|
Akhirnya, pertahanan moral ustadz muda itu runtuh juga. Ia yang menjalani hidup wara` (pantang menyerah), qana`ah (menerima apa adanya) dan muru`ah (selalu menjaga kehormatan), untuk lebaran kali ini, harus menyingkirkan sementara tiga sifat tadi yang selama ini menjadi bagian dari identitas dirinya.
Ia terpaksa menghinakan diri menjadi As-Sail (peminta-minta) kepada sejawatnya dan orang-orang yang selama ini dekat dengannya walau dengan kalimat `minjam’, tapi ia sangat berharap diberikan sebagai sedekah bukan sebagai pinjaman. Honor ceramah selama bulan Ramadhan dan bisnis herbalnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan untuk pulang kampung dan selama lebaran di kampungnya, di Kuningan, Jawa Barat bersama keluarga besarnya, khususnya dengan anak istrinya yang sudah pulang kampung terlebih dahulu untuk mensiasati lonjakan harga di semua sektor yang terjadi setiap lebaran. Uangnya sudah nyaris habis untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan kebutuhan keluarganya di kampung selama bulan Ramadhan. Kisah ustadz ini adalah kisah nyata, yang penulis sendiri menjadi salah satu sejawatnya. Ustadz ini adalah anggota kelompok masyarakat, yang dijamin dengan profesi dan statusnya, tidak akan berbuat kriminal walau dalam keadaan sesulit apapun. Tapi, Jakarta didiami oleh banyak orang dengan banyak profesi dan status sosial ekonomi yang berbeda-beda. Begitu pula dengan kadar keimanannya. Jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta pada tahun 2008 rata-rata sebanyak 379,6 ribu orang (4,29 persen) dan untuk tahun ini, jumlah tersebut bertambah menjadi 70 ribu KK atau 640.000 orang. Mereka bekerja sebagai buruh, pekerja kasar, dan pedagang sektor informal. Pendapatanya yang nyaris tetap, sementara inflasi terus terjadi, membuat kaum mustadh`afin ini harus selalu kreatif mencari pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Berhutang, sudah menjadi kebiasaan. Namun lebaran, telah memaksa sebagian mereka untuk lebih-lebih kreatif lagi dengan menempuh cara apapun, seperti menggenapi hadits Rasulullah SAW, "Kefakiran mendekatkan orang pada kekufuran”. Sebagaimana dilaporkan oleh Polda Metro Jaya, tingkat kriminalitas selalu meningkat setiap bulan Ramadhan khususnya menjelang lebaran. Berita tentang perampokan, pencurian, dan penodongan menjadi sering terdengar, membuat warga masyarakat selalu was-was dan meningkatkan kewaspadaannya. Belum lagi tingkah para pelacur yang dari hasil pantuan penulis di beberapa titik pangkalannya, menjelang lebaran ini, tetap marak dan semakin atraktif mengundang lelaki hidung belang. Namun yang merasakan kesulitan mengatasi kebutuhan hidup di Ramadhan dan lebaran tahun ini, di Jakarta, bukan hanya kaum miskin atau kaum mustadh`afin saja, tetapi juga mereka yang hampir miskin dan berpenghasilan cukup yang jumlahnya jutaan orang, apalagi yang ingin berlebaran di kampung halaman. Menurut hasil pantauan harian Republika, harga kebutuhan sehari-hari selama bulan Ramadhan dan menjelang lebaran tahun ini melambung tinggi; tiket bis menjelang lebaran ini naik tak terkendali, sampai 300 persen, akibat kebijakan tarif batas bawah dan tarif batas atas berdasarkan kilometer; begitu pula harga pakaian, tak luput dari cengkraman para pedagang untuk meneguk keuntungan yang sebesar-besarnya di bulan yang seharusnya lebih banyak bersedekah daripada mengambil banyak keuntungan. Jika mencari akar kesalahannya, maka komersialisasi dan gaya hidup konsumtif yang hedonis di bulan Ramadhan adalah akarnya. Komersialisasi dan gaya hidup konsumtif yang puncaknya tejadi pada menjelang dan saat lebaran, yang dibiarkan terus terjadi bertahun-tahun, tanpa adanya peringatan dari pihak-pihak terkait, sehingga menjadi tradisi dan seolah-olah bagian dari pada ”ibadah”. Mencat rumah, baju baru, makan enak, bagi-bagi uang, harus mudik, dan bertamasya ke tempat hiburan seolah-olah telah menjadi rukun lebaran yang harus dilakukan walau kemampuan tidak mendukung. Aktifitas dan gaya hidup seperti ini kemudian dmanfaatkan dengan sangat baik oleh para pedagang dan pengusaha. Indikasinya adalah ramai dan padatnya jumlah pengunjung di pusat-pusat perbelanjaan, dan berkurangnya jama`ah sholat tarawih secara drastis di masjid-masjid dan musholla. Lebaran akhirnya, telah kehilangan maknanya, kehilangan ibadahnya. Mereka yang istiqomah dan menyikapi lebaran sesuai dengan yang disunahkan oleh Rasulullah SAW, menjadi kelompok minoritas yang aktivitas dan syiar `ibadahnya tenggelam dengan arus komersialisasi ini yang tentu saja juga memanfaatkan siaran televisi dan media massa lainnya. Lalu, lebaran sebenarnya milik siapa? Sudah saatnya, ulama dan pemimpin Islam menjelang Ramadhan dan lebaran tidak melulu disibukan dengan persoalan itsbat dan MUI tidak hanya disibukan dengan persoalan pengemis dan daging gelondongan. Saatnya MUI, lembaga-lembaga keagamaan, dan pemimpin Islam mengeluarkan fatwa, peringatan, atau tindakan lainnya, utamanya dalam persoalan komersialisasi Ramadahan, dalam persoalan kenaikan harga di beberapa sektor kebutuhan masyararakat. Belum terlambat untuk melakukannya, masih ada waktu untuk menyelamatkan umat dari ketidakberdayaan mengatasi persoalan hidup. Jika hasil tindakan yang diambil tidak dirasakan pada ebaran tahun ini, mungkin untuk lebaran tahun depan, agar lebaran bisa menjadi hari raya yang benar-benar bisa dirayakan dan menjadi milik semua lapisan masyarakat. Amiin. Akhirulkalam, Jakarta Islamic Centre mengucapkan selamat `Idul Fitri 1430 H, taqabalalluh minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa shiyaamakum, semoga kita semua menjadi orang-orang yang bertaqwa. *** Oleh: Rakhmad Zailani Kiki Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC
Trackback(0)
 |