Al-Qur`an `Ijaazan wa Khawwashan wa Falsafatan

Tepat pada tanggal 28 Ramadhan 1432H yang lalu, sebuah kitab yang berjudul Al-Qur`an `Ijaazan wa Khawwashan wa Falsafatan Al-Qur`an diluncurkan di kediaman salah seorang ulama Betawi terkemuka saat ini, KH. Saifuddin Amsir, yang sekaligus penyusun kitab tersebut. Kitab ini ia susun karena kecintaannya terhadap Al-Qur`an. Kitab yang ditulis dalam bahasa Arab dengan pengantar bahasa Indonesia yang berjumlah 700 halaman ini, bukanlah tulisan pertamanya yang diterbitkan yang menyangkut tentang Al-Qur`an, tetapi sebelumnya ia telah menulis dan menerbitkan buku saku yang berjudul Al-`Asyirah Al-Qur`aniyyah.

Tepat pada tanggal 28 Ramadhan 1432H yang lalu, sebuah kitab yang berjudul Al-Qur`an `Ijaazan wa Khawwashan wa Falsafatan Al-Qur`an diluncurkan di kediaman salah seorang ulama Betawi terkemuka saat ini, KH. Saifuddin Amsir, yang sekaligus penyusun kitab tersebut. Kitab ini ia susun karena kecintaannya terhadap Al-Qur`an. Kitab yang ditulis dalam bahasa Arab dengan pengantar bahasa Indonesia yang berjumlah 700 halaman ini, bukanlah tulisan pertamanya yang diterbitkan yang menyangkut tentang Al-Qur`an, tetapi sebelumnya ia telah menulis dan menerbitkan buku saku yang berjudul Al-`Asyirah Al-Qur`aniyyah.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ustadz Irsyadul Ibaad, Kitab Al-Qur`an `Ijaazan wa Khawwashan wa Falsafatan Al-Qur`an yang disusun oleh KH. Saifuddin Amsir merupakan kumpulan tulisan dari enam kitab ternama di dunia Islam yang menyangkut ulumul qur`an, yaitu Az-Zahab Al-Ibriz, Jawahir Al-Qur`an, Qonun At-Ta`wil (ketiga kitab ini karya Imam Al-Ghazali), Fadha`il Al-Qur`an karya Imam Ibnu Katsir, Ajaibul Qur`an karya Imam Ar-Razi dan Ad-Durrun Nadzim karya Imam Al-Yafi`i dengan tambahan berupa bacaan wirid dari Wirdul Lathif dan syarahnya serta Munajat Imam Ali Zainal Abidin.

Dengan terbitnya kitab ini, tentu umat Islam sangat terbantu untuk memahami Al-Qur`an dari sisi kemukjizatan, kekhususan-kekhususan dan filsafatnya ssecara lebih utuh dan komprehensif dari khazanah Islam masa lalu yang dihasilkan oleh ulama terkemuka. Selain itu, dengan memahami kitab ini, umat Islam dapat terus menjadikan Al-Qur`an sebagai pedoman dan sumber untuk menjawab tantangan zaman. Tentu terbitnya sebuah buku atau kitab, tidak terlepas dari latar belakang si penulisnya. Maka perlu sekiranya kita mengenal sosok ulama Betawi ini yang masih istiqamah mengajar di berbagai majelis taklim dari pusat Jakarta sampai pinggirannya.

KH. Saifuddin Amsir merupakan sedikit dari ulama yan memiliki banyak profesi dan keahlian. Status keulamaannya semakit kuat setelah Mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami wafat, ia diminta oleh keluarga untuk menggantikan posisi almarhum untuk meneruskan pengajaran di majelis taklim-majelis taklim yang semasa hidup diisi oleh almarhum.

Tugas menggantikan ini bukan hal yang baru dia dapatkan. Waktu Mu`allim KH. M Syafi`i Hadzami masih hidup, dia juga menggantikan posisi mu`allim di beberapa majelis taklim, seperti majelis taklim kitab Al-Hikam di masjid Al-Fudhola, Kampung Beting, Jakarta Utara.

Selain sebagai ulama, ia juga adalah dosen, ia mengajar di IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta sebagai dosen sampai sekarang. Bukan hanya di IAIN saja, ia juga mengajar di beberapa kampus lainnya.juga aktif dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Dikarenakan kapasitasnya sebagai ulama, ia selalu menempati posisi di Dewan Syuriah PB NU sebagai salah seorang rais.

Profesi lainnya yang dia emban adalah menjadi Pengawas Syari`ah di Bank Pemata. Selain itu, ia juga sosok enterpreneur mendirikan lembaga keuangan mikro syari`ah atau Baitul Maal wat-Tamwil ( BMT) dan lembaga pendidikan Islam setara S2 dalam wadah yang bernama Zawiyah Jakarta.

31 Januari 1995 adalah tanggal yang bersejarah yang patut disyukuri bagi Amsir, orang Betawi, anak seorang polisi dari Kebon Manggis, Matraman, Jakarta Timur. Istrinya, Nurain binti Anwar, melahirkan anak kelima yang kemudian diberi nama Saifuddin Amsir[1] dalam kondisi sehat wal afiat dengan segenap harapan yang tertumpah bagi si jabang bayi.

Berharap anaknya mempunyai pengetahuan dan pemahaman ilmu agama yang mendalam, Saifuddin kecil mulai diajar mengaji cara kampung dengan Kong Perin yang kemudian dilanjutkan oleh putranya, Ust. Haji Sayuti, yang juga sepupu dari ibunya. Di rumah, ia juga diajarkan mengaji oleh ayahnya sendiri. Setelah itu ia belajar kepada Ust. Yusuf Amin.

