APAKAH ENGKAU INGIN MENJADI PEMBUKA PINTU-PINTU KEBAIKAN? [BAGIAN 2]

JIC – Sudah seharusnya kita belajar, berjuang dan berusaha untuk mewujudkannya, sehingga kita menjadi orang-orang yang membuka pintu kebaikan bagi orang lain dan menutup pintu keburukan. Bukan hanya sebatas angan-angan, dan bukan hanya sebatas klaim atau pengakuan. Akan tetapi, kita harus memahami bagaimana hakikat menjadi pembuka pintu kebaikan, bagaimana mewujudkannya dengan sempurna, dengan senantiasa memohon pertolongan Allah Ta’ala dan mengadu kepada-Nya.

Lalu, bagaimanakah agar kita bisa menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan? Di seri-seri selanjutnya dari tulisan ini, akan kami sebutkan metode-metode agar kita menjadi manusia yang menjadi pintu kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain.

Pertama: Keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik pembuka

Kita hendaknya mengetahui bahwa di antara nama Allah adalah “Al-Fattaah”, bahwa Allah Ta’ala adalah sebaik-baik pembuka.

Al-Fattaah adalah di antara nama Allah Ta’ala. Wajib atas setiap muslim untuk beriman kepada Allah Ta’ala, beriman kepada nama Allah Ta’ala yang mencapai puncak kesempurnaannya, dan beribadah serta mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan nama-nama tersebut. Hal ini dalam rangka mengamalkan firman Allah Ta’ala,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

”Hanya milik Allah-lah nama-nama yang husna. Maka berdoalah kamu dengannya.” (QS. Al-A’raf [7]: 180)

Berdoa kepada Allah Ta’ala yang dimaksud dalam ayat tersebut mencakup doa ibadah (yaitu ibadah kepada Allah Ta’ala secara umum) dan doa permintaan (doa mas’alah).

Bentuk doa ibadah  adalah dengan mengetahui nama tersebut, memahami kandungannya, dan menetapkan sifat yang ditunjukkan oleh nama tersebut. Termasuk di dalamnya adalah dengan mewujudkan penyembahan dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala sesuai dengan konsekuensi dan tuntutan dari keimanaan terhadap nama tersebut.

Nama Allah Al-Fattaah ditunjukkan dalam dua ayat Al-Qur’an, yaitu firman Allah Ta’ala,

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

“Ya Tuhan kami, bukakanlah antara kami dan kaum kami dengan hak (adil) dan Engkaulah sebaik-baik pembuka.” (QS. Al-A’raf [7]: 89)

Dan juga firman Allah Ta’ala,

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

“Katakanlah, “Tuhan kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian dia membuka di antara kita dengan benar. Dan Dia-lah Maha pembuka lagi Maha Mengetahui.” (QS. Saba’ [34]: 26)

Nama Allah Al-Fattaah menunjukkan sifat Allah Ta’ala al-fathu (membuka). Nama Allah Al-Fattaah menunjukkan beberapa makna, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama.

Pertama, Allah Ta’ala membuka di antara hamba-hambaNya dengan syariat-Nya.

Ke dua, Allah Ta’ala membuka di antara hamba-hambaNya dengan balasannya.

Ke tiga, Allah Ta’ala membuka di antara hamba-hambaNya dengan hukum-hukum takdirnya.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya. Dan apa saja yang ditahan oleh Allah, maka tidak seorang pun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Faathir [35]: 2)

Oleh karena itu, langkah pertama dalam masalah ini adalah siapa saja yang ingin menjadi kunci kebaikan, hendaklah dia mengadu kepada nama Allah Al-Fattaah, dalam rangka mendekatkan diri kepada-Nya, merendahkan diri di hadapan-Nya, dan mengharapkan anugerah-Nya dengan penuh ketulusan. Allah Ta’ala tidaklah membuat kecewa setiap hamba yang memanggil-Nya dan Allah tidak akan menolak seorang mukmin yang memiliki harapan dengan apa yang ada di sisi-Nya.

Allah yang membuka semuanya, Allah membuka kita dengan ilmu yang bermanfaat, Allah membuka kita dengan amal shalih, dan Allah membuka kita dengan akhlak-akhlak yang luhur. Sebagaimana perkataan sebagian ulama salaf,

“Sesungguhnya akhlak mulia adalah anugerah Allah. Dan sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Allah akan menganugerahkan akhlak yang mulia kepadanya.”

Allah Ta’ala membagi akhlak di antara manusia, misalnya ada yang lembut tutur katanya dan ada yang kasar, sebagaimana Allah Ta’ala membagi rizki, amal, dan umur manusia. Semua ini adalah dari Allah Ta’ala.

Sehingga perkara pertama kali yang hendaknya kita lakukan adalah mengadu kepada Allah Ta’ala dengan sepenuhnya, karena tidak mungkin kita meraih ilmu, mendapatkan pemahaman, mewujudkan akhlak mulia, atau mewujudkan penghambaan kepada Allah Ta’ala kecuali jika Allah Ta’ala buka kepada kita.

Betapa indahnya ucapan Mutharrif bin ‘Abdillah Asy-Syikhir rahimahullah (salah seorang ulama tabi’in),

لو أخرج قلبي و جعل في يساري، وجيء بالخيرات كلها  و جعلت في يميني، لم أستطع أن أجعل شيئا من هذه الخيرات في قلبي إلا أن يكون الله الذي يضعه

“Seandainya hatiku dikeluarkan dan diletakkan di sebelah kiriku, dan didatangkan semua kebaikan untuk diletakkan di sebelah kananku, maka aku tidak akan mampu memasukkan semua kebaikan tersebut ke dalam hatiku kecuali jika Allah yang meletakkannya di hatiku.” (Hilyatul Auliya’, 2: 201 dan Siyaar A’laam An-Nubalaa’, 4: 190)

Hal ini karena ketetapan itu di tangan Allah Ta’ala.

Oleh karena itu, terkadang kita jumpai seseorang yang mendengar nasihat yang sangat bermanfaat untuk agama dan dunianya, dia mendengar berbagai pintu kebaikan dan pintu keberuntungan, akan tetapi dia menyimpang, sedikit amal kebaikannya dan sedikit yang dia lakukan. Taufik itu hanyalah milik Allah Ta’ala.

Sumber : muslim.or.id

Write a Reply or Comment

18 + 11 =