ANAK BETAWI PERGI NGAJI “SAMBIL” HAJI

Dulu, bagi orang Betawi yang memiliki keinginan agar anaknya menjadi ulama besar, Makkah adalah tujuannya. Selain bisa ngaji kepada ulama yang terkemuka di sana, si anak juga dapat melaksanakan haji saban tahun karena Ka`bah di depan mata.

Sepulangnya ke tanah air, si anak selain berilmu juga sudah bergelar haji, suatu gelar terhormat di masyarakat Betawi, dan melengkapi pengakuan atas status sosialnya sebagai ulama dengan gelar Kyai Haji. Untuk mewujudkan keinginan ini, apapun dikorbankan dan dilakoni orang tua, semisal menjual tanah, harta benda lainnya atau meminjam uang kepada rentenir.

Karena orang Betawi berpaham Ahlussunnah Wal Jama`ah dan setelah paham Wahabisme menghegemoni ke seluruh institusi pendidikan Islam di Saudi Arabia, bisa dikatakan sekarang ini sangat sedikit orang Betawi yang mengirim anaknya untuk ngaji ke sana, khususnya di Makkah. Terlebih setelah ulama Ahlussunnah wal Jama`ah terkemuka di Saudi Arabia, Sayyid Muhammad Bin Alwi Al-Maliki wafat pada tahun 1995 lalu. Orang Betawi lebih memilih Mesir, Yaman atau Suriah sebagai tempat ngaji anak-anaknya untuk menjadi ulama besar, baik di lembaga-lembaga pendidikan formal maupun non-formalnya. Salah satu alasanya, karena kedekatannya dengan kota Makkah sehingga mudah untuk beribadah haji. Pengalaman anak Betawi yang pergi ngaji “sambil” haji ini direkam dengan baik oleh ulama Betawi dari pengalaman pribadi mereka. Salah satunya adalah KH. Noer Alie, sosok ulama-pejuang dan pahlawan nasional kita.

Waktu itu, tahun 1930-an, anak Betawi yang pergi ke kota Makkah untuk ngaji umumnya disesuaikan dengan musim haji karena kapal laut yang berangkat ke Jeddah, yaitu salah satunya kapal laut Telisce, memang diutamakan mengangkut jamaah haji, selain para pelajar dan barang-barang. Selain itu, mereka yang ke Makkah untuk ngaji atau belajar bisa mendapatkan potongan harga tiket sampai separuhnya. Dengan membayar f 92,5 (harga untuk pelajar yang sudah dipotong lima puluh persen, sedangkan jama`ah haji harus bayar seratus persen atau f 185), anak Betawi dapat berangkat ke tanah suci dengan dilepas sanak keluarga di Pelabuhan Tanjung Priok.

Perjalanan laut ke Jeddah membutuhkan waktu selama dua minggu lebih, menyinggahi beberapa pelabuhan di beberapa negara, seperti Singapura, Kalkuta (India) , sampai Djibouti di Afrika Timur untuk mengisi bahan bakar. Di kapal laut ini jangan berharap mendapatkan kenyamanan seperti naik pesawat terbang karena ukuran kapasitas muatan kapal ditentukan atas timbangan berat, bukan jumlah penumpang. Jadi bisa dibayangkan kesumpekan yang dialami para penumpang, terlebih tidak ada kamar-kamar khusus yang disediakan untuk penumpang dan ventilasi serta sanitasi yang tidak nyaman.