Pelajaran mengajinya, khususnya al-Qur`an, kemudian berlanjut ketika ia duduk di bangku Sekolah Dasar. Baginya, masa-masa di Sekolah Dasar merupakan hal yang paling mengesankan dalam belajar al-Qur`an karena paling banyak memberikan pengaruh terhadap kemampuan membaca al-Qur`annya dibawah bimbingan Ustadz Malik.

Masa pendidikan Sekolah Dasar dilaluinya dengan mulus. Kemudian, Saifudin kecil yang meranjak remaja melanjutkan pendidikannya di Tsanawiyah asy-Syafi`iyyah, Bali Matraman, Tebet, Jakarta Selatan. Pada masa itu, merupakan suatu prestasi besar bisa masuk Tsanawiyah asy-Syafi`iyyah karena standarnya yang cukup tingi sehingga sulit untuk bisa diterima. Bahkan tidak jarang ada siswa yang berasal dari tsanawiyah lain ketika pindah ke Tsanawiyah asy-Syafi`iyyah harus turun kembali ke ibtidaiyyah. Modal utama yang dimiliki beliau ketika itu adalah hafalan kitab aj-Jurumiyyah, kitab Matan Bina` wa al-Asas, dan Rub`u al-`Ibadat dari kitab Matan al-Ghayah wa at-Taqrib.

Setelah masuk di Tsanawiyyah asy-Syafi`iyyah ini, banyak guru yang kagum dengan kemampuannya dalam membaca dan memahami kitab-kitab sehingga ia pun mendapat prestasi dengan langsung naik kelas dua tingkat, dari kelas satu langsung naik ke kelas tiga, tidak melalui kelas dua dahulu. Ia juga sering menjadi ”penyelamat” bagi seisi kelas, yaitu menyelematkan teman-temannya dari kemarahan KH. Abdullah Syafi`i yang sering sekali marah besar jika murid-muridnya tidak mampu membaca kitab dengan benar. Marahnya akan mereda apabila ada murid lain yang dapat menetralisir dengan membacanya dengan benar.

Selepas tsanawiyah, Saifuddin remaja melanjutkan ke aliyah di perguruan yang sama, asy-Syafi`iyyah. Ada peristiwa yang jarang terjadi ketika di aliyah ini yang menunjukan kapasitas keilmuan Saifuddin remaja ketika itu: Seorang guru memintanya membawa pulang kitab Kifayatul Akhyar milik guru tersebut. Maksudnya, agar ia membacanya di rumah dan ketika pelajarannya nanti ia yang membacanya sedangkan si guru hanya mendengarkannya. Bukan hanya kitab Kifayatul Akhyar saja, tetapi juga kitab-kitab lainnya, seperti kitab Syarah Alfiyah Ibnu Aqil. Ia sangat bersyukur dapat sekolah di asy-Syafi`iyyah karena di tempat inilah pengetahuan dan kemampuan bahasa Arabnya bertambah dan menjadi matang. Hal ini berkat jasa guru-gurunya yang diantaranya berasal dari Pesantren Gontor dan dari Mesir.

Pada akhir tahun 1976, KH. Abdullah Syafi`i menyelenggarakan pengajian yang ditujukan kepada para ulama dan asatidzah. Guru yang diminta untuk mengajar mereka adalah Prof. Ibrahim Hosen dan mualim KH. M. Syafi`i Hadzami. Kitab yang dibaca oleh mualim KH. M. Syafi`i Hadzami adalah kitab Fath al-Mu`in bab mu`ammalah dan kitab Jauhar Maknun. Pemuda Saifuddin yang baru lulus dari Aliyah asy-Syafi`iyyah dan baru menjadi guru sehingga dipanggil ustadz juga diundang untuk mengikuti pengajian tersebut. Ini merupakan kali pertama bagi ustadz Saifuddin Amsir untuk mengikuti pengajian salah seorang guru utamanya ini. Sayangnya, pengajian itu tidak berlangsung lama. Selanjutnya, ia bergabung dengan pengajian mualim KH.M.Syafi`i Hadzami yang diadakan di daerah Rawa Bunga (dulu disebut Rawa Bangke), Jakarta Timur dan setelah KH.M.Syafi`i Hadzami wafat, KH. Saifuddin Amsir menggantikannya untuk mengajar di hampir semua majelis taklim yang pernah diisi oleh almarhum.

Akhirulkalam, tulisan ini diturunkan karena Jakarta Islamic Centre (JIC) memiliki kesamaan dengan KH. Saifuddin Amsir agar Al-Qur`an tetap menjadi bacaan dan sumber pedoman umat Islam, diantaranya dengan mengadakan Pendidikan Penghafalan Al-Qur`an dan Tahsin Qira`ah Al-Qur`an. Bagi Anda yang berminat untuk mengikuti kedua kegiatan ini dan juga ingin mendapatkan kitab Al-Qur`an `Ijaazan wa Khawwashan wa Falsafatan, dapat menghubungi Jakarta Islamic Centre di (021) 4413069 di setiap hari kerja via Zainal Abidin atau di 081314165949.

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

*** .


[1]Wawancara di rumah pribadi, Selasa, 12 Maret 2008.

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Zaitun Rasmin Terpilih Menjadi Ketua Umum Wahdah Islamiyah

Read Next

Al-Quran Terjemah Berbahasa Cina Pertama Ditemukan di Gansu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − 3 =