Jadwal Shalat
Subuh
Dzuhur
Ashar
Maghrib
Isya
04.12
11.38
15.01
17.50
19.04

KUESIONER SURVEY MASJID JIC

Take our Online Survey

Buku Saku JIC

Al- Qur'an dan Peradaban Islam
Thursday, 05 November 2009

(No.09 Tahun 5, Oktober 2009) Anugerah Ilahi yang terbesar kepada manusia adalah bahwa Allah telah mengajarkan Al Qur’an. Peristiwa turunnya  Al Qur`an (Nuzulul Qur`an), merupakan salah satu peristiwa yang sangat penting dalam sejarah dan perkembangan peradaban Islam.  Read more...

Khutbah Idul Fitri 1430 H

Membangun Hari Esok Yang Lebih Baik
Tuesday, 15 September 2009
.: Oleh : KH. Ma'ruf Amin :. Hari ini, harus kita jadikan momentum untuk melakukan perbaikan dalam semua hal serta untuk melakukan perubahan-perubahan dalam menyongsong hari esok yang lebih baik. Hari ini, kita jadikan sebagai hari Taubatan Nasuha terhadap kesalahan yang kita lakukan,Read more...

Berita Terkait

-----------------------------------------------------------------------

Detail informasi... Klik gambar
 
Tanya Katalog/ Koleksi Perpustakaan JIC
 
  
PUSTAKAWAN 1                 PUSTAKAWAN 2
-----------------------------------------------------------------------

Click to join Komunitas-JIC
Gabung di Komunitas-JIC, untuk mengikuti setiap
perkembangan event JIC secara update
 

 
Islamic Centre Bangunan Historis di Amerika PDF  | Print |

Islamic Center di Washington DC, Amerika Serikat dibangun atas prakarsa negara-negara Islam. Peletakan batu pertamanya dilakukan tahun 1949 lalu, bertepatan dengan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Keindahan arsitektur bangunan masjid ini, dikagumi setiap pengunjung.

Amerika Serikat, negara terbesar ke-empat setelah Rusia, Canada dan China memiliki uas wilayah lebih dari 9,6 juta kilometer persegi. Tahun 2006, tercatat jumlah penduduk mencapai 300 juta lebih, yang tersebar di 50 negara bagian.

50% lebih penduduknya penganut Protestan, dan 27% Khatolik. Hanya 1,5% atau sekitar 7 juta penduduknya beragama Islam..Wujud kebersamaan muslim di Amerika, terlihat nyata di Islamic Center, Washington DC. Tempat ibadah dan pusat kegiatan kaum muslim yang menetap atau tinggal sementara di sekitar Washington. Para turis muslim pun tak melewatkan kesempatan mengunjungi Islamic Center. Untuk beribadah sekaligus melihat keindahan arsitekturnya.

Ide mendirikan Islamic Center di ibukota negara, tercetus saat Perang Dunia ke-2 tengah berlangsung. Di sebuah jalan yang banyak dihuni kedutaan dari berbagai negara, berdirilah sebuah gedung megah. Dari menara putih setinggi 162 kaki di gedung itu, selalu berkumandang adzan, pertanda waktu shalat tiba.

Islamic Center di Linnean Avenue, Washington DC ini menjadi tempat bagi kaum muslim dari berbagai latar belakang budaya, bertemu, untuk berdoa bersama dan menjalin tali silaturahmi. Ide mendirikan masjid ini bermula ketika di tahun 1944, seorang duta besar Turki wafat dan bingung mencari masjid untuk men-shalat-kannya, sehingga komunitas kedutaan besar negara-negara Islam di Washington akhirnya sepakat untuk mendirikan sebuah masjid di kota itu. Pembangunan masjid dipimpin Yousef Abu El Hawa, seorang imigran dari Palestina yang kemudian berganti nama menjadi AJ Howar.

Howar kemudian berhasil mengumpulkan sumbangan dan dukungan dari komunitas Islam di Amerika, di antaranya dari Afghanistan, Mesir, Indonesia, Iraq, Iran, Syria, Turki, Pakistan, dan Saudi Arabia. Mulailah bangunan masjid didirikan dengan bantuan seorang arsitek kebangsaan Itali, Mario Rossi dan diresmikan presiden Amerika saat itu, Presiden Eisenhower. Uniknya, di depan gedung berkibar sejumlah bendera dari negara-negara Islam dari seluruh dunia yang menambah semarak halaman masjid.

Mario Rossi dibantu seorang asisten dari Mesir, Ernesto Verucci Bey, yang kemudian memerintahkan beberapa tukang untuk membuat pahatan ayat-ayat Al-Qur’an di dinding masjid dan langit-langit. Tentu saja berbagai dukungan mengalir dari negara-negara Islam yang lain, seperti Mesir yang menghadiahkan lampu gantung yang sangat indah, Iran mengirimkan karpet yang sangat lebar dan mewah, Malaysia merenovasi kubah, Maroko menghiasi jendela dengan kaca patri berwarna, Turki dengan keramik biru, sedangkan Irak dengan kaca-kaca berwarna kuning, dan sebagainya.

Peletakan batu pertama, bertepatan dengan perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW ke 1420, tanggal 11 Januari 1949. Pembangunannya sendiri berlangsung awal Desember 1949 dengan kontraktor lokal. Keterlambatan proses pembangunan ini disebabkan adanya kendala komunikasi antara arsitek dengan kontraktor.

Sejumlah penjelasan detail tentang arsitektur masjid terpaksa berulang kali harus diterjemahkan dalam bahasa Arab dan Inggris. Untuk gambar bangunan berikut interiornya, dibuat oleh tenaga-tenaga arsitek dari Kementerian Agama, Kairo, Egypt. Menariknya, selama proses pembuatan gambar, ada keterlibatan seorang arsitek dari Italia, Professor Mario Rossi.

Keindahan ornamen di Islamic Center ini, sebagian buah karya sang profesor, terinpsirasi kemegahan masjid-masjid kuno Kairo. Professor Rossi akhirnya menjadi seorang muslim, dan berganti nama menjadi Muhammad Mahdi.

Di saat pembangunan tengah berjalan, penentuan arah kiblat sempat menjadi pro dan kontra, hingga pertengahan 1957. Sampai akhirnya diputuskan seorang ahli, kiblat menghadap timur laut.

6 tahun lebih sejak dibangun, atau tepatnya 28 Juni 1957, Islamic Center akhirnya diresmikan. Sekitar tahun 1950 – 1960 Islamic Centre ini hanya sedikit yang mengunjungi. Namun sekitar tahun 1970-an jumlah ini terus bertambah berkali-kali lipat, hingga kini sekira 3.000 orang datang setiap minggu untuk melaksanakan shalat Jum’at. Mereka mengagumi keindahan arsitektur, interior masjid dan kaligrafi Islam, yang terukir di dalam masjid. Dari segi desain, banyak sekali pertukaran budaya ‘menempel’ pada gedung berwarna putih ini. Sama uniknya dengan umat yang melakukan ibadah di dalamnya. Mereka adalah campuran dari para tamu, diplomat berbagai negara, pelajar, penduduk Amerika yang memeluk Islam, serta para imigran. Mereka datang dari sekitar 75 negara di dunia yang saling bertukar keunikan, cerita, dan ilmu di dalam masjid.

Masjidnya memiliki langit-langit yang sangat tinggi yang menyejukkan bagi para pelaku ibadah di dalamnya. Langit-langit kubah berhias warna emas, hitam, dan cokelat berpadu dengan kaca patri berwarna-warni, serta kaligrafi dan lampu gantung yang indah menambah megah suasana di dalam ruangan. Namun warna biru dari keramik Turki yang khas di dinding membuat ruangan terasa dingin dan sejuk. Sedangkan pada tampak luar bangunan yang terbuat dari batu gamping ini dihiasi kaligrafi dan hiasan berwarna biru muda, membuat bangunan kokoh ini menjadi tampak lebih ramah.

Selain masjid, sebagian bangunan terdiri dari ruangan-ruangan yang difungsikan sebagai ruang kelas, bagi umat yang ingin mendalami Islam. Sedangkan satu ruang yang cukup besar difungsikan sebagai ruang perpustakaan. Ruang perpustakaan di dalam Islamic Center ini telah menyimpan sekitar 4.000 judul buku dalam 34 bahasa, mulai dari abad ke-18 hingga terbitan terbaru. Tak hanya buku-buku Islam yang tersedia di sini, namun juga buku-buku mengenai sejarah Islam, seni serta hubungan Islam dengan agama-agama lain di dunia.

Selain itu perpustakaan di Islamic Center juga menyediakan sekitar 190 judul film dan video yang bertema Islam, serta sekitar 50 audiotapes tentang berbagai topik yang berhubungan dengan Islam. Tersedia juga beberapa foto dari Mekah, Madinah, Jerusalem, serta beberapa kaligrafi dan potongan kiswah [kain penutup Ka’bah]

Bahkan pemerintah Amerika melindungi bangunan ini dengan memasukkan dalam daftar bangunan-bangunan historis di Amerika. Selain sholat jum`at berjama`ah, aktivitas seperti pengajian, Sunday School bagi anak-anak atau kajian-kajian tentang Islam, rutin digelar. Keberadaan Islamic Center di ibukota negara adidaya ini, sungguh berarti bagi kaum muslim yang kini diperkirakan berjumlah sekitar enam juta jiwa. Pekiraan-perkiraan lain berkisar antara empat dan delapan juta jiwa. The Britannica Book of the Year memperkirakan bahwa pada pertengahan tahun 2000 terdapat 4.175.000 Muslim di Amerika Serikat, 1.650.000 di antaranya berasal dari kalangan Amerika keturunan Afrika. Bahkan sesuai prakiraan yang dimuat dalam lembar fakta Departemen Luar Negeri AS, pada tahun 2010, jumlah penduduk Muslim AS diperkirakan akan melampui jumlah kaum Yahudi, dan menjadikan Islam agama terbesar nomor dua di negara itu setelah agama Kristen. (Erni/berbagai sumber)

 

 

 

Trackback(0)
Comments (0)Add Comment

Write comment

security code
Write the displayed characters


busy