ASAL-USUL MAJELIS TAKLIM KITAB KUNING DI JAKARTA

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Majelis taklim kitab kuning di Jakarta, khususnya di Betawi, menjadi salah satu institusi pendidikan keislaman non formal yang telah terbukti mampu melahirkan banyak alim ulama, seperti  KH Abdullah Syafi`i, KH Tohir Rohili, Guru Asmat, Muallim KH M. Syafi`i Hadzami, Abuya KH Abdurrahman Nawi, dan lain-lain.  Ada Istilah  yang diberikan oleh salah seorang ulama Betawi terkemuka saat ini, KH Maulana Kamal Yusuf,  untuk menyebut majelis taklim kitab kuning, yaitu pengajian sila. Disebut demikian karena peserta didik dalam melakukan proses pembelajarannya di majelis taklim kitab kuning ini mereka duduk bersila.

Dipilihnya bentuk majelis taklim kitab kuning oleh ulama di Betawi untuk mendidik calon alim ulama sebenarnya meniru dari model halaqah (lingkaran pembelajaran) di Masjidil Haram. Karena pada masa itu, saat kota Makkah berada dalam  kekuasaan Syarif Usman- yang merupakan representasi Kesultanan Ottoman Turki yang menguasai tanah Hijaz-sangat mendorong tumbuhnya iklim intelektual yang kondusif di mana ulama dari berbagai mazhab hukum Islam yang berbeda-beda dapat hidup dan diperbolehkan membuka pengajian dalam bentuk halaqah di Masjidil Haram. Sehingga Masjidil Haram menjadi salah satu sentra utama pendidikan Islam di dunia.  Karenanya, banyak para remaja dan pemuda dari Nusantara, juga dari Betawi, yang belajar ke Masjidil Haram.  Setelah belajar, mereka  pulang kembali ke tanah Betawi menjadi ulama terkemuka dan membuka majelis taklim kitab kuning yang meniru halaqah di Masjidil Haram.

Namun, sejak kapan majelis taklim kitab kuning ini ada di Jakarta?  Dari hasil penelitian Ridwan Saidi dan Alwi Shahab, bahwa Majelis Taklim Habib Ali Kwitang (Habib Ali al-Habsyi) yang pertama kali beraktivitas pada tanggal 20 April 1870 merupakan yang tertua di Betawi.

Habib Ali Kwitang membuka maejlis taklimnya karena mendapatkan izin dari gurunya, Habib Utsman bin Yahya, Mufti Betawi.  Setelah Habib Ali Kwitang wafat, majelisnya diteruskan oleh anaknya, Habib Muhammad al-Habsyi, dan kemudian dilanjutkan oleh cucunya Habib Abdurrahman al-Habsyi. Dari Majelis Taklim Habib Ali Kwitang inilah muncul ulama-ulama besar Betawi, seperti KH Abdullah Syafi`i (pendiri Perguruan Islam Asy-Syafi`iiyyah) dan KH Tohir Rohili (pendiri Perguruan Islam Ath-Thahiriyah).

KH Abdullah Syafi`i juga meniru gurunya. Pada akhir tahun 1976, KH. Abdullah Syafi`i menyelenggarakan pengajian yang ditujukan kepada para ulama dan asatidzah. Guru yang diminta untuk mengajar mereka adalah Prof. Ibrahim Hosen dan Muallim KH. M. Syafi`i Hadzami.  Kitab yang dibaca oleh Muallim KH. M. Syafi`i Hadzami adalah kitab Fath al-Mu`in bab mu`ammalah dan kitab Jauhar Maknun.

Mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami, `allamah di bidang fiqih Asy-Syafi`i yang pengaruhnya sangat luas bahkan sampai hari ini, baik di masyarakat Betawi atau di luar Betawi merupakan ulama produk asli dari binaan banyak majelis taklim kitab kuning  di Betawi. Pada masa menuntut ilmu, tidak kurang dari 11 majelis taklim dengan 11 orang guru yang beliau datangi dalam rangka menuntut berbagai disiplin ilmu agama. Setelah menjadi ulama, beliau pun mengajar tidak kurang di 30 majelis taklim sampai akhir hayatnya. Dari pengajaran majelis taklimnya, terlahir ulama Betawi terkemuka, seperti Abuya KH. Saifuddin Amsir. KH Maulana Kamal Yusuf, Abuya KH Abdurrahman Nawi, dan lain-lain, yang mereka pun juga meneruskan pengajaran di majelis taklim-majelis taklim baik di tempat gurunyan pernah mengajar atau majelis taklim yang dibentuknya atau di majelis taklim yang dimiliki pihak lain.

