LIPUTAN KHUSUS ; KEPINGAN HITAM PUTIH SALAFI HINGGA HIJRAH

Anak-anak muda hijrah cenderung enggan membaca buku agama tebal-tebal yang menyajikan beragam mazhab dan lebih memilih jalur salafi yang mampu ringkas mengkaji. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jakarta, JIC — Fenomena hijrah di kalangan muda Indonesia merupakan dampak dari ekspansi gerakan Islamisme transnasional yang mendapat tempat di masyarakat setelah lama terbungkam di rezim Orde Baru.

Tren hijrah menjadi booming karena pada saat bersamaan generasi milenial membutuhkan perlindungan dari krisis identitas di tengah gempuran informasi era digital.

Survei Vakey Foundation di Inggris mengungkap bahwa agama telah menjadi faktor utama bagi anak-anak muda di Indonesia untuk mencapai kebahagiaan dengan skor umum mencapai 93 persen.


Survei yang dilakukan pada 2017 itu juga mengungkap hal yang sama terjadi pada anak muda di negara Turki, Brazil, hingga China.

Aktivitas gerakan Islam transnasional melampaui sekat-sekat teritorial negara-bangsa (nation-state). Gerakan Islam tersebut punya visi dan misi perjuangan beragam mulai dari yang berfokus dengan aktivitas dakwah sampai yang melibatkan diri lewat jalur perjuangan politik.

Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Rahmat Hidayatullah mencatat gerakan Islam transnasional yang masuk ke Indonesia di antaranya Salafi, Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir.

“Memasuki era reformasi, ada arus demokrasi. Sehingga suara dan gagasan mereka terekspose ke ruang publik dan masyarakat pun jadi aware dengan gagasan mereka,” kata Rahmat.

HIJRAH EMBARGO 2Ilustrasi. Generasi muslim muda belakangan ini marak berhijrah untuk menjadi lebih religius. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Kelompok penganut Salafi, kata Rahmat, lebih fokus di ranah teologi. Mereka mempersoalkan praktik Islam yang tak diterapkan Nabi Muhammad. Misalnya tahlil, ziarah kubur dan seterusnya.

Kelompok Salafi di seluruh dunia termasuk di Indonesia, kata Rahmat, ada yang didanai oleh pemerintah Arab Saudi. Selebihnya, banyak dari mereka melakukan itu atas kesadaran bahwa ajaran Salafi sudah sepatutnya disebarkan.

Penyebaran Salafi di Indonesia terjadi seiring dengan kepulangan mahasiswa Indonesia yang telah menempuh studi di Arab Saudi dan Kuwait, terutama pada dekade 1980-1990an.

“Motifnya teologis, karena mereka merasa Islam versi ini paling benar,” kata Rahmat.

Di samping itu, ada pula yang melakukan penyebaran ajaran Salafi sebagai misi secara terorganisir ke seluruh dunia. Mereka mendakwahkan ajaran Salafi secara terstruktur dan terorganisir. Pula, diberikan dana untuk menjalankan misinya.

Salah satu lembaga yang disinggung oleh Rahmat adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) dan juga Radio Rodja.

Selain kelompok penyebar ajaran Salafi, ada pula eksistensi gerakan dakwah Jamaah Tabligh. Secara garis besar, sama dengan kelompok Salafi, kelompok yang berasal dari India itu ingin memurnikan penerapan Islam. Namun mereka tidak seagresif Salafi dalam menentang tahlil, ziarah kubur, dan sebagainya.

“Jamaah Tabligh ini bisa dibilang gerakan dakwah atau misionaris terbesar di seluruh dunia. Bahkan kalau lagi kumpul di India, acara mereka bisa mengalahkan jamaah haji,” kata Rahmat.

Salafi dan Jamaah Tabligh merupakan aliran pemurnian Islam yang tergolong apolitis. Keduanya tidak memiliki misi bernuansa politis. Para pengikutnya pun tidak diberikan doktrin-doktrin politis.

HIJRAH EMBARGO 2Gerakan Islam transnasional yang tercatat masuk ke Indonesia di antaranya (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Berbeda halnya dengan Ikhwanul Muslimin. Rahmat mengatakan kelompok tersebut digolongkan sebagai gerakan Islamisme bernuansa politis. Mereka membawa ide-ide politik serta perubahan sosial.

Umumnya, kelompok Ikhwanul Muslimin bergerak di ranah legal. Mereka memperjuangkan gagasan dengan menyesuaikan peraturan negara setempat atau konstitusional. Mereka senantiasa menaruh kader-kader di pemerintahan dengan tujuan mempertahankan negara lebih Islami.

