BERIHSANLAH!

76889443_8_644x461_service-hadroh-marawis-_rev013

JIC – ”Beri tahu aku tentang ihsan,” tanya malaikat Jibril saat menyamar menjadi seorang lelaki berpakaian putih, berambut kelam, yang tak tampak bekas-bekas perjalanan jauhnya. Rasulullah SAW menjawab, ”Engkau menyembah Allah seakan-akan Engkau melihat-Nya. Jika Engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu.” (HR Muslim).

Ihsan adalah puncak ibadah dan akhlak (amal shaleh) yang senantiasa menjadi target seluruh hamba Allah SWT. Sebab, ihsan menjadikan kita sosok yang mendapatkan kemuliaan dari-Nya. Sebaliknya, seorang hamba yang tidak mampu mencapai target ini akan kehilangan kesempatan yang sangat mahal untuk menduduki posisi terhormat di mata Allah SWT.

Rasulullah SAW sangat menaruh perhatian akan hal ini, sehingga seluruh ajarannya mengarah pada satu hal, yaitu mencapai ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia. ”…. Dan berbuat baiklah kalian, karena sesungguhnya Allah SWT mencitai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah [2]: 195).

Esensi ihsan terletak pada kesadaran akan kehadiran Allah SWT yang selalu menatap dan mengawasi. Sadar bahwa Allah SWT melihat, mengawasi, dan memonitor diri dalam gerak dan diam, lahir maupun batin (muraqabah. Kata muraqabah seakar dengan kata raqib yang berarti penjaga atau pengawal, yang merupakan salah satu nama Allah SWT (asma al-husna). Dan Allah SWT adalah raqib al-ruqaba’ (Sang Maha Pengawas).

”Dia beserta kamu, di manapun kamu berada. Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hadid [57]: 4).

Ihsan memiliki dua sisi. Pertama, ihsan adalah kesempurnaan dalam beramal sambil menjaga keikhlasan dan jujur pada saat beramal. Ini adalah ihsan dalam tata cara (metode). Kedua, ihsan adalah senantiasa memaksimalkan amalan-amalan sunah yang dapat mendekatkan diri kepada Allah, selama hal itu adalah sesuatu yang diridhai-Nya dan dianjurkan untuk melakukannya.

Perintah ihsan tidak hanya dalam hal ibadah tapi juga dalam hal muamalah. Ihsan kepada kedua orang tua, kerabat karib, anak yatim, fakir miskin, tetangga dekat/jauh, teman sejawat, ibnu sabil, hamba sahaya, perlakuan dan ucapan yang baik, serta kepada binatang.

”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.” (QS An-Nisaa [4]: 36). Dan yang terakhir adalah ihsan dalam akhlak. Ini sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Pusat Data Republika

Write a Reply or Comment

twenty + 13 =