Keberhasilan majelis taklim-majelis taklim di Betawi dalam mencetak ulama, menurut Abuya KH Saifuddin Amsir paling tidak karena dua hal, yaitu:  pertama, tidak adanya batasan waktu, seperti SKS di perguruan tinggi, untuk menyelesaikan satu disiplin ilmu atau satu kitab; kedua, anak didik atau murid mempunyai kebebasan waktu dan kesempatan untuk menanyakan dan menyelesaikan pelajaran yang tidak dia pahami kepada gurunya; dan ketiga, anak didik atau murid langsung dihadapkan dengan kasus-kasus yang terjadi di masyarakat. Wal hasil, dalam beberapa kesempatan telah teruji bahwa  lulusan majelis taklim memiliki pemahaman ilmu agama yang lebih mendalam daripada lulusan perguruan tinggi Islam. Bahkan menurut beliau, tidak sedikit para sarjana bidang Islam yang bergelar doktor dan profesor menjadikan lulusan majelis taklim sebagai tempat untuk bertanya tentang masalah-masalah yang pelik di bidang keislaman.

Apa yang disampaikan oleh Abuya KH Saifuddin Amsir sangat beralasan karena jika dilihat dari kitab-kitab yang dibahas dan diselesaikan di majelis taklim kitab tidak banyak dikupas bahkan tidak pernah dibahas secara tuntas di perguruan tinggi Islam. Kitab-kitab yang diajarkan majelis taklim-majelis taklim kitab di Jakarta, Betawi, adalah: Syarh Hidayah al-Atqiya` (kitab tasawuf), Ihya Ulumiddin (kitab tasawuf),  Syarh al-Hikam (kitab tasawuf), Kifayah al-Atqiya` (kitab tasawuf), Anwar Masalik (kitab tasawuf), Tanbih al-Mughtarrin (kitab tasawuf), Minhaj al-`Abidin (kitab tasawuf), Tanbih al-Mughtarrin (kitab tasawuf), Sab`ah Kutub Mufidah (kitab fiqih), Fath al-Mu`in (kitab fqih), Bidayah al-Mujtahid (kitab fiqih), Riyadhus Sholihin (kitab hadits), Tafsir Ibn Katsir (kitab tafsir), Shohih Bukhori (kitab hadits), Shohih Muslim (kitab hadits), Mughni al-Muhtaj (kitab fiqih), , Minhaj at-Tholibin (kitab fiqih), Al-Mahalli (kitab fiqih), Fath al-Qorib (kitab fiqih), Tafsir an-Nasafi (kitab tafsir), Kifayatul Akhyar (kitab fiqih), Tarikh Muhammad (kitab sejarah), Fath al-Wahhab (kitab fiqih), Tafsir Munir (kitab tafsir), Tuhfah at-Thullab (kitab fiqih), Al-Itqon Fi `Ulum al-Qur`an (ilmu al-Qur`an), Nail al- Awthar (kitab hadits), dan lain-lain.[1]

Selain kitab-kitab di atas, di antara ulama Betawi yang mempunyai dan memimpin majelis taklim ada yang mengajarkan kitab hasil karyanya sendiri, seperti KH. Muhadjirin Amsar ad-Darry yang mengarang syarah kitab fiqih bulugh al-Maram yang dberi judul Mishbah adz-Dzulaam sebanyak delapan juz. Walau beliau telah wafat, kitab Mishbah adz-Dzulaam sampai sekarang tetap diajarkan di beberapa majelis taklim yang dipimpin oleh muridnya atau milik orang lain, baik di Bekasi, di Jakarta (misalnya di Madrasah al-Wathoniyyah 9 pimpinan KH. Shodri), maupun di daerah lainnya. Selain itu, Kitab Taysir (kitab tajwid) karangan KH. Abdul Hanan Sa`id (almarhum) yang sampai sekarang masih diajarkan di Majelis Taklim Manhalun Nasyi`in yang kini dipimpin oleh murid KH. Ali Saman dan di tempat-tempat lain. Juga kitab-kitab yang dikarang oleh mu`allim KH. M. Syafi`i Hadzami. Kitab karangan ulama Betawi yang sampai diajarkan di luar negeri sampai sekarang, seperti di di Malaysia, adalah kitab ilmu falak, Sullam An-Nayrain karangan Guru Manshur Jembatan Lima. Ada pula kitab Imam Syafi’i fi Madzhabaihi: Al-Qadim wal Jadid yang merupakan kitab fiqih karya Syeikh Dr. Ahmad Nahrawi Abdus Salam dan kitab Mirats yang merupakan kitab hadits (hadits qudsi) karya KH. Abdurrahmin Radjiun bin Muallim Radjiun Pekojan yang sampai saat ini masih diajarkan di beberapa majelis taklim.

