Berharap pada Radio Dakwah

Sarana dakwah banyak al ternatifnya. Salah satunya, memanfaatkan radio un tuk menyampaikan ajaran Islam. Banyak radio dakwah yang sudah memulai langkahnya untuk menyapa pendengarnya. Daya jangkaunya luas. Cendekiawan Muslim Adian Husaini menganggap radio dakwah sangat potensial.
Ia pun memberi masukan agar mengajarkan ajaran Islam lewat radio, tak hanya berupa ceramah.

Sarana dakwah banyak al ternatifnya. Salah satunya, memanfaatkan radio un tuk menyampaikan ajaran Islam. Banyak radio dakwah yang sudah memulai langkahnya untuk menyapa pendengarnya. Daya jangkaunya luas. Cendekiawan Muslim Adian Husaini menganggap radio dakwah sangat potensial.
Ia pun memberi masukan agar mengajarkan ajaran Islam lewat radio, tak hanya berupa ceramah.


Sebenarnya, memungkinkan pula dalam bentuk berita, feature, dan sandiwara agar lebih variatif. Dari keberadaan radio dakwah, Aliansi Radio Islam Indonesia (ARIN), punya harapan kelak lahir kantor berita Islam. “Dengan gelombang radio kita sebar kan visi untuk menjadi acuan peradaban umat Islam. emikian diungkapkan Kasubag Humas Pengkajian dan Pengembangan Islam, Jakarta Islamic Centre (JIC), Paimun Abdul Karim, Selasa (14/6). Menurut dia, radio memungkinkan dakwah menyambangi seluruh lapisan masyarakat.


Di samping rentang yang luas, ia mengatakan biaya yang dikeluarkan tak begitu besar. Media dakwah yang masih terjangkau biayanya, papar dia, adalah radio.
Dan, JIC pun ikut berpartisipasi dalam dakwah ini dengan membentuk Radio JIC di dua frekuensi sekaligus, yaitu 107.7 FM dan 1152 AM.

Radio ini mengusung semangat menjadi pusat peradaban Islam, terutama di bidang pendidikan. Acara dikemas dengan sebaik mungkin, mencakup 3-H, yaitu Head, Heart, dan Hand. Dengan konsep ini, imbuh Paimun, Radio JIC berusaha menggu gah potensi intelektual, spiritual, dan keterampilan pendengarnya.

Semua itu dibingkai dalam bentuk radio komunitas masyarakat Muslim berbasis kemasjidan. Meskipun berstatus radio komunitas di area Masjid JIC, Jalan Kramat Jaya, Tugu, Koja, Jakarta Utara, pendengarnya tersebar luas. Mereka ada di area Jakarta, Bogor, Bekasi, dan Karawang.

Bahkan, siaran dakwah Radio JIC sampai hingga sebagian daerah Madura, Lampung, Pontianak, dan Bangka Belitung.

“Siaran Subuh kami biasa dinikmati oleh para penyadap karet di sejumlah perkebunan,“ kata Paimun. Siaran ini dirasakan sebagai rahmatan lil alamin.

Ia menginformasikan, syiarnya kini kian hari semakin luas. Indikasinya, jelas Paimun, perayaan milad pertama beberapa waktu diramaikan oleh sekitar 2.000 pendengar. Begitu pula, ada sekitar 1.600 penggemar Radio JIC di jejaring sosial facebook. Hasil manis ini tak lepas dari proses yang cukup panjang.

Sejak pertengahan 2004 lalu, manajemen JIC ingin membentuk radio komunitas. Saat itu mereka belum mempunyai izin siar. Solusinya mereka siaran bersama dengan menumpang frekuensi di bebera pa radio swasta komersial, seperti Bens Radio, Ras FM, Radio Multazam, dan beberapa radio swasta lainnya.

Pertengahan tahun 2009, ada kesepakatan membangun radio komunitas sendiri, tetapi masih mengusung identitas radio komunitas sekitar masjid. Pemilihan identitas itu dengan pertimbangan karena pendekatan langsung ke komunitas sangat penting untuk merangkul jamaah agar lebih aktif dalam kegiatan di masjid.

Setelah mendapat izin siar, akhirnya Radio JIC mengudara di dua frekuensi untuk mempertahankan pendengar setianya.

