BENTUK-BENTUK PENYIMPANGAN DI JALAN DAKWAH (BAGIAN KE-1: PENYIMPANGAN TUJUAN) (2)

Urgensi Keikhlasan

JIC, JAKARTA- Karena keikhlasan dan segala akibatnya merupakan masalah mendasar, maka ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Nabi banyak membicarakannya, misalnya:

“Katakanlah, sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan aku diperintah agar menjadi orang pertama yang menyerahkan diri.” (Az-Zumar: 11-12)

“Katakanlah, hanya kepada Allah aku menyembah dengan mengikhlaskan ibadahku kepada-Nya”. (Az-Zumar: 14)

“Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Rabb sekalian alam, tanpa menyekutukan-Nya, demikian itu diperintahkan kepadaku.”

“Ingatlah, hanya kepada Allahlah pengabdian yang ikhlas itu”. (Az-Zumar: 3)

“Dan mereka tidak diperintahkan melainkan mereka menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya, dengan menjauhi kesesatan”. (Al-Bayyinah: 5)

“Sesungguhnya semua amal itu akan diterima sesuai dengan niatnya”. (Bukhari dan Muslim)

“Dari Abu Hurairah RA ia berkata; Rasulullah SAW telah bersabda, ‘sesungguhnya Allah tidak menilai penampilan atau bentukmu, tetap Allah menilai hatimu’”. (HR. Muslim)

“Dan dari Abu Musa Abdullah bin Qays al-‘Asy’ari RA ia berkata, ‘Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena ingin dikatakan berani, fanatisme golongan, dan riya’. Manakah yang bernilai sabilillah? Rasulullah menjawab, ‘Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah bisa ditegakkan maka sesungguhnya ia telah berperang di
jalan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Demikian pentingnya keikhlasan dalam berdakwah; sehingga, Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna menjadikannya salah satu rukun baiat yang ke-10. Semua orang wajib komitmen dengannya. Menepati dan menjaganya dari segala bentuk noda, agar tidak melanggar baiatnya.

Menurut Hasan Al-Banna, pengertian ikhlas, ialah menunjukkan semua ucapan, amal dan jihadnya hanya kepada Allah semata. Karena mencari ridha dan kebaikan pahala-Nya, tanpa mengharapkan keuntungan, popularitas, kehormatan, reputasi, kemajuan atau keterbelakangan. Dengan keikhlasan ini  seseorang akan menjadi pengawal fikrah dan aqidah. Bukan pengawal kepentingan dan keberuntungan.

Firman Allah:

“Katakanlah Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah karena Rabb sekalian alam, tanpa menyekutukan-Nya, demikianlah aku diperintahkan.” (An-An’am: 162-163)

Dengan demikian, seorang muslim dapat memahami makna doktrin “Allah tujuan kami” dan “Allahu Akbar Walilahil Hamdu.”

Menepati janji kepada Allah dengan tanpa mengganti dan menggeser niat sampai ajal tiba, merupakan salah satu kewajiban seorang prajurit dakwah. Sehingga orang tersebut masuk dalam golongan yang dimaksud Allah dalam firman-Nya:

“Dan di antara orang-orang yang beriman adalah yang menepati janjinya kepada Allah, maka di antara mereka ada yang telah syahid, dan ada yang masih menunggu-tunggu, tanpa mengubah janji mereka sedikit pun. Supaya Allah membalas orang-orang yang munafiq jika Ia menghendaki atau mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Ahzab: 23-24)

Sumber: dakwahtuna.com

Write a Reply or Comment

13 − six =