Sering terjadi saat memasuki laut merah dan sudah dekat dengan pelabuhan Jeddah Telisce berhenti di tengah laut dan tidak dapat merapat karena perairan pelabuhan masih sangat dangkal. Untuk sampai ke pantai, para penumpang dijemput perahu-perahu tongkang yang masing-masing memuat sekitar 10 orang ditambah barang-barang penting seperlunya. Sedangkan barang-barang yang berat diangkut dengan tongkang lain. Di pelabuhan Jeddah, jamaah yang berasal dari Batavia disambut oleh Syeikh Al Betawi, yang mengurus jamaah haji atau pelajar Betawi yang akan bermukim di Makkah. Setelah diterima syeikh, semalaman jemaah diasramakan di tempat yang telah disediakan. Keesokan harinya, jemaah bertolak dari Jeddah ke Makkah dengan menggunakan Onta yang membutuhkan waktu dua hari satu malam melintasi wilayah gersang berpasir dengan suhu yang begitu panas dan sampai di Makkah setelah Maghrib.

Bandingkan dengan sekarang yang hanya beberapa jam saja. Di Makkah, jamaah tinggal di penampungan Syaikh Al Betawi yang dipisahkan tempat tinggalnya antara jamaah haji dan pelajar. Pada hari pertama di Makkah, jamaah pada umumnya melakukan thawaf di Baitullah. Walaupun mereka sudah berada di Makkah, mereka belum bisa melakukan ibadah haji karena keberangkatan mereka dari Indonesia pada bulan Rajab sehingga masih beberapa bulan lagi untuk masuk bulan haji (Dzulhijjah). Untuk mengisi waktu, jama`ah haji memperbanyak ibadah sunnah, selain ibadah wajib, terutama di bulan Ramadhan dan juga umroh berkali-kali. Sedangkan yang berstatus sebagai pelajar, mereka mulai belajar atau mengaji.

Di Makkah pada waktu itu, terdapat dua model pendidikan yang dibedakan berdasarkan jenjang dan tempat belajar mengajar, yaitu pendidikan formal dan non-formal. Umumnya, anak Betawi menempuh pendidikan non-formal yang tempat belajarnya tidak di ruang kelas tetapi di Masjidil Haram atau di rumah salah seorang guru mereka yang dipanggil syeikh. Di Masjidil Haram, terdapat sejumlah tempat khusus mengaji yang dipimpin oleh seorang syeikh dengan kepakarannya masing-masing dalam bidang ilmu ke-Islaman. Tempat khusus tersebut di kavling-kavling yang merupakan kesapakatan antara syeikh. Kavling tersebut tidak dibatasi oleh tembok atau pembatas lainnya, hanya diperkirakan saja.

Bagi orang yang pertama kali datang, tentu terasa sulit untuk menentukan batas kavling. Syeikh-syeikh yang terkemuka pada waktu itu antara lain Syeikh Ali Al-Maliki (pengarang kitab Qurratul ‘Ain yang masih dijadikan rujukan bagi kalangan nahdiyin sampai sekarang), Syeikh Umar Hamdan, Syeikh Ahmad Fatoni, Syeikh Ibnul Arabi, Syeikh Muhammad Amin Al-Quthbi, Syeikh Achyadi, Syeikh Abdul Zalil dan Syeikh Umar at-Turki. Saat waktu haji, para pelajar tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk melakukan ibadah haji dan kembali lagi mengaji setelah ibadah haji selesai dilaksanakan.

Hal ini berlangsung selama bertahun-tahun sampai dipandang cukup untuk kembali ke tanah air untuk mengabdi di tengah-tengah umat sebagai kyai haji. Sekarang, tempat-tempat ngaji tersebut tidak ada lagi di Masjidil Haram karena terbentur larangan dari pemerintah. Para syeikh Ahlussunnah Wal Jama`ah yang tersisa dan masih meneruskan tradisi mengajar tersebut di Makkah, mengalihkan tempat pengajiannya di rumah masing-masing. Biasanya setiap musim haji, mereka masih didatangi oleh para pelajar dari Indonesia untuk mengaji walau hanya beberapa hari atau minggu saja, khususnya dari Betawi, yang umumnya tidak lagi berusia muda dan di tanah air sebagian bahkan berstatus sebagai ustadz atau ulama.

Write a Reply or Comment

one × two =