabungan budaya Timur dan Barat. Zeynep memang sengaja menampilkan karakter dua budaya itu. Begitu pula dengan para penggarapnya yang dia ambil dari kalangan Muslim dan kalangan kontemporer.


Perbedaan paham dan keyakinan tadi ternyata melahirkan karya yang luar biasa. Kerja sama yang erat itu juga membuahkan sebentuk kubah masjid artistik yang memendarkan cahaya persatuan. Selain dia, kubah tersebut ditata pula oleh seniman wanita Turki, Nahide Buyukkaymakci.

Ketika pembangunan masjid sedang berlangsung, sempat muncul perdebatan mengenai isu sekularisme dan keagamaan di Turki. Di tengah suasana ‘panas’ itu, Zeynep tak gentar untuk meneruskan konsep persatuan dua budaya itu. “Saya pikir perpaduan budaya Timur dan Barat cocok dipadukan ke dalam bangunan masjid,” tegasnya.

Sejak diresmikan dua tahun silam, Masjid Sakirin menjadi tonggak bersejarah bagi perkembangan arsitektur Turki masa kini. Sekaligus pula menunjukkan dasar-dasar keislaman yang menghargai persamaan sebagai hamba Allah. 

Disarikan dari Dialog Jumat Republika

Write a Reply or Comment

two + twenty =