BERBAHAGIALAH KARENA ALLAH MEMBERIKAN PAHALA ATAS PEKERJAAN KITA

 

JIC – Suatu kali dalam sebuah majelis, Rasulullah SAW menciumi tangan seorang budak hitam yang kasar, penuh dengan kapal yang menghitam. Semua sahabat yang hadir merasa heran. Bukankah seharusnya budak hitam itu yang menciumi tangan Rasulullah? Tetapi mengapa Rasulullah yang mencium tangannya?

Apa pekerjaanmu, wahai Fulan?” tanya Rasulullah, “Aku adalah seorang buruh pemecah batu. Dengan memecah batu itulah aku memberi makan istri dan anakku.” Rasulullah pun merasa girang, lantas berkata, “Tangan inilah yang mengantarmu ke surga.” Kata Rasulullah sambul memperhatikan tangannya yang kasar dan penuh kapal.

Berbahagaialah dengan kesusahan dan kekerasan kita dalam bekerja, walaupun kita tidak mendapatkan upah yang memadai. Ketahuilah, sesungguhnya Allah sangat berbangga dengan kerasnya pekerjaan kita dan dengan itu kita menghidupi anak dan istri.

Seperti cerita di atas, Allah tidak melihat pekerjaan kita, tetapi yang dilihat adalah kesungguhan dalam bekerja di jalan yang halal. Nafkah yang biarpun sedikit, namun diperoleh dengan jalan yang benar dan tetap menjaga hak-hak Allah (halal dan haramnya), jauh lebih baik daripada harta yang banyak, tetapi dengan mengabaikan halal-haramnya.

Mari kita ingat-ingat kisah seorang penambal ban yang bisa naik haji, atau tukang becak bisa menyekolahkan anaknya tinggi-tinggi, bahkan sampai sarjana? Karena mereka menjaga kehalalan rezeki yang akan diberikan pada anaknya, menyisihkan sebagian harta untuk orang lain, di mana dalam setiap harta kita ada sebagian milik orang lain, dan mereka merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah.

Karena memperhatikan hak-hak Allah, maka rezekinya menjadi berkah. Walaupun sedikit, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhannya, termasuk untuk bersedekah. Terkadang kita heran, bagaimana hal itu terjadi? Tetapi Allah adalah sebaik-baik perencana, DIA telah mengatur rezeki hambaNya yang berhati-hati dengan kehalalan dan keharaman hartanya.

Dalam hal rezeki, jangan pernah sekalipun kita mendongak ke atas. Begitu pula dengan masalah pekerjaan, janganlah kita menginginkan seperti orang-orang yang dimudahkan mendapatkan harta, walaupun pekerjaannya sangat sepele. Sebab, siapa tahu harta yang banyak itu didapatkan dengan jalan curang, korupsi, penggelapan proyek dan lain sebagainnya.

Ketahuilah, Allah lebih suka orang yang satu ini, “Seorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar, lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik dari seorang yang meminta-minta kepada orang-orang, yang terkadang diberi dan kadang ditolak.” (Mutafaq ‘Alaih)

Nabi-nabi terdahulu adalah seorang pekerja, Nabi Nuh seorang tukang kayu, Nabi Ibrahim seorang pedagang, Nabi Musa pernah bekerja memerah susu kepada Nabi Syu’aib, Nabi Daud seorang pandai besi, adapun Nabi Muhammad SAW adalah seorang penggembala dan pedagang. Sekalipun mereka nabi, bukan berarti hidup mereka bertopang dagu. Mereka bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dari keringatnya sendiri. Kelelahan yang mereka rasakan sama dengan kelelahan kita hari ini. Lantas, mengapa kita menjadi berkecil hati?

Jangan berkecil hati pekerjaan kita hari ini. Jika kita telah berada di jalan yang benar dengan memperhatikan dan menjaga perihal halal dan haram, walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan, itu jauh lebih baik daripada mereka yang mengeruk harta yang banyak, namun dengan jalan yang haram. Jangan pernah iri atau berkecil hati dengan orang seperti itu.

Sumber : Buku La Tahzan Wahai Muslim Muslimah, 100 Jalan Mudah Menuju Bahagia

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

REMAJA MASJID BERSEJARAH DIBEKALI KEMAMPUAN MULTIMEDIA

Read Next

GELAR WISUDA HAFIDZ ALQURAN, KEMENAG DAN UICCI BERANGKATKAN 136 SANTRI UNTUK BELAJAR KE TURKI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 + 14 =