Sedemikian pentingnya majelis taklim bagi umat Islam, khususnya masyarakat Betawi, sebagai salah satu tempat utama dan terpenting untuk mencetak ulama masa depan  tentu menjadi sebuah keprihatinan jika melihat kondisi majelis taklim yang secara fisik bangunan banyak yang tidak memadai lagi untuk digunakan. Belum lagi semakin rendah kemampuan para murid dan penyelenggara untuk membiayai operasional majelis taklimnya. Sudah saatnya segenap pihak terkait memperhatian secara lebih serius dan mengambil tindakan nyata untuk menyelamatkan keberadaan majelis taklim-majelis taklim kitab tersebut, yang sebenarnya menyelamatkan keberadaan ulama yang mumpuni untuk generasi sekarang dan akan datang.

Majelis Taklim Kitab Kuning dan Sanad Keilmuan

Majelis taklim kitab kuning di Jakarta atau Betawi memiliki beberapa ciri khas, salah satunya adalah memiliki sanad keilmuan (genealogi intelektual). Di Betawi, sanad keilmuan dapat dengan mudah terlihat jika kita berkunjung ke rumah seorang ulama. Biasanya di depan rumah atau di ruang tamu terpajang sebuah bagan genealogi intelektual si pemilik rumah yang terbingkai indah dan ditulis dalam bahasa Arab. Tertulis di paling bawah dari bagan tersebut adalah nama si pemilik rumah yang tersambung sampai ke Rasulullah saw. Itulah sanad, silsilah keguruan, yang silsilah itu sampai ke pemilik rumah melalui sertifikasi yang ketat dalam bentuk pemberian ijazah. Ijazah diberikan kepada pemilik rumah oleh gurunya dalam bentuk pernyataan, dia antaranya melalui perkataan, ”`ajaztuka!” yang artinya, ”Aku mengijazahkan (limu ini) kepadamu!”. Gurunya si pemilik rumah juga mengalami hal yang sama, yaitu mendapatkan ijazah dari gurunya dan begitu seterusnya yang silisilah atau sanadnya sampai kepada Rasulullah SAW.

Satu ijazah diberikan untuk satu disiplin ilmu keislaman; dan pemberian ijazah tersebut sangat ketat. Tidak semua murid mendapatkan ijazah sebuah disiplin ilmu keislaman, hanya murid yang sudah mengusai ilmu tersebutlah yang layak mendapatkan ijazah dari gurunya.  Pernyataan yang dipopulerkan oleh seorang ulama terkemuka, Abu Yazid Al-Bustami, yaitu ”Man La Syaikhah, Fasysyaithanu syaikhah.  Barang siapa yang tidak mempunyai guru (belajar tanpa guru, termasuk hanya baca dari buku saja), maka Syaitanlah gurunya,” memiliki pengaruh kuat sehingga tradisi ijazah keilmuan di kalangan Ahlussunnah Waljama`ah tetap ada dan terjaga dengan baik. Maka, orang-orang tua di Betawi umumnya tidak akan sembarangan memasukkan anaknya ke tempat pengajian. Mereka akan cari tahu terlebih dahulu ijazah termasuk sanad dari guru anaknya. ***

[1]Ibid. h. 27-28.

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

SRIWIJAYA: ‘HARTA KARUN PENINGGALAN ERA KERAJAAN’ DIJUAL KE TOKO EMAS, MATA RANTAI SEJARAH PUTUS (2)

Read Next

MUHAMMADIYAH IMBAU PEMERINTAH TAK LARANG MINYAK CURAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 × one =