30 Maret, Lahirnya Muhammad Al Fatih Sang Pembebas Konstantinopel Ep 2

khilafah-utsmaniyah-pasukan

JIC- Pembebasan Konstantinopel

Pengepungan Konstantinopel berlangsung selama 53 hari. Sekitar 250 ribu tentara dikerahkan Al Fatih. Termasuk janissary, pasukan elite Kesultanan Ustmani.

Pengepungan selama hampir dua bulan itu menguras banyak biaya, tenaga, dan emosi. Sebab, bukan perkara mudah menaklukkan Konstantinopel yang dijuluk ‘Kota dengan Pertahanan Terbaik’ di abad pertengahan.

Seluruh wilayah kota Konstantinopel dibatasi laut, kecuali sebelah barat. Sedangkan tujuh kilometer tembok benteng wilayah baratnya terdiri dari tiga lapis tembok yang dikenal dengan nama tembok theodosius. Tembok ini terbentang dari teluk Tanduk Emas (GoldenHorn) hingga laut Marmara.

Bagian terdalam tembok benteng sebelah barat yang bersentuhan langsung dengan kota bernama tembok Mega Teichos atau tembok dalam. Tingginya tak main-main, 18-20 meter dengan ketebalan tembok lima meter.

Bagian tembok kedua dikenal dengan nama mikron teichos atau tembok luar. Di antara tembok dalam dan tembok luar terdapat peribolos atau teras selebar 15-20 meter dengan tinggi lima meter. Sedangkan tembok sebelah utaranya tepat di wilayah perairan teluk Tanduk Emas sangat rentang akan serangan.

Tetapi Kekaisaran Romawi sadar akan kelemahan itu membentangkan rantai besi raksasa sepanjang 275 meter untuk menutup akses ke teluk Tanduk Emas (Golden Horn). Rantai ini diikat pada menara Euginius sebelah selatan dan pada tembok Castellion di Galata sebelah utara Konstantinopel, sempurna menahan kapal-kapal yang ingin menyerang Konstantinopel.

Menggotong Kapal Melewati Pegunungan

Setelah berkali-kali gagal menjebol tembok benteng, Al Fatih memanfaatkan celah di Tanduk Emas untuk menyerang. Pasukan Romawi terlalu yakin, tentara Muslim tidak akan sanggup melewati rantai besi yang diklaim sebagai pertahanan sempurna.

Ide cerdas yang tidak pernah terpikirkan pun dilontarkan Al Fatih. Sultan memerintahkan pasukannya menarik dan menggotong kapal mereka melalui jalan darat, melewati pegunungan tak lagi berlayar melewati laut untuk menghindari rantai besi.

Dalam semalam 70 kapal laut pindah dari selat Bosphorus menuju selat Tanduk, untuk kemudian melancarkan serangan tidak terduga yang berakhir dengan kemenangan yang dinanti berabad-abad.

Lewat serangan pamungkas tersebut, sebelum azan Subuh berkumandang pada 29 Mei 1453, Konstantinopel berhasil dibebaskan kaum Muslimin lewat kepemimpinan Al Fatih. Usianya saat itu 21 tahun kurang satu hari.

Ketika memasuki gerbang Kota Konstantinopel, sembari mengagumi dan bersyukur, Sultan yang menguasai enam bahasa itu berucap, “Aku bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kemenangan yang gemilang ini. Akan tetapi, aku juga berdoa kepada-Nya agar Dia mengizinkanku hidup lebih lama lagi untuk mengepung dan menaklukkan Roma Lama sebagaimana aku memiliki Roma Baru (Konstantinopel).”

Sultan Menjamin Keamanan Non-Muslim

Sultan menyampaikan pesan kepada tentaranya untuk tidak membunuh anak-anak dan perempuan serta melindungi masyarakat agar diberlakukan dengan baik dan lemah lembut. Ia memberikan toleransi dan kebebasan kepada siapa pun yang ingin tinggal di kota tersebut.

Bahkan, ketika memasuki Hagia Sophia yang sudah dipenuhi rakyat Konstantinopel, Ia berkata, “Jangan khawatir. Mulai sekarang, harta dan nasib kalian menjadi bagian dari kami (umat Muslim). Kalian bebas untuk hidup sesuai keimanan kalian.”

Hagia Sophia kemudian menjadi masjid dan menjadi Shalat Jumat pertama umat Muslim di Konstantinopel. Al Fatih juga mengubah nama Konstantinopel menjadi Islambul yang berarti kota Islam. Tetapi Mustafa Kemal Attaruk mengganti menjadi Istanbul dan nama itu lebih dikenal hingga sekarang.

Konstantinopel pun dibangun Al Fatih dengan gaya Eropa dan Arab. Salah satu bangunan yang dibangun Al Fatih adalah Istana Topkapi yang menjadi simbol kedamaian Islam.

Wafatnya Al Fatih Jadi Kabar Gembira Eropa

Usai menaklukkan Konstantinopel, Al Fatih tidak berpuas diri. Penaklukkan demi penaklukkan terus dilakukan ke wilayah Eropa. Target utamanya adalah Roma, kota kedua yang dijanjikan Rasulullah akan dibebaskan umat Islam setelah Konstantinopel. Kegigihan Al Fatih itu menggetarkan para pemimpin wilayah-wilayah Eropa.

Pada 1470, Al Fatih sudah menderita sakit radang sendi. Muhammad Al Fatih pun menutup usia pada 3 Mei 1481 di usia 49 tahun.

Wafatnya Al Fatih menjadi kabar gembira untuk seantero Eropa. La grande aquila e morto (elang perkasa sudah mati), bunyi surat yang disampaikan ke Roma.

Ia pun digantikan anak tertuanyam Bayezid II. Selama pemerintahannya, Bayezid II menguatkan Kekaisaran Ottoman dan menggagalkan Pemberontakan Safawi.

Sumber; republika.co.id

Write a Reply or Comment

fourteen + 10 =