Kelompok Ikhwanul Muslimin pun lebih lentur jika bicara soal teologi. Mereka bisa memaklumi kelompok Islam tradisional yang menerapkan tradisi Maulid Nabi, tahlil, ziarah kubur dan seterusnya. Berbeda dengan kelompok Salafi yang keras menentang budaya tersebut.

“Targetnya memang beda, yang satu pembaruan agama (Salafi), yang satu lagi reformasi sosial politik (Ikhwanul Muslimin),” tutur Rahmat.

Terakhir, adalah Hizbut Tahrir. Kelompok ini juga digolongkan sebagai gerakan Islamisme bernuansa politis. Tak selentur Ikhwanul Muslimin, kata Rahmat, Hizbut Tahrir cenderung bergerak di luar sistem suatu negara dan memiliki misi menerapkan negara Islam.

Para pengikut Salafi, Jamaah Tabligh, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir juga terlibat dalam perdebatan di level tertentu. Misalnya, kata Rahmat, ada kalangan Ikhwanul Muslimin yang kurang suka dengan Hizbut Tahrir lantaran ingin mengubah sistem namun enggan ikut dalam partai politik.

Pengikut Salafi di level tertentu juga kadang bergesekan dengan kelompok Jamaah Tabligh, terutama menyangkut soal ibadah sunah. Namun saat ada satu isu besar seperti isu Palestina, Suriah, kebijakan Amerika, mereka biasanya satu suara.

Belakangan, kalangan muda yang memutuskan hijrah cenderung nyaman menimba ilmu dari ustaz-ustaz beraliran Salafi. Hal itu terlihat dari maraknya anak muda yang menghadiri kajian-kajian hijrah salafi dan mengikuti dakwah mereka lewat media sosial. Kalangan Nahdlatul Ulama (NU) atau Muhammadiyah turut menyadari fenomena tersebut.

HIJRAH EMBARGO 2Generasi muda didorong memperkaya referensi pemahaman agar mampu memaknai Islam dari sudut pandang yang lebih luas. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Cendekiawan Islam Komaruddin Hidayat menganggap dakwah ala Salafi cenderung terbatas mengkaji ayat Alquran dan hadis, minim tafsiran secara kontekstual. Gaya dakwah tersebut disukai anak-anak muda masa kini.

“Anak muda generasi gawai enggan baca buku agama tebal-tebal, yang menyajikan ragam mazhab. Maunya singkat, padat, jelas,” ucap Komaruddin saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (20/5).

Padahal, menurut Komaruddin, menimba ilmu agama mesti pula disertai membaca berbagai penafsiran atas Alquran dan hadis. Yang terjadi kini, menurut Komaruddin, banyak kalangan muda yang memutuskan hijrah mayoritas enggan mendalami dengan cara demikian.

“Bagi anak muda yang lagi gamang menghadapi era disrupsi dan post-truth, pendekatannya lebih kaku, ilmu agama langsung dicerna tanpa penafsiran, terlebih bagi mereka yang tidak punya latar pendidikan agama dan bahasa Arab. Tambahan lagi, mereka kecewa lihat ustaz pada berpolitik,” ucap Komaruddin.

Komaruddin menilai ada dampak buruk ketika anak-anak muda hanya sebatas menimba ilmu dengan gaya Salafi. Dia menganggap pengetahuan agama yang didapat sangat terbatas karena tidak disertai mengkaji penafsiran ayat Alquran dan hadis dari berbagai mazhab.

“Pengetahuan agama mereka penggalan-penggalan karena tidak studi secara sistematis komprehensif dan mendalam,” ucap Komaruddin.

Komaruddin lebih percaya alumni pesantren jauh lebih luas wawasan ke-Islamannya karena budaya pesantren mengajarkan bagaimana mengkaji ilmu Islam dari berbagai pandangan.

Berbeda halnya dengan anak-anak muda yang selama ini menyukai Salafi. Komaruddin meyakini mereka masih perlu menambah asupan pemahaman dari ragam referensi agar mampu memaknai ajaran Islam dengan sudut pandang lebih luas.

“Kecenderungannya ikutan ekslusif, sulit menerima pandangan yang berbeda. Lebih tidak sehat lagi kalau dirinya merasa paling benar lalu menyalahkan yang lain,” tutur Komaruddin.

“Mereka juga merasa bisa mengakses lewat googling, sehingga merasa ahli agama meskipun belum setahun belajar agama,” lanjutnya.

(bmw/DAL)

 

Sumber : cnnindonesia.com

 

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

PBNU SOAL ATURAN MAJELIS TAKLIM: KEMENAG JANGAN MEREPOTKAN

Read Next

MAJELIS TAKLIM AKAN DAPAT MODUL MENGAJI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

six − 5 =