Jadwal Sholat
Subuh
Dzuhur
Ashar
Maghrib
Isya
04.42
12.08
15.07
18.11
19.16

Agenda Kegiatan

Buku Saku JIC

Haji & Hijrah Peradaban untuk Kemashlahatan Bangsa
Tuesday, 05 January 2010

(No.12 Tahun 5, Oktober 2009) Selama lima ratus tahun Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradabannya yang tinggi (Jacques C. Reister). Saban taun, ratusan ribu anak bangsa ini pergi haji. Mereka tidak sekedar menjalankan kewajiban untuk menggenapi kekurangan rukun Islamnya, tetapi pada hakekatnya mereka juga melakukan hijrah.Read more...

Khutbah Idul Adha 1430 H

Kesediaan Berkurban: Titik Tolak Pembangunan Kesejahteraan Bangsa
Monday, 23 November 2009
.: Oleh : Didin Hafidhuddin :. Semangat berkorban dari Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS beserta keluarganya, demikian pula Rasulullah SAW dan para sahabatnya harus kita implementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.Read more...
-----------------------------------------------------------------------

Detail informasi... Klik gambar
 
Tanya Katalog/ Koleksi Perpustakaan JIC
 
  
PUSTAKAWAN 1                 PUSTAKAWAN 2
-----------------------------------------------------------------------

Click to join Komunitas-JIC
Gabung di Komunitas-JIC, untuk mengikuti setiap
perkembangan event JIC secara update
 
Share on facebook
Pendidikan, Kunci Menghindari Kejahatan pada Anak PDF  | Print |

Hidayatullah.com--Mencuatnya kasus mutilasi yang dilakukan Baikuni alias Babeh (55), mengingatkan kita pada kasus serupa yang dilakukan oleh Verry Idam Heriyansyah alias Rian. Kasus ini juga mengingatkan kita pada tahun 1996, di mana muncul nama Siswanto atau dikenal dengan Robot Gedek yang  menyodomi 12 orang. Pendidikan dan kasih sayang lebih bisa mencegah kasus kejahatan pada anak, seperti kasus kejahatan yang dilakukan  Baikuni atau Babe.

Karena perbuatannya itu, ia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan. Namun sebelum menjalani hukuman, Robot Gedek meninggal dunia karena serangan jantung pada tanggal 26 Maret 2007.

Menurut pakar sosiologi hukum Universitas Padjajaran Bandung, Yesmil Anwar, Babeh memiliki tiga jenis penyimpangan, yaitu nekrofilia, pedofilia, dan homoseksual.

Yesmil yang ditemui hidayatullah.com di rumahnya di daerah Soekarno-Hatta, Bandung, Senin (18/1) mengatakan, kasus Babe ini termasuk jenis  urban crime atau kejahatan di perkotaan. Ini terjadi karena problematika perkotaan, seperti macet, kesendirian, tidak ada teman, dan identitas yang tidak terlihat. Artinya jika di pedesaan, warga akan sama-sama tahu, siapa tetangga kita, apa pekerjaannya, dan bagaimana lingkungannya. Berbeda dengan kondisi perkotaan yang cenderung individualis. Namun bukan berarti di pedesaan tidak terjadi kejahatan serupa.

Menurutnya, kasus seperti ini memiliki dua kemungkinan. Banyaknya kasus yang terjadi, tapi belum terungkap. Atau bahkan sebenarnya kasus ini hanya sedikit, namun hanya media yang membesar-besarkannya.

Yesmil menambahkan, penyimpangan-penyimpangan yang terjadi tidak lepas dari orang-orang terdekat, baru kemudian dipengaruhi oleh unsur kehidupan sehari-hari. Untuk itu pengawasan dan pendidikan di lingkungan terdekat, keluarga, sangat dibutuhkan.

Nekrofilia adalah jenis penyakit yang memungkinkan seseorang menyukai hubungan seksual dengan mayat. Hal ini dapat dilihat dari modus yang dilakukan Babe, yaitu membunuh dulu korbannya sebelum disetubuhi. Hal ini dilakukan agar pelaku bisa menguasai korban.

Penyimpangan macam ini bisa terjadi karena pengalaman masa kecilnya yang sering tertindas dan direndahkan. Sehingga ada kecenderungan pelaku untuk mencari “mangsa” yang mudah dikuasai. Karena ketika berhubungan dengan mayat, tidak akan terjadi penolakan dari korban.

