BANGUN MASJID, DUA KRISTIANI DAPAT PENGHARGAAN PM UEA

epa06748820 A general veiw of the illuminated Sheikh Zayed Mosque , Abu Dhabi, United Arab Emirates, 17 May 2018. Muslims around the world celebrate the holy month of Ramadan by praying during the night time and abstaining from eating, drinking, and sexual acts during the period between sunrise and sunset. Ramadan is the ninth month in the Islamic calendar and it is believed that the revelation of the first verse in Koran was during its last 10 nights. EPA-EFE/ALI HAIDER

 

Suasana masjid di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.   Foto: Ali Haider

Kedua pemeluk Kristiani tersebut mengajarkan toleransi antarumat beragama.

JIC, ABU DHABI — Apa yang dilakukan seorang pengusaha Kristen dengan membangun masjid untuk umat Muslim dan seorang pendeta yang mengajarkan toleransi begitu menyentuh para petinggi di Uni Emirat Arab (UEA). Kedua orang itu mendapat apresiasi berupa penghargaan terkait toleransi dari Perdana Menteri UEA Syekh Mohammed bin Rashid Al Maktoum.

Dilansir Khaleej Times, Kamis (28/11), pengusaha India bernama Saji Cheriyan sempat menjadi pemberitaan setelah dirinya membangun sebuah masjid untuk umat Muslim di Fujairah pada 2018. Cheriyan adalah seorang penganut Kristen ortodoks dari Kerala.

Ia pun memperoleh pujian atas rasa belas kasih dan kemanusiaannya setelah membangun Masjid Mariam Umm Eisa di kawasan Industri Al Hail untuk ribuan pekerja Muslim yang sebelumnya harus berjalan jauh saat hendak beribadah. Cheriyan pun mengatakan penghargaan yang diberikan dari Syekh Mohammed adalah saat tak terlupakan dalam hidupnya.

“Ini adalah hadiah ulang tahun terbaik yang saya dapatkan. Saya bahkan tak membayangkan gerakan kecil yang saya lakukan akan diapresiasi negara ini. Sebagai seorang India yang sudah tinggal di negara ini selama sekitar 15 tahun terakhir, jelas ini merupakan momen paling membanggakan bagi saya,” kata Cheriyan yang akan berusia 50 tahun pada Desember nanti.

Cheriyan pun merasa gugup saat berbincang dan menerima beberapa pertanyaan dari Syekh Mohammed. Cheriyan mengungkapkan dirinya sempat mendapat beberapa pertanyaan dari Syekh Mohammed, diantaranya alasannya membangun masjid serta tentang distribusi iftar yang dilakukannya pada 28 ribu jamaah.

“Saya tak punya kata-kata untuk berterima kasih kepada negara ini. Kami semua hidup di sini, menghasilkan uang dan kembali ke negara kami. Namun saya pikir ini adalah tanggung jawab kami memberi kembali pada negara ini. Saya terinspirasi oleh penghargaan ini untuk berbuat lebih banyak bagi UEA yang sudah menjadi rumah bagi saya selama 15 tahun terakhir,” katanya.

Sementara itu, bagi pendeta Anglikan Canon Andrew Thompson, memperoleh penghargaan pionir UEA merupakan seruan bagi semua orang untuk bergabung pada toleransi. “Penghargaan ini adalah pesan masih ada harapan di dunia ini, harapan kita semua bisa hidup bersama meskipun ada perbedaan,” kata Thompson yang merupakan pendeta senior di Gereja St Andrew di Abu Dhabi.

Thompson mengatakan penghargaan itu sebagai kejutan yang besar. Pendeta Thompson telah tinggal di UEA selama lebih dari dua dekade. Dia juga telah menulis sebuah buku berjudul Merayakan Toleransi: Keragaman Agama di Uni Emirat Arab yang dirilis pada Februari lalu bertepatan dengan tahun toleransi di UEA.

“Penghargaan ini memperkuat cintaku pada UEA. Ini mengingatkan jantung dunia Islam, negara ini telah membuka pintunya bagi orang-orang dari semua latar belakang,” katanya.

Gereja St Andrew memiliki sekitar 15 ribu umat dan lebih dari 80 jemaat dari seluruh dunia. Gereja itu dibangun pada 1984 di atas tanah yang diberikan pemimpin UEA.

Sumber : Republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

ESAI : NU MENGGEMAKAN SHALAWAT DI EROPA

Read Next

IKUTILAH KAJIAN AHAD DHUHA DI JIC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − five =