BEGINI KETERKAITAN ULAMA NUSANTARA DAN ULAMA DAGESTAN

Sufisme atau tasawuf sangat melekat dengan tradisi keislaman masyarakat Dagestan. Foto: muslimstoday.info

Hubungan ulama kedua wilayah tersebut terjalin kuat abad ke-19

JIC, JAKARTA— Jaringan intelektual antara ulama Nusantara dan Dagestan, Rusia sangat kental, namun sayangnya tak banyak temuan ilmiah terkait hal ini.

Menurut Direktur Islam Nusantara Center Ahmad Ginanjar Sya’ban, jika jaringan intelektual yang terjadi antara ulama Nusantara-Kurdistan ini sudah dikaji secara akademik oleh guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Azyumardi Azra dan juga Prof Martin Van Bruinessen, jaringan intelektual ulama Nusantara-Dagestan belum ada yang mengkajinya secara mendalam.

“”Padahal, jika ditelusuri secara seksama, akan ditemukan sebuah fakta sejarah jika ulama Nusantara memiliki jaringan intelektual, genealogi keilmuan, dan transmisi ilmiah yang sangat kuat dengan ulama Dagestan,”kata dia dalam keterangannya kepada Republika.co.id di Jakarta, Kamis (11/10).

Poros ulama Nusantara-Dagestan itu, ungkap alumni al-Azhar Kairo Mesir ini, dirajut dan dipertemukan di Haramayn (Makkah-Madinah), sebagaimana halnya poros Nusantara-Kurdistan. Informasi mengenai biografi dan jaringan intelektual ulama Dagestan-Timur Tengah dapat ditemukan dalam buku kamus biografi berbahasa Arab berjudul Nuzhah al-Adzhan fi Tarajim ‘Ulama Daghastan karangan Nadzir Muhammad Haj al-Durkali al-Daghastan (w. 1353 H/ 1934 M).

Salah satu ulama besar asal Dagestan yang hidup pada abad ke-19 dan berkarier sebagai guru besar di Makkah, ungkap dia, adalah Syekh ‘Abd al-Hamid Husain al-Syirwani al-Daghastani tsumma al-Makkî (Syaikh Abdul Hamid Syirwani, (w 1301 H/ 1884 M).

Beliau adalah seorang ulama fikih terkemuka dan sufi besar pengikut tarekat Naqsyabandiah. Karya monumentalnya adalah Hâsyiah al-Syirwânî ‘alâ al-Tuhfah (Tuhfah al-Muhtâj karangan Ibn Hajar al-Haitami al-Makki, w. 1566 M). “Kita ini sering dikaji di pesantren-pesantren di Indonesia sampai sekarang,”kata Ginanjar.

Dia mengatakan, Syekh Abdul Hamid Syirwani tercatat satu angkatan dengan Syaikh Ahmad Zainî Dahlân (w 1886 M), mufti Mazhab Syafi’i di Makkah sekaligus guru dari beberapa ulama Nusantara seperti Syaikh Nawawi Banten (w 1897), Sayyid Utsman Batavia (w 1913), Syekh Ahmad Khatib Minangkabau (w. 1916), dan lain-lain.

“Sebagaimana jamak diketahui, ulama-ulama yang disebutkan itu adalah mahaguru dan poros sentral jaringan ulama Nusantara di Makkah pada akhir abad ke-19 M,” ungkap Ginanjar.

Ginanjar menyebutkan salah satu putra Syaikh Abdul Hamid Syirwani, kata Ginanjar, yaitu Syekh Mahmud ‘Abd al-Hamid al-Syirwani (w 1314 H/ 1896 M), berhijrah ke Nusantara dan menjadi ulama besar di Kesultanan Pontianak hingga wafat dan dikebumikan di Pontianak, tepatnya di Kompleks Pemakanan Kesultanan Qadriah.

Menurut Ginanjar, Syekh Mahhmud Syirwani menjadi guru beberapa ulama Nusantara dari Kesultanan Qadriah di Pontianak. Putri beliau, Fatimah b. Mahmud Syirwani, menikah dengan salah satu putra kerabat kesultanan. Biografi Syekh Mahmud Syirwani ini pernah diulas Wan Shagir Abdullah di harian Utusan Malaysia edisi 26/06/2006 dalam artikelnya yang berjudul “Syeikh Mahmud Syarwani dari Mekah Berhijrah ke Nusantara”.

Ginanjar menambahkan, ulama Dagestan lainnya yang terhubung dengan jaringan intelektual ulama Nusantara adalah Syaikh ‘Abd al-Karim Hamzah al-Daghastani tsumma al-Makki (w 1338 H/ 1920 M).

Menurut Ginanjar, Tokoh ini mengajar beberapa cabang ilmu di rumahnya di Makkah, seperti tafsir, hadits, fikih Mazhab Syafi’i, dan tasawuf. Beliau juga tercatat sebagai kawan dekat beberapa ulama Nusantara di Makkah yang berkarier awal abad ke-20, seperti Syekh Mahfuzh Tremas, Syekh Baqir Jogja, Syekh Ahmad Nahrawi Banyumas, Syekh Mukhtar Bogor, Syekh Abdul Qadir Mandailing, dan lain-lain

sumber : republika.co.id

Write a Reply or Comment

3 × four =