Babe juga mengidap kelainan yang menyukai hubungan dengan anak di bawah umur dan belum dewasa, atau yang dikenal sebagai pedofilia. Babe memilih korban anak-anak, karena anak kecil mudah dikuasai olehnya. Hanya dengan iming-iming uang seribu rupiah, permen, dan hal-hal sederhana, anak kecil sudah bisa dipengaruhi olehnya. Hal ini dapat dilihat dari pengakuan Babe bahwa seluruh korbannya berusia di bawah dua belas tahun.

Sebagaimana telah banyak diungkap media, Babe memiliki masa lalu buruk. Pada usia belia ia merantau dari Magelang ke Jakarta, karena merasa tertekan dengan kondisi keluarganya.

Ia kerap kali direndahkan dan tidak dianggap oleh saudara-saudaranya. Babe mengaku, mengalami pelecehan seksual saat ia belum genap lima belas tahun, oleh orang dewasa.

Pernikahan yang dilakukannya sebanyak tiga kali, selalu berujung pada perceraian dan tidak dikaruniai satu orang anak pun. “Saya punya kelainan, takut dengan wanita,” ujar Babe pada sebuah kesempatan.

Kasus Babe dan Rian memiliki kesamaan, yaitu rasa nyaman. Rian dengan kasusnya memilih korban yang satu lingkungan, seprofesi (penata rias, dan sebagainya). Ia merasa nyaman di lingkungan yang kondisi ekonominya di atas rata-rata. Rian mencari “korban” yang dapat menjamin kehidupannya.

Sedangkan Babe dengan masa kanak-kanak yang suram dan tertekan, cenderung merasa nyaman di lingkungan anak-anak yang bisa ia pengaruhi dan membuat “korban” tidak berdaya. Di lingkungan anak-anak itu, ia melakukan penyimpangan seksual dan pembunuhan yang sistematik. Empat dari delapan orang korbannya, ia mutilasi.

Faktor Budaya  

“Kita tidak bisa menyalahkan satu pihak saja dalam kasus penyimpangan dan tindakan kriminal yang terjadi. Karena bukan tidak mungkin, kita turut andil dalam pengembangannya. Setiap budaya dapat menciptakan sebuah fenomena dan juga punya cara tersendiri untuk menanggulangi permasalahan,” kata Yesmil.

Di Indonesia, budaya ramah dan sopan santun sangat ditekankan dan telah ditanamkan sejak kecil. Sikap acuh terhadap orang yang baru dikenal seringkali sulit untuk dilakukan. Berbeda dengan budaya Barat, yang para orangtuanya selalu menanamkan bahwa “tidak boleh berbicara dengan orang yang tidak dikenal dan jangan menerima barang apapun dari mereka”.

Tentunya terdapat kelebihan dan kekurangan pada setiap budaya yang ada. Namun kultur orang Indonesia yang lebih terbuka, memang seolah memudahkan orang untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang. Misal, anak perempuan yang berusia 15 tahun biasanya sudah risih untuk dipeluk-peluk oleh orangtuanya. Lalu kemudian ada sang paman yang ingin memanjakan dengan cara memangku sang anak. Anak tersebut bisa saja menolak, tapi orangtua justru kadang menegur sang anak jika menolak, karena dianggap tidak sopan terhadap sang paman.

Budaya-budaya seperti ini, terkadang disalahgunakan oleh oknum tertentu untuk melakukan penyimpangan.

“Tanamkan budaya yang baik bagi anak sejak dini. Ibaratnya ketika kita menanam padi yang bagus, rumput-rumput liar mungkin akan tumbuh di sekitarnya. Namun ketika kita menanam rumput, hampir mustahil akan tumbuh padi yang bagus. Artinya dalam menanamkan budaya baik, maka hal-hal yang tidak baik bisa saja muncul. Dan tugas kita hanya “mencabuti rumput” tersebut,” ujarnya.

Kita dapat membentuk budaya yang baik di tengah keluarga dengan mengkorelasikan peraturan dan sanksi. Orangtua dan anak membuat peraturan yang disepakati bersama dan menentukan sanksi jika terjadi pelanggaran. Hal ini bisa membuat anak menjadi lebih disiplin dan bertanggung jawab. Selain sanksi, sebagai orangtua kita juga jangan ragu untuk memberikan penghargaan kepada anak jika mereka menaatinya. Dengan demikian akan terjadi hubungan yang baik di antara kedua pihak.

