|
Di abad 21 ini, jelas keunggulan suatu bangsa makin ditentukan oleh penguasaannya atas iptek, tidak lagi pada kekayaan alamnya, atau besar jumlah penduduknya. Bangsa yang memiliki banyak sumberdaya manusia melek ilmu pengetahuan, akan jadi bangsa yang tangguh karena mampu menghasilkan karya-karya ilmiah dan teknologi.
Membaca adalah instrumen utama untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Membaca juga menjadi langkah awal dalam memelihara dan mengembangkan tradisi ilmiah dalam diri seseorang maupun sebuah komunitas. Ia menjadi gerbang antara ketidaktahuan dan kejelasan terhadap berbagai hal. Namun sayangnya berdasarkan hasil temuan UNDP, posisi minat baca Indonesia tahun 2008 berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Untuk Kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos. Apa pun alasannya, posisi Indonesia yang terlalu rendah dalam minat baca ini tentu sangat memprihatinkan bagi bangsa yang mengklaim sebagai bangsa besar. Hal ini tentunya sangat berbeda jauh dengan era keemasan peradaban Islam. Sejak deklarasi Islam oleh Rasulullah saw sampai pada kejatuhan Granada di Spanyol, peradaban Islam memberi kontribusi yang tidak dapat dilupakan oleh peradaban moden kini. Dalam rentang waktu itu, lahir ratusan ilmuwan muslim yang melahirkan beragam teori yang mengilhami kemunculan renaissance di Eropa. Sedikit contohnya adalah Al-Khawarizmi (matematik), Jabir Ibnu Hayyan (kimia), Ibnu Khaldun (sosiologi dan sejarah), Ibnu Sina (kesehatan), Ar-Razi (kesehatan), Al-Biruni (fisika), dan Ibnu Battutah. Keberhasilan pengembangan teknologi Islam di masa khilafah dan kejayaan Islam terjadi dikarenakan oleh dua hal. Pertama, adalah adanya pandangan yang berkembang di masyarakat Islam, karena keimanannya menjadikan posisi ilmu sejajar dengan iman, sehingga menuntut ilmu menjadi ibadah dan jalan mengenal Allah. Akibatnya terjadilah kebangkitan ilmu dan teknologi secara revolusioner. Para konglomeratpun menjadi sangat antusias dan bangga bila berbuat sesuatu untuk peningkatan taraf ilmu pengetahuan atau pendidikan masyarakat, seperti misalnya membangun perpustakaan umum, observatorium ataupun laboratorium, lengkap dengan menggaji pakarnya. Kedua, adalah peran negara yang sangat positif dalam menyediakan stimulus-stimulus positif bagi perkembangan ilmu. Walaupun kondisi politik bisa berubah-ubah, namun sikap para penguasa muslim di masa lalu terhadap ilmu pengetahuan sangat positif. Sekolah yang disediakan negara ada di mana-mana dan bisa diakses masyarakat dengan gratis dan tanpa dikotomi ilmu-ilmu agama dan teknologi yang bebas nilai. Disamping itu, dalam pencarian ilmu, Islam pun telah memberikan sejumlah motivasi. Misalnya janji Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu beberapa derajat. (QS Al-Mujadilah:11), Hadits-hadits seperti “Mencari ilmu itu hukumnya fardhu atas muslim laki-laki dan muslim perempuan”, “Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat”, “Carilah ilmu, walaupun sampai ke negeri Cina”, “Orang yang belajar dan mendapatkan ilmu sama pahalanya dengan shalat sunat semalam suntuk”, dan sebagainya. Sungguh sangat beruntung kaum muslimin yang dibekali oleh Allah SWT dengan Al-Qur’an. Kitab suci ini tidak hanya mampu menambah keimanan bagi para pembacanya, namun juga memberikan sebuah pencerahan intelektualitas. Bahkan, ayat pertama yang termaktub di dalamnya telah memberikan landasan dan motivasi yang besar bagi kaum muslimin untuk menjadi pedoman bagi kemajuan sains dan teknologi, melalui perintah membaca. Membaca berarti membuka jendela dunia, yang dengannya kita mendapatkan berbagai informasi. Adapun menulis, setidaknya ia mempunyai dua tujuan, yakni pertama, mengikat informasi yang kita peroleh sehingga tidak mudah hilang dan memudahkan kita untuk mendapatkannya kembali secara mudah ketika kita membutuhkannya dan kedua, adalah menyediakan media untuk membagikan informasi kepada orang lain. Menulis adalah langkah kedua yang amat menentukan dalam pewarisan tradisi ilmiah. Melalui tulisan, manusia mengenal dan mengkaji kejadian, sejarah serta mendokumentasikan perkembangan peradaban suatu entitas maupun komunitas tertentu, dengan presisi yang lebih dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Ketika ummat kehilangan tradisi membaca dan menulis, maka ummat akan mengalami kemunduran. Informasi tidak dikuasai dengan baik dan bahkan ummat dapat dipermainkan oleh pihak lain yang menguasai informasi. Karenanya, sudah saatnya setiap pribadi muslim menetapkan target jam membaca bukan hanya bidang yang disukai saja tetapi tentang suatu bidang ilmu tertentu yang harus dikuasai. Terlebih lagi bagi sebuah lembaga yang bergerak dalam bidang keislaman, tentu tidak hanya asyik dengan aktivitas rutin dan seremonial saja. Tetapi yang lebih utama adalah bagaimana mengupayakan kebangkitan taraf berpikir umat atas asas kesadaran ruhiyah. Sebagai lembaga pengkajian dan pengembangan Islam, Jakarta Islamic Centre (JIC) berupaya menjadikan tradisi ilmiah senantiasa ada dalam seluruh ruang aktivitasnya. Sebagai masjid dan pusat ketamadunan umat, JIC tentu tidak henti-hentinya mendorong kesalehan pribadi dan kesalehan sosial umat melalui beragam aktivitas ibadah.Terlebih lagi dalam momentum bulan suci Ramadhan ini. Untuk jamaah JIC, telah disediakan sarana perpustakaan untuk mendorong minat baca jamaah. Perpustakaan JIC memiliki sekitar 15.000 judul koleksi buku dan multimedia Islam dan umum yang terbuka lebar untuk melayani aktivitas ilmiah masyarakat. Selain itu, digagas beragam kajian baik klasik dan kontemporer yang memberikan pencerahan keilmuan bagi masyarakat. Sedangkan bagi karyawan JIC, selama bulan Ramadhan ini karyawan ditugaskan untuk membaca dan menelaah buku Ensiklopedia Imam Syafii karya Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam al-Indunisi. Buku setebal 773 halaman yang diterbitkan oleh JIC dan Hikmah Mizan ini merupakan terjemahan dari disertasi ulama Betawi ini di Universitas Al Azhar, Kairo Mesir. Selanjutnya setelah dibaca, seluruh karyawan diminta untuk membuat resume sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Tradisi ilmiah seperti ini, adalah sebuah upaya kecil dalam putaran arus besar membangun peradaban Islam. Tentunya akan menjadi energi positif buat kaum muslimin jika dapat ditularkan dan disebarluaskan kepada komunitas jamaah dan masjid-masjid di seluruh Indonesia. Oleh : Paimun A. Karim Kepala Seksi Data dan Informasi Bidang Informasi Komunikasi BP JIC
Trackback(0)
 |