TEKNOLOGI QLP UNTUK LULUS UN
Masih ingatkan kita dengan Triawati Octavia, siswi berjilbab dari SMAN 2 Kuningan, Jawa Barat yang meraih peringkat pertama nasional untuk Ujian Nasional (UN) SMA tahun 2012 lalu, apa resepnya sehingga bisa mencapai prestasi tersebut?
Gadis yang biasa disapa Tria adalah putri Drs. Syahrul Arifin dan Hj. Uhintawati, A.Md.Keb. Sebelum UN berlangsung, memang tidak ada yang istimewa dari dirinya. Jika dibandingkan rekan-rekannya yang selalu juara kelas, prestasi Tria tak ada apa-apanya. Pihak sekolah sendiri menganggap prestasi akademik Tria biasa-biasa saja seperti kebanyakan siswa yang lain. Malah, tak pernah sekali pun Tria menembus posisi tiga besar di kelasnya. Tak mengherankan jika pihak sekolah juga nyaris tidak percaya bahwa Tria bisa meraih hasil UN tertinggi se-Indonesia.
RIWAYAT PENGKONVERSI AGAMA

Di televisi, kita sering melihat selebritis dan pesohor yang pindah agama dengan berbagai alasan. Memang di negeri ini, orang pindah agama semudah pindah kontrakan. Kapanpun jika mau dan sudah tidak betah, bisa pindah. Bahkan ada tokoh di Orde Baru yang bolak-balik, keluar masuk Islam walau akhirnya ia wafat sebagai seorang muslim.
Menurut Yudi Muljana, seorang mualaf yang menjadi nara sumber pada FGD Penyusunan Modul Pelatihan Anti Pemurtadan yang diselenggarakan oleh Jakarta Islamic Centre (JIC) (Senin,25/03/2013), masalah perilaku perpindahan agama atau keyakinan dalam Psikologi Agama disebut konversi agama. Menurutnya, jenis-jenis konversi agama dapat dibedakan menjadi dua, yaitu konversi internal dan eksternal. Konversi agama internal: terjadi saat seseorang pindah aliran tertentu ke aliran lain, seperti Khatolik ke Protestan. Sedangkan konversi agama dalam Islam hanya konversi eksternal, tidak ada konversi internal karena dalam Islam, perbedaan di kelompok-kelompok Islam hanya pada hal-hal yang bersifat penafsiran. Rukun Iman, Rukun Islam, Rukun Ihsan menjadi standar keislaman. