Alkitab Melayu, Akhir Sengketa “Allah” di Malaysia?

Pemerintah Malaysia pada hari Minggu (3/4) mengijinkan dicetak dan diimpornya Alkitab dalam bahasa Melayu lokal, sebuah langkah yang menuai pujian dari Kristen negara itu. “Aku rasa isu Alkitab ini sangat disayangkan dan sekarang saatnya untuk pengorbanan, rekonsiliasi, dan pengampunan,” ujar Senator Idris Jala, menteri di departemen Perdana Menteri, dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh New Straits Times.

KUALA LUMPUR (Berita SuaraMedia) – Pemerintah Malaysia pada hari Minggu (3/4) mengijinkan dicetak dan diimpornya Alkitab dalam bahasa Melayu lokal, sebuah langkah yang menuai pujian dari Kristen negara itu.

“Aku rasa isu Alkitab ini sangat disayangkan dan sekarang saatnya untuk pengorbanan, rekonsiliasi, dan pengampunan,” ujar Senator Idris Jala, menteri di departemen Perdana Menteri, dalam sebuah pernyataan yang dikutip oleh New Straits Times.

“Dalam sejarah kita sebagai bangsa yang muda, kita telah mencapai banyak hal dalam waktu yang singkat, tapi kita memiliki kekurangan.”

Pemerintah telah mengijinkan umat Kristen untuk mencetak dan mengimpor Alkitab dalam bahasa Melayu lokal.

Dengan keputusan itu, Alkitab yang ditulis dalam bahasa Malaysia, bahasa Indonesia, Iban, Kadazan-Dusun, dan Lun Bawang sekarang diperbolehkan di negara itu.

Idris mengulangi komitmen pemerintah untuk bekerjasama dengan umat Kristen dan kelompok agama lainnya guna mengatasi isu-isu antaragama.

“Aku harap solusi bernilai 10 ini akan diterima positif oleh kelompok Kristen sebagai keputusan yang adil dan wajar,” ujar Idris.

“Pemerintah dan pegawai negeri kita tidak sempurna dan memang semua manusia adalah tidak sempurna dengan indah di mata Tuhan.”

“Dan untuk semua kekurangan kami dalam menangani isu Alkitab, aku berharap umat Kristen akan memaafkan kami,” ujarnya.

Mencetak Alkitab dalam bahasa lokal mengingatkan pada kontroversi yang muncul di Malaysia tentang penggunaan kata “Allah” oleh umat Katolik.

“Allah” adalah kata Arab untuk Tuhan dan memiliki arti yang sama dalam bahasa Melayu.

Pemerintah melarang umat Katolik menggunakan kata itu dalam publikasi mereka, sementara umat Katolik mebantah bahwa penggunaan kata Allah bukan hal baru bagi mereka. Mereka telah memakai kata tersebut selama beberapa generasi dalam doa dan misa Melayu.

Langkah pemerintah itu menuai pujian dari umat Kristen Malaysia.

“Aku baru kembali dari mengunjungi gereja di Sarawak,” ujar Daron Tan, ketua Persatuan Menteri Kuching.

“Para penduduk desa tidak mengetahui seberapa besar isu ini berkembang dan mereka secara alami merasa khawatir. Jadi aku pikir mereka juga menyambut baik keputusan ini.”

Awal bulan ini, pemerintah Malaysia sepakat untuk membebaskan ribuan kopi Alkitab yang menggunakan kata “Allah”.

“Ini memang terlihat canggung dalam hal konsistensi,” ujar Tan.

“Tapi daftar ini segar dan memerlukan studi lebih lanjut untuk memastikan bahwa ini benar-benar mendukung kebebasan beragama, yang merupakan inti sebenarnya dari masalah ini. Karena itu aku harap Perdana Menteri Najib Tun Razak menanggapi ini lebih serius.” (rin/oi) www.suaramedia.com

Write a Reply or Comment

thirteen + two =