|
Satu pekan sudah ‘Iedun Nahr 1430 H berlalu. Spirit kurban dan pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim as. terhadap putra tercinta dan satu-satunya, Nabi Ismail as. tentunya juga masih melekat kuat dalam pribadi yang berharap menjadi insan qurbani.
Spirit kurban mendapati momentum berbeda 180 derajat dengan peringatan hari HIV/AIDS se-dunia yang jatuh pada tanggal 1 Desember 2009. Pada satu sisi negeri ini sedang bergembira merayakan napak tilas ketaatan dan pengorbanan sejati seorang anak dan remaja bernama Nabi Ismail as. Tapi di sisi lain kasus HIV/AIDS justru menggambarkan kondisi generasi yang sedang sakit, memprihatinkan. Departemen Kesehatan mencatat bahwa data pengidap HIV-AIDS sejak 1980-an hingga September lalu mencapai 18.442 orang di 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota dengan rasio 3:1 antara laki-laki dan perempuan. DKI Jakarta menduduki peringkat ketiga penyandang kasus HIV/AIDS terbanyak di Indonesia. Menurut data dari Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta, pengidap HIV/AIDS 2009 yang terdata sebanyak 439 orang dan sebagian besar laki-laki. Dengan perincian Jakarta Utara 44 orang, Jakarta Selatan 87 orang, Jakarta Barat 116 orang, Jakarta Timur 82 orang, serta Jakarta Pusat ada 110 orang. Dan hubungan seksual merupakan faktor yang mendominasi penularan HIV-AIDS yaitu mencapai 60% dengan rentan usia tertinggi penderita HIV-AIDS hingga saat ini tetap berada pada usia produktif yaitu 20-39 tahun. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa data tersebut merupakan permukaan gunung es saja, yakni yang tercatat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang sebenarnya, 5-10 persen dari keseluruhan. Kondisi ini menimbulkan tanda tanya serius dan mengkhawatirkan. Semakin hari kita semakin banyak ditampakkan oleh kerusakan-kerusakan perilaku masyarakat, yang menambah daftar panjang kerusakan moral masyarakat negeri ini. Khususnya adalah persoalan remaja dan generasi muda. Mulai dari peredaran narkoba yang semakin luas dan menakutkan, perilaku hedonistik dan pergaulan bebas makin populer dan menjadi acuan remaja saat ini dalam perjalanan mencari identitas dirinya serta aborsi di kalangan remaja yang luar biasa. Kebijakan yang diterapkan pemerintah pun justru menimbulkan persoalan baru, misalnya persoalan HIV-AIDS diselesaikan dengan cara sosialisasi ATM Kondom dan kemudahan sarana untuk melakukan aborsi aman yang justru memfasilitasi semakin berkembangnya seks bebas berikut juga dampaknya yang bermuara pada tanda-tanda genocide (hilangnya) generasi muda Indonesia. Gambaran di atas menurut Thomas Lickona, Pakar Pendidikan Cortland Amerika Serikat, sudah mengindikasikan sebagai 10 tanda-tanda kehancuran sebuah bangsa. Antara lain ditandai dengan meningkatnya perilaku kekerasan di kalangan remaja dan masyarakat, penggunaan bahasa yang kasar, kotor dan ejekan, pengaruh teman dan lingkungan melebihi pengaruh keluarga, meningkatnya penyalahgunaan obat terlarang dan perilaku seks bebas, lenyapnya nilai moral dan kebenaran dalam kehidupan masyarakat, rendahnya rasa hormat anak kepada orang tua dan guru, meningkatnya tayangan-tayangan media massa yang merusak mental anak, dan kecurangan (korupsi dan manipulasi) terjadi dimana-mana. Seluruh persoalan tersebut bermuara pada sistem pendidikan yang tidak mengarahkan kepada pembentukan moral yang baik dan sistem kehidupan yang sekuleris dan hedonistik. Pendidikan formal banyak mengutamakan nilai-nilai intelektual semata dan jauh dari nilai-nilai agama. Peran lembaga mental spiritual yang memberikan pendidikan moral secara non formal di masyarakat semakin terpinggirkan bahkan diminimalisir perannya. Penelitian lembaga asing The Pew Forum on Religion & Public Life tahun 2009, mencap Indonesia sebagai salah satu negara paling religius di dunia sekaligus tetap dicatat sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, namun secara faktual tidak pernah lepas dari persoalan dan kerusakan moral masyarakat yang justru bertentangan dengan nilai-nilai religiusitas itu sendiri. Sudah saatnya ada ada solusi tuntas dan komprehensif menyelesaikan seluruh problematika remaja, termasuk HIV-AIDS. Karena persoalan utamanya bermuara pada pendidikan dan moral, maka penyelesaiannya dilakukan dengan menjadikan kebijakan peningkatan kualitas pemahaman, penghayatan dan pengamalan agama (Islam) sebagai lokomotif bagi perubahan paradigma kehidupan masyarakat Jakarta agar kembali sesuai dengan nilai-nilai dan norma agama (Islam) termasuk dengan memasukkan persoalan tersebut dalam RPJMD yang akan datang sehingga memiliki payung hukum yang kuat dan tidak multi tafsir bagi gerak pembangunan mental spiritual Provinsi DKI Jakarta. Dalam konteks ini, lembaga agama termasuk Jakarta Islamic Centre harus dilibatkan untuk terus mendorong pemberdayaan generasi muda Islam Jakarta. Salah satu program yang khusus dikembangkan Jakarta Islamic Centre untuk remaja dan pelajar adalah Training Wisata Peradaban (The Journey of Civilization). Program ini dan yang sejenisnya dapat menjadi media strategis bagi pendidikan moral ‘god spot’ bagi para generasi muda Jakarta yang lebih baik. Paimun A. Karim (Kepala Seksi Data dan Informasi Bidang Infokom JIC)
Trackback(0)
 |