APAKAH MENIMBUN ‘FILE’ DIGITAL MERUPAKAN SUATU GANGGUAN JIWA? (2)

 

JIC, JAKARTA- Alasan paling umum yang orang berikan untuk tidak menghapus email kantor adalah bahwa surel itu mungkin berguna, bahwa semua email itu mengandung informasi yang mereka butuhkan untuk pekerjaan mereka, atau bahwa mereka dapat berfungsi sebagai bukti bahwa sesuatu telah dilakukan —semua alasan yang benar-benar valid, tetapi sekadar menambah lagi simpanan ratusan email yang mungkin tidak akan pernah Anda lihat lagi.

“Orang-orang sangat sadar bahwa ini adalah masalah, tetapi mereka terhambat oleh cara mereka biasanya melakukan sesuatu,” kata Neave.

“Mereka menerima banyak sekali email ini dan mereka tidak bisa menyingkirkan mereka dan akhirnya jumlahnya makin banyak.”

Dia memperingatkan bahwa penelitian ini masih baru dan kita belum cukup tahu untuk mengatakan apa yang ‘normal’ dan apa yang tidak.

Jadi bagaimana Anda bisa tahu jika Anda memiliki masalah penimbunan digital?

Pikirkan kembali minggu lalu dan lihat apakah Anda dapat mengingat saat ketika Anda berjuang untuk menemukan file digital di ponsel atau komputer Anda —mungkin alamat seseorang di rangkaian email, atau koktail yang benar-benar hebat yang Anda unggah untuk instagram anda.

Ketika mulai mengeksplorasi gagasan tentang penimbunan digital, Darshana Sedera, seorang profesor di Universitas Monash di Australia, melontarkan pertanyaan ini kepada sejumlah orang. Dia menemukan bahwa hampir semua orang dapat mengingat saat mereka berjuang untuk menemukan sesuatu.

Dalam sebuah makalah yang dia presentasikan pada Desember 2018, dia dan mitra penulisannya, Sachithra Lokuge bertanya tentang kebiasaan menimbun file digital kepada 846 orang dan menanyakan pulatingkat stres yang mereka rasakan. Mereka melihat hubungan antara perilaku penimbunan digital dan tingkat stres yang dilaporkan peserta.

Gangguan jiwa terkait menimbun dapat menyulitkan orang untuk membuat keputusan dan dapat memunculkan masalah emosional seperti kesedihan dan kecemasan, kata Sedera.

“Apa yang kami temukan sebenarnya, di ruang digital, sadar atau tanpa sadar, kita semua memasuki kondisi tertekan itu.”

 

Terlalu banyak file digital dapat meningkatkan tingkat stres kitaHak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionTerlalu banyak file digital dapat meningkatkan tingkat stres kita

 

Jo Ann Oravec, profesor teknologi informasi dan pendidikan bisnis di University of Wisconsin-Whitewater, mengatakan bahwa penimbunan belum tentu berkaitan dengan jumlah informasi yang kita simpan. Alih-alih, itu adalah tentang apakah kita memiliki “rasa kendali yang didukung secara empiris” atas data ini. Jika kita lakukan itu, itu bukan menimbun.

Tetapi dia berpendapat bahwa ketika kita semua mulai mengumpulkan lebih banyak data, lebih banyak dari kita akan kehilangan kendali ini.

“Para mahasiswa saya mengatakan bahwa ini semacam perasaan mual, perasaan tak seimbang ketika mereka mulai melihat jumlah foto yang mereka miliki,” katanya.

Tingkat kekacauan digital yang akan menghasilkan perasaan kewalahan akan berbeda untuk setiap orang, kata Neave.

“Jika mereka sampai pada titik di mana mereka menjadi kewalahan oleh data yang mereka punya, bahwa mereka tidak dapat menemukan hal-hal, bahwa segala sesuatunya hilang … itu mungkin mengindikasikan bahwa ada beberapa jenis masalah.”

Jadi mengapa kita semua berada dalam kekacauan ini sejak awal? Platform seperti Google Drive adalah ‘godaan terbuka’ untuk menimbun karena itu membuat kita sangat mudah untuk mengakumulasi file dan hampir tidak pernah meminta kita untuk meninjaunya, kata Oravec.

“Perasaan bahwa sesuatu dapat diambil jika kita hanya menyimpannya di suatu tempat memberikan rasa aman yang salah.”

Dan ada banyak penyimpanan yang tersedia. Dalam studi penimbunan digital Sedera peserta melaporkan bahwa rata-rata dari mereka memiliki akses penyimpanan sebesar 3,7 terabyte.

Beberapa orang berpikir bahwa karena mereka mengaktifkannya, perusahaan teknologi harus membantu memperbaiki kecenderungan penimbunan digital kita.

Sedera percaya orang nantinya tak pusing pada platform manapun untuk mengindeks dan mengkurasi semua data kita di seluruh perangkat, mirip dengan cara kontak di ponsel Anda disinkronkan di seluruh aplikasi.

Oravec setuju bahwa perusahaan teknologi dapat dan harus —memikirkan kembali bagaimana mereka memungkinkan beberapa kecenderungan penimbunan kita.

Tetapi dia juga ingin melihat orang-orang mengambil lebih banyak tanggung jawab untuk mengatur barang digital mereka sendiri, melihat pengarsipan sebagai tugas yang diperlukan seperti pergi ke dokter gigi.

Kurasi ini tidak harus sama menakutkannya dengan saluran akar, dan bahkan dapat dianggap sebagai investasi dalam identitas diri kita di masa depan.

Oravec mengatakan bibinya, yang baru saja meninggal pada usia 100, dengan hati-hati mengumpulkan enam album foto yang mendokumentasikan kehidupannya sepanjang hidupnya.

“Dia memilih dan mengkurasi foto-foto itu dari banyak yang diambilnya saat berlibur atau di reuni keluarga dan mempunyai perasaan yang kuat terhadap dirinya dalam proses ini,” katanya.

Daripada mencaci diri sendiri karena memiliki terlalu banyak surel yang belum dibaca atau terlalu banyak selfie, mungkin lebih baik kita menyisihkan waktu untuk mendapatkan kembali kendali atas kekacauan digital kita – satu album foto virtual sekaligus.

 

 

sumber : bbcindonesia.com

Write a Reply or Comment

18 − nine =