AS-AUSTRALIA DESAK CHINA TUTUP KAMP TAHANAN POLITIK MUSLIM UIGHUR

 

JIC, SYDNEY, — Beberapa negara barat termasuk Amerika Serikat dan Australia telah mendesak pemerintah Cina untuk berhenti menahan warga etnis Uighur dan warga Muslim lainnya dalam kamp tahanan politik. Menurut para aktivis, jumlah warga yang ditahan berjumlah sekitar satu juta orang.

Akan tetapi, Cina terus membantah kritikan dan kecaman terhadapanya bahwa mereka melakukan penahanan massal dan melakukan pengawasan ketat terhadap Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang.

“Kami tidak akan menerima tuduhan bermotif politik dari beberapa negara yang dipenuhi dengan prasangka, dan tidak berdasarkan kenyataan.” ujar Le Yucheng, Wakil Menteri Luar Negeri Cina yang membawa delegasi berjumlah 66 orang ke Dewan HAM PB.

Dalam debat yang berlangsung di Jenewa yang membahas mengenai pelanggaran HAM setiap negara anggota PBB setiap lima tahun dan membicarakan masalah Cina pada Selasa (6/11). Beijing mengatakan negara itu melindungi kebebasan 55 kelompok etnis minoritas di sana.

Selama perdebatan tersebut, “AS mendesak Cina untuk ‘menghapus penahanan tidak berdasar, termasuk kamp penahanan di Xinjiang, dan segera membebaskan ratusan ribu, dan mungkin jutaan orang yang ditahan di sana.” kata ujar pwrwakilan AS Mark Cassayre, dilansir dari ABC Australia.

Wakil Australia dalam debat itu juga menyerukan kepada Cina untuk mengakhiri penahanan tanpa dasar hukum yang jelas di Xinjang, memberikan kebebasan bergerak bagi warga Uighur dan Tibet, dan memberikan akses bagi media dan pejabat ke Xinjiang dan Tibet.

Baik Amerika Serikat dan Australia mendesak Cina untuk membebaskan para aktivis HAM yang dipenjarakan, dengan Cassayre khusus menyebut nama-nama pegiat seperti Wang Quanzhang, Ilham Tohti and Huang Qi.

Ribuan warga Tibet dan Muslim Uighur dari seluruh Eropa menggelar aksi protes di luar kantor PBB di Jenewa (Swiss) selama debat HAM tersebut. Mereka membawa plakat bertuliskan “STOP China Ethnic Cleansing of Uighurs” (Hentikan Pembasmian Etnis Cina terhadap warga Uighur) dan “Tibet dying, China lies” (Tibet sekarat, Cina berbohong).

 

AI Tuntut Cina Hentikan Represi Sistematis

Amnesty International (AI) menegaskan bahwa Cina harus menghentikan represi yang sistematis dan memberikan penjelasan mengenai nasib sekitar satu juga orang mayoritas Muslim yang ditahan secara sewenang-wenang di daerah otonomi Uighur Xinjiang (XUAR). Pemerintah setempat dalam setahun terakhir meningkatkan kampanye penahanan massal, pengawasan intrusif, indoktrinasi politik, asimilasi paksa terhadap etnis Uighur dan Kazakhs serta kelompok etnis lainnya.

Mayoritas keluarga korban tidak mendapatkan informasi mengenai nasib orang-orang yang mereka cintai. Mereka juga ketakutan untuk berbicara mengenai penahanan tersebut.

“Pemerintah Cina tidak boleh diijinkan untuk terus melakukan kampanye kejam ini terhadap etnis minoritas di barat laut Cina. Pemerintah di seluruh dunia harus meminta pertanggung jawaban Cina atas kekejaman yang terungkap di XUAR,” kata Direktur Amnesty International Asia Timur Nicholas Bequelin dalam keterangan tertulisnya, Senin (24/09).

Menurut Bequelin, keluarga etnis muslim tersebut telah cukup menderita. Ratusan ribu keluarga telah tercerai berai oleh kampanye masif ini. Mereka putus asa mencari informasi mengenai apa yang terjadi pada orang-orang yang mereka cintai.

“Sekarang waktunya otoritas Cina memberikan mereka jawaban,” pungkasnya.

Dalam laporan terbaru Amnesty International, “China Where are they? Time for answers about mass detentions in Xinjiang Uighur Autonomous Region“, Amnesty International memaparkan mengenai penderitaan orang-orang yang telah kehilangan kontak dengan keluarga ataupun teman mereka yang yang ditahan di XUAR.

Amnesty International mewawancarai lebih dari 100 orang di luar Cina yang telah kehilangan anggota keluarga mereka di XUAR dan orang-orang yang disiksa di kamp-kamp penahanan disana.

 

 

sumber : panjimas.com

Write a Reply or Comment

1 × 5 =