30 Maret, Lahirnya Muhammad Al Fatih Sang Pembebas Konstantinopel Ep 1

index

JIC- Hari ini, 584 tahun silam, tepatnya 30 Maret 1432, lahirnya seorang bayi laki-laki yang pernah dijanjikan Rasulullah saw akan menaklukkan Ibu Kota Kerajaan Romawi saat itu, Konstantinopel.

“Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukkan. Sebaik-baik pemimpin adalah penakluknya. Dan, sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.” (HR Ahmad).

Bayi laki-laki itu adalah Mehmed II yang lebih dikenal sebagai Muhammad Al Fatih. Ia lahir di Edirne, saat itu merupakan Ibu Kota Kesultanan Utsmani. Al Fatih lahir pada 30 Maret 1432 –sebagian riwayat menyebut Al Fatih lahir pada 3 Maret 1432– dari pasangan Sultan Murad II (1404-1451) dan Valide Sultan huma Hatun.

Sejak belia, ia yang memiliki nama kecil Mehmed Celebi itu dibanjiri fasilitas pendidikan yang sangat tinggi. Banyak guru yang mendidiknya, namun yang paling dekat dengannya adalah Syaikh Ahmad bin Ismail Al-Kurani dan Syaikh Aaq Syamsuddin. Lewat tempaan murabbinya ini, impian Al Fatih memenuhi bisyarah (janji) Rasulullah saw terus terjaga dan kian merekah.

Masa Kecil Mehmed Celebi Dididik Guru Terbaik

Selain mengajarkan Islam dan berbagai ilmu pengetahuan lain, gurunya itu juga rajin mengajak Al Fatih kecil memandangi benteng Konstantinopel dari kejauhan sembari berkata, “Lihatlah di seberang sana, Rasulullah saw pernah bersabda benteng itu akan ditaklukkan seorang pemimpin yang merupakan sebaik-baiknya pemimpin dan tentaranya adalah sebaik-baiknya tentara. Saya percaya, pemimpin itu adalah kamu.”

Kalimat itu diucapkan Syaikh Syamsuddin berulang kali tanpa bosan. Kalimat itu pula yang menumbuhkan keyakinan dan semangat di dalam diri Al Fatih walaupun lebih dari 800 tahun sejak Rasulullah saw menyatakan sabdanya, Konstantinopel belum mampu dibebaskan.

Sebetulnya, dalam kurun waktu delapan abad itu para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan Kostantinopel. Usaha pertama dilancarkan di zaman Muawiyah bin Abu Sufyan RA. Upaya serupa dilakukan di zaman Khilafah Umayah, Pemerintahan Abbasiyyah, hingga Khalifah Harun al-Rasyid. Tetapi semua usaha itu gagal.

Konstantinopel nyaris dibebaskan umat Muslim lebih cepat di zaman Sultan Yildrim Beyazid. Kesultanan Utsmani sempat membuat kesepakatan dengan Kerajaan Seljuk, kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia). Pemimpin Kerajaan Seljuk, Alp Arslan (455-465 H/1063-1072 M) berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos, pada 463 H/1070 M. Akibatnya sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk.

Kerja sama Utsmani dengan Seljuk sempat memberikan harapan Konstantinopel akan dibebaskan lebih cepat. Sultan Beyazid mengepung Konstantinopel pada 796 H/1393 M dan memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan ‘Ibu Kota Dunia’ itu secara aman kepada umat Islam. Tetapi usaha itu gagal karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Leng.

Impian Kesultanan Utsmani membebaskan Konstantinopel terus terjaga. Diwarisi dari satu sultan ke sultan lainnya. Hingga impian itu pun juga digenggam Al Fatih yang menjadi sultan Utsmani ketujuh. Bisyarah Rasulullah di perang Khandak itu pun terpenuhi oleh Al Fatih.

Naik Tahta di Usia Belia

Di usia sekitar 11 atau 12 tahun, ia dikirim ayahnya ke sebuah kota Amasya untuk menjadi gubernur. Tak sampai satu tahun, ayahnya mengundurkan diri sebagai Sultan dan menyerahkan tampuk kesultanan kepada Al Fatih.

Pemikiran Sultan Murad II sangat terpengaruh oleh pemikiran ulama-ulama Islam kala itu, khususnya oleh pemikiran penasihat terdekatnya, Molla Gurani, serta Syaikh Syamsuddin yang di kemudian hari mendorongnya untuk menaklukkan Konstantinopel.

Di tahun pertamanya naik tahta, Kekaisaran Hungaria menyerang dan melanggar perjanjian gencatan senjata. Ia sempat kewalahan dan meminta ayahnya kembali menjadi Sultan untuk memimpin pasukan.

Namun ayahnya menolak karena telah memutuskan untuk menjalani hidup tenang di Barat Daya Anatolia. Mehmed II yang marah kemudian mengirimkan surat kepada ayahnya.

“Bila ayah adalah Sultannya, datanglah dan pimpinlah pasukan ayah. Bila aku adalah Sultannya, aku memerintahkan ayah untuk datang dan memimpin pasukanku.” Murad II tergugah, datang membantu, dan memenangkan Pertempuran Varna yang dimulai pada 10 November 1444.

Pemimpin Terbaik untuk Pasukannya

Umurnya belum genap 20 tahun saat dilantik menjadi khalifah. Namun, Al Fatih tanpa ragu-ragu langsung memantapkan diri untuk membebaskan ibu kota Romawi Timur, Konstantinopel. Tapi bukan perkara mudah menaklukkan Konstantinopel.

Pengambilan keputusan itu jelas perlu keberanian tinggi. Alasannya, puluhan sultan yang hendak menaklukkan Konstantinopel selalu gagal. Ditambah bujukan pejabat Utsmani yang membisiki Al Fatih jika mereka takkan sanggup melawan aliansi Romawi Timur dan negara-negara Eropa.

Keberanian Muhammad II juga terbukti di lapangan. Beliau benar-benar berada di antara pasukan Muslim dan musuh. Padahal, mereka hanya berjarak puluhan meter. Lalu, karena Konstantinopel dikelilingi laut, maka saat melakukan itu guna memompa semangat juang pasukannya, beliau menceburkan diri bersama kudanya hingga permukaan laut mencapai dada kudanya.

Bahkan, saat berjihad di kawasan Balkan (Bosnia, Serbia, Kroasia, dan lain-lain) beberapa tahun kemudian, setelah pasukan beliau sempat dipukul mundur oleh pasukan musuh yang menghadang dengan meriam-meriam di balik pepohonan, Muhammad II berinisiatif memacu kudanya secepat mungkin mencapai hutan, tempat musuh berada. Tindakan yang diikuti serdadunya itu membuat musuh tidak sempat lagi menghujani mereka dengan mortir.

Al Fatih seorang pemimpin umat terbaik. Pemimpin yang mempunyai keberanian melebihi orang yang paling berani dari rakyatnya, bahkan tentaranya.

Ia berani membuat keputusan, berani mempersiapkan dan mempertahankannya hingga berhasil, dan berani melawan siapa dan apa pun yang menghadang, termasuk meriam sekalipun. Bagaimanapun, “Sesungguhnya imam (pemimpin/ kepala pemerintahan) itu seperti perisai (bagi rakyatnya).” (HR Muslim). Perisai berfungsi melindungi, dan selalu lebih dulu menghadapi ancaman dan serangan.

Sumber ; republika.co.id

Write a Reply or Comment

three + eight =