Pencegahan

Kasus pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan Babeh ini, tentu saja cukup membuat heboh masyarakat, khususnya para orangtua. Apalagi seluruh korbannya adalah anak-anak di bawah umur. Hal ini tentu membuat banyak orangtua merasa risau melepaskan anak-anaknya. Karena itu, Yesmil Anwar mengajak orangtua mengenali lebih dini masalah agar anak-anak tidak menjadi korban. Ada beberapa ciri-ciri yang bisa diidentifikasi dari pelaku dalam memilih korbannya. Pelaku biasanya memilih korban yang lepas dari pengawasan orangtuanya.

Ini pula yang dilakukan oleh Babe dan Robot Gedek. Ia memilih korban anak jalanan yang notabene jauh dari pengamatan dan pengawasan orangtua. Anak jalanan cenderung lebih bebas berkeliaran, dan sulit bagi orangtua untuk memantau mereka.

Ada beberapa cara yang bisa orangtua lakukan untuk melindungi buah hati agar tidak menjadi salah satu korbannya, atau bahkan menjadi pelaku kejahatan serupa kelak.  

Dari sisi keluarga, hendaknya para orangtua memberikan perhatian khusus bagi buah hatinya. Perhatikan dari hal-hal yang sederhana, seperti siapa teman bermainnya, siapa gurunya, bagaimana lingkungan bermainnya, hingga apakah supir jemputan anak telah berganti atau belum. Lakukan deteksi dini pada perkembangan anak. Perhatikan kebiasaan sang anak, apa saja yang dilakukannya. “Namun, sebagai orangtua kita juga tidak boleh over protektif, karena hal ini juga akan membuat anak menjadi tertekan dan memendam perasaannya,” ucapnya.

Perasaan yang terpendam, bisa membuat sang anak berontak dan meledak dalam kondisi yang tak terduga. Hal ini juga bukan tidak mungkin membuat anak ketika dewasa, mencari pelampiasan perasaannya selama ini. Maka tindakan penyimpangan dan kriminal pun, bukan tidak mungkin terjadi.

“Selain itu, tentunya contoh yang baik dari orangtua merupakan hal penting dalam perkembangan anak. Hindari terjadinya pertengkaran orangtua di hadapan anak, karena ini akan mempengaruhi kondisi psikologisnya,” kata Yesmil.

Menurut ia, pihak sekolah dan lingkungan pendidikan anak juga turut berperan dalam pengawasan. Sekolah harus memperhatikan dan mengetahui seluruh pihak yang terkait dalam lingkungan pendidikan. Seperti guru, pegawai sekolah, cleaning service, keamanan sekolah, penjaga kantin, dan sebagainya. Sekolah harus mengetahui bagaimana perilaku orang-orang yang terkait dalam kegiatan belajar-mengajar. Karena kasus-kasus pelecehan dan sebagainya juga kerap terjadi di lingkungan pendidikan.

Sedang psikolog anak dan penulis buku “Hari Pertamaku di sekolah” Ery Soekresno mengatakan, kasih-sayang dan perhatian lebih pada buah hati, adalah cara tepat mencegah anak-anak dari bahaya jaring-jaring kejahatan sosial seperti yang dilakukan Babe.

“Dengan perhatian dan kasih sayang lebih, anak-anak akan bisa memproteksi diri dari gangguan luar. Dia tak akan mudah diajak atau dibujuk seseorang yang tak dikenalinya,” ujarnya.

Selain itu, pengelola Sekolah Kebon Maen, Cilangkap-Cimanggis-Depok ini juga mengingatkan para orangtua untuk tak mendidik anak dengan pendekatan uang. Jika pendekatannya selalu itu, ia akan merasa selalu kurang.  “Haruslah pendidikan yang membuat dia paham, jangan dengan pendekatan tekanan dan iming-iming uang,“ tambahnya.
Menurut Ery, pendekatan uangi akan berbahaya. Jika terbiasa dengan materi, anak akan mudah dijerat orang-orang jahat hanya dengan iming-iming. Sebaliknya jika di rumah dia telah cukup, di luar dia merasa tak butuh perhatian atau jeratan pihak lain.  [Nafielah Chuluk/cha/www.hidayatullah.com]

Trackback(0)
Comments (0)Add Comment

Write comment

security code
Write the displayed characters


busy