Materi siaran yang disajikan sejak pukul 03.30 WIB hingga 24.00 WIB setiap harinya menjadi kian beragam. Mulai dari Al Ma’surat Pagi, Renungan, Tahrim, Adzan Subuh, Asmaul Husna, dan Murattal Alquran Pagi.

Keilmuan Islam juga tersaji dalam Khairu Ummah serta Bincang Pagi. Khusus segmen muslimah, Catatan Ummi menjadi pilihan utamanya. Bagi pebisnis dan mahasiswa ada program The Secret serta Aktivis.

Pendengar dimanjakan dengan bahasan Riyadhush Shalihin. Netralitas dipelihara dengan baik.

“Siaran kami tak memihak aliran ter tentu karena radio ini milik umat yang membawa suara masjid dan peradaban,“ papar Paimun. Prinsip ini membawa kepuasan tersendiri bagi Paimun dan rekanrekannya di Radio JIC. Sebab, mereka menjangkau seluruh masyarakat dari anak-anak, Muslimah, pebisnis, tokoh masyarakat, hingga ulama.

Saking luasnya jejaring radio ini, mereka tak kesusahan mencari narasumber ataupun pengisi acaranya. Lantaran, mereka dekat dengan berbagai kalangan. Paimun mengatakan, Radio JIC fokus pada segmen usia 25 hingga 40 tahun. Tak hanya itu, meski sudah kondang Radio JIC tak begitu saja memanfaatkan peluang untuk meraup iklan. Mereka masih memberi batasan-batasan untuk pengiklan. Langkah ini untuk membedakan dengan radio komersial lainnya. Sekaligus menjaga citra komunitas yang telah terbentuk.

Sajian dakwah ternyata juga tak melulu identik dengan kajian agama yang monoton. Radio Silaturahim (Rasil) 720 AM menawarkan khazanah lain.

Di beberapa jeda siaran atau insert, mereka menyiarkan dialog-dialog bernada humor tentang akidah Muslim. “Meski bernada humor, semangatnya mengajak pada kebaikan dan ibadah,“ jelas Creative Manager Rasil, Krisna Purwana.

Pilihan ringan dan menghibur menjadi kekhasan Rasil. Alasannya, fungsi radio sebagai sarana hiburan masyarakat. Krisna menjelaskan, sejak awal Rasil untuk syiar Islam. Bermula dari pengalaman sang pemilik, Farid Thalib, saat bepergian ke Cirebon, Jawa Barat. Ia mendengarkan sebuah stasiun radio Islam yang menyiarkan murottal Alquran.

Tak beberapa lama, Farid menghubungi Krisna untuk mewujudkan keinginannya mendirikan radio dakwah. Krisna berhasil membentuk radio dengan membeli sebuah stasiun radio yang nonaktif di bilangan Jalan Silaturahim pertengahan 2009.

Nama Silaturahim, diilhami materi siarannya.

Radio ini bertekad merangkul berbagai pihak dalam sebuah kajian keislaman interaktif. Sang pemilik, kakak beradik Farid dan Ichsan Thalib, merangkul para ustaz untuk syiar dakwah mereka. Siaran diawali dengan Hikmah Pagi pada pukul 06.00 WIB. Acara ini berlangsung hingga 1,5 jam.

Ada enam ustaz yang menggawangi acara ini dengan tema Kajian Shirah Nabawiyah, Kajian Aqidah, Kajian Tafsir Maudhu’, Kajian Tauhid Jumat, dan Kajian Keluarga Islami. Yang menjadi ikon radio ini Ustaz Husein Alatas dalam siaran Renungan Alquran mulai pukul 08.00 WIB hingga 10.00 WIB.

“Ratusan pesan pendek masuk, tetapi Ustaz Husein hanya menjawab tiga karena beliau selalu komprehensif. Hal ini yang membuat pendengar kita suka,“ jelas Krisna. Pilihan acara lainnya adalah Tausiyah Sore dan Renungan Qalbu. Kajian yang dibawakan Ustaz Rahmatullah ini berisi pembahasan akidah dan tauhid.

Sampai saat ini, Rasil berkomitmen tak menerima iklan untuk menjaga kualitas dakwah yang diusungnya. Krisna mengatakan, biaya operasional terbantu melalui infak dari para dermawan.

<republika>

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Jadikan BANK SYARIAH sebagai Mitra Franchise

Read Next

Mengajarkan Kebaikan Melalui Radio Dakwah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × 4 =