BENTUK-BENTUK PENYIMPANGAN DI JALAN DAKWAH (BAGIAN KE-1: PENYIMPANGAN TUJUAN) (3)

Macam-macam Penyimpangan

JIC, JAKARTA- Kita harus waspada dalam menjalani cobaan berat berupa kesengsaraan dan malapetaka. Kita tidak boleh beranggapan telah lulus dari ujian. Padahal tidak tertutup kemungkinan akan gagal menghadapi cobaan lain. Misalnya cobaan keduniaan dengan segala kemewahan yang memesona. Karena hal itu menjadi kebiasaan musuh-musuh Allah dalam memerangi para prajurit dakwah.

Selain menguji dengan penderitaan juga membujuk dengan kemenangan dunia, kedudukan, dan segala macam fasilitas. Dengan itu, banyak orang tertipu dengan termakan oleh bujuk rayu mereka. Celakanya, orang-orang yang tertipu ini selalu mengatasnamakan amal Islami, dan berdalih untuk kepentingan Islam. Padahal mereka pembohong besar.

Jika kehidupan Rasulullah diukur dengan materi, maka beliau benar-benar orang yang sangat berkekurangan. Tidak sulit bagi beliau kalau mau menjadi orang yang paling mewah sekalipun. Beliau tidak suka hal itu. Rasulullah SAW lebih suka memberikan teladan kepada kita dalam zuhud dan enggan dengan kemewahan dunia, serta keutamaan yang ada di sisi Allah. Dunia, bukan negeri abadi dan bukan tempat kenikmatan. Apalagi kemewahan itu sering kali membawa kesengsaraan dan kehinaan.

Mari, Rasulullah kita jadikan sebagai pemimpin dan panutan dalam mengemban amanah dakwah ini. Meneladaninya, serta lebih berhati-hati terhadap fitnah dunia.

Kisah para tukang sihir di dalam AI-Quran; yang imannya dapat mengubah dan meluruskan neraca dirinya, dapat kita ambil sebagai pelajaran. Di siang hari mereka datang bertujuan menjilat Fir’aun untuk memperoleh harta dan kedudukan. Namun, tiba-tiba mereka menjadi beriman (kepada Allah). Sehingga intimidasi berupa penyiksaan sadis dari Fir’aun, mereka hadapi dengan tidak gentar.

Firman Allah:

“Mereka (para penyihir) berkata, “Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini. Kami benar-benar telah beriman kepada Tuhan kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah engkau paksakan kepada kami. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).” (Thaha: 72-73)

Demikianlah, neraca kebenaran menjadi lurus kembali. Jika sikap para tukang sihir Firaun saja telah beriman seperti itu. Maka pantaskah bagi orang yang sedang lama orientasi hidupnya secara tulus dipersembahkan karena Allah?

Penyakit hati lainnya, ialah bila seseorang merasa dirinya lebih berpengalaman; la merasa lebih cerdas, lebih baik analisisnya terhadap setiap persoalan. la merasa lebih pintar tentang seluk-beluk politik dan cara melakukan perlawanan terhadap para musuh ketimbang orang lain. la merasa lebih super ketimbang orang lain. Menghina (meremehkan) peran orang lain. Meskipun ia orang yang banyak berjasa dalam dakwah.

Mereka itu, kalau mewujudkan suatu kebaikan dalam dakwah akan mengatakan, keberhasilan itu karena kemampuan dan kejeniusannya semata. la lupa akan karunia Allah, pertolongan dan taufiq-Nya. Padahal, tanpa karunia Allah, tidak akan terwujud suatu kebaikan. Hal ini, mengingatkan kita kepada sikap Qarun yang mengatakan:

“Aku peroleh ini semua adalah karena kepandaianku semata”. (Al-Qashas: 78)

Kami merasakan bahwa penyakit “ego sentris” juga dapat merusak dakwah. Mereka yang mengidap penyakit ini lebih suka mencari orang untuk menjadi pengikutnya sendiri daripada untuk menjadi pengikut jamaah. Hanya manusia-manusia setipe yang mau mendekatinya.

Kita hendaknya tidak mengikatkan diri dengan orang yang punya tipe tersebut. Meskipun, mereka itu mempunyai kedudukan dan kelebihan. Karena, itu merupakan sikap ular. Sedang ular sangat sulit dikendalikan bisanya.

Ketahuilah, orang yang berpenyakit semacam itu tidak pernah mau mengaku dirinya berpenyakit. Kemungkinan, karena ketidaktahuannya atas keberhasilan tipu daya iblis kepadanya. Akibatnya, penyakitnya semakin parah. Kita berkewajiban menyadarkan orang lain yang tidak mengikutinya. Orang-orang tersebut kadang-kadang membenarkan sikap ambisi pribadinya, dengan dalih kemaslahatan dakwah atau umat; bukan untuk kepentingan pribadi. Misalnya, keikutsertaannya dalam satu pemerintahan thaghut (pemerintahan yang tidak menjalankan hukum Islam), semata-mata untuk kepentingan Islam. Ia menganggap perbuatannya itu sebagai taktik dakwah. Bahkan ia menuduh orang lain terlalu picik dalam menilai kemaslahatan dakwah. Seandainya di situ ada nilai kemaslahatan, apakah hanya dirinya saja yang berhak menilai?

Perlu diketahui, keberadaan mereka yang berwatak semacam itu dalam shaf setelah tidak mau diperbaiki lebih membahayakan ketimbang melakukan pembersihan shaf. Maka, tidak dapat diterima sikap sebagian orang yang dengan niat baik mentolerir mereka. Karena khawatir terjadi perpecahan dan takut kehilangan potensi mereka. Akhirnya dengan keberadaan mereka dalam shaf tidak hanya mereka yang dinilai menyimpang, tetapi shaf (barisan) tersebut juga menyimpang. Pembahasan masalah penyimpangan tujuan ini kita akhiri dengan mengutip kata-kata Syahid Sayyid Quthb:

“Satu demi satu anggota jamaah diserang kerontokan. Mereka akan gugur seperti daun kering yang jatuh dari pohon besar. Kemudian musuh menggenggam salah satu ranting pohon tersebut disertai anggapan, dengan tercabutnya ranting pohon tersebut akan dapat menghancurkan seluruh pohon itu, sehingga apabila telah tiba saatnya dan ranting pun dicabut, maka keluarlah dari genggamannya seperti kayu kering, tidak mati dan tidak pula hidup, sedangkan pohon tersebut tetap utuh seperti semula.” (dakwatuna/nnn)

Referensi: Syaikh Mushthafa Masyhur, Fiqih Dakwah, Jakarta, Al-I’tishom Cahaya Umat, 2000

— Insya Allah bersambung

Sumber:dakwahtuna.com

Write a Reply or Comment

6 − 1 =