ABU HURAIRAH TAK GENGSI MENGAKUI KESALAHAN FATWANYA

JIC, JAKARTA — Islam memberikan penghormatan terhadap ilmu dan ulama. Penghormatan yang nyaris tidak ditemukan sepanjang sejarah manusia. Tak lain, karena posisi strategis ulama dalam Islam. Islam menempatkan mereka sebagai pewaris para nabi.

Sehingga, pendapat yang keluar dari pemikiran ulama merupakan referensi hukum yang patut dijalankan. Bahkan, sebuah pendapat mengatakan, para ulama wajib ditaati sepeninggal Rasulullah. Kisah berikut ini, menceritakan tentang keluhuran akhlak Abu Hurairah RA, yang dengan rendah hati, berkenan mengakui kesalahannya dalam berfatwa.

Nama Abu Hurairah RA tentu tidaklah asing. Sahabat yang juga dikenal dengan nama Abd al-Rahman ibn Sakhr al-Azdi itu dikenal sebagai sosok yang alim dan menguasai agama. Namanya juga masuk dalam deretan sahabat pemberi fatwa. Penguasaan tokoh yang lahir pada 603 M ini terhadap ilmu agama dilatarbelakangi oleh kedekatannya dengan Rasulullah SAW.

Abu Hurairah, pernah menemani Nabi akhir zaman itu lebih dari tiga tahun. Kondisi ini memberikan keistimewaan berikutnya, yakni, ia berhasil mencatat predikat perawi hadis terbanyak. Tak kurang dari 5,375 hadis berhasil ia riwayatkan langsung dari Rasulullah.

Meski demikian, masih saja ada beberapa hal yang ternyata belum dapat dicerna baik oleh Abu Hurairah, meskipun akhirnya sahabat yang lahir di Baha, Yaman tersebut, dengan hati lapang dan keterbukaan, berkenan belajar atau berkonsultasi kepada Rasulullah. Peristiwa berikut ini menunjukkan sikap kearifan dan kedewasaan yang pantas dimiliki ulama,  sebagaimana diteladankan oleh pria asal Bani Daws tersebut.

Suatu ketika, usai shalat Isya’ berjamaah di belakang Rasulullah SAW, Abu Hurairah berjalan-jalan di tengah kegelapan malam. Tiba-tiba seorang perempuan bercadar mendekati Abu Hurairah dan mengadukan persoalan yang tengah menderanya. Si perempuan bertanya perihal nasibnya yang telah berbuat dosa besar. Apakah saya bisa bertaubat?, katanya kepada Abu Hurairah.

Abu Hurairah yang pernah ditunjuk sebagai Gubernur Madinah di awal masa Dinasti Umayyah tersebut, lantas mencoba mendengarkan keluhan si perempuan dengan baik. Abu Hurairah bertanya kepadanya, apa dosa yang telah diperbuatnya. Aku telah berzina, kemudian membunuh anakku dari hasil hubungan terlarang itu, jawab si perempuan dengan nada ketakutan dan malu.

Abu Hurairah kaget bukan kepalang. Ia tidak habis pikir. Mengapa perempuani itu tega melakukannya. Sedikit terbawa sentimen dan emosi, tokoh yang wafat di usia 78 tahun itu dengan cepat mengeluarkan pernyataan dan fatwa yang cukup keras.

Binasalah engkau, binasalah engkau. Demi Allah, Anda tidak akan diampuni, kata Abu Hurairah sembari bergumam, baru kali ini ia berfatwa tanpa berkonsultasi kepada Rasul terlebih dahulu.

Tak elak, fatwa yang dikeluarkan mertua dari Sa’id bin al-Musayyib itu mendapat reaksi yang tak kalah heboh dari si perempuan. Ia shock, berteriak, menangis menderu-deru, lantas pergi meninggalkan Abu Hurairah.

Esok hari, Abu Hurairah menghadap Nabi SAW dan menceritakan peristiwa yang berlangsung kemarin malam, sekaligus meminta pernyataan dari Rasulullah. Ternyata, justru jawaban yang disampaikan oleh Rasul bertolak belakang dengan pandangan Abu Hurairah.

Rasul bersabda, Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, demi Allah, engkau bisa celaka, engkau bisa celaka. Tidakkah engkau lupa akan ayat ini, Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya).

Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah mahapengampun lagi mahapenyayang. (QS al-Furqan [25]: 68, 70).

Abu Hurairah segera meminta ampunan atas kekeliruannya berfatwa. Ia merasa bertanggung jawab telah membuat perempuan yang ia temui semalam berputus asa dan bersedih. Ia pun bergegas mencari dan melacak keberadaannya. Ia menelusuri sudut-sudut Madinah. Tetapi, usahanya tak membuahkan hasil. Ia bertanya kepada tiap orang.

Anak-anak menganggap sahabat yang dimakamkan di Kompleks Makam al-Baqi’ itu aneh, mirip orang gila yang kebingungan. Ia menunggu hingga malam tiba. Akhirnya, di tempat yang sama, mereka berdua bertemu.
Abu Hurairah meminta maaf dan menyampaikan kabar gembira dari Rasul. Kegembiraan tepancar dari raut muka si perempuan. Ia bahagia. Sebagai ungkapan rasa syukur dan suka cita itu, ia menyedekahkan sebidang kebun agar dipergunakan untuk kepentingan kaum dhuafa.

Sumber ; republika.co.id

Write a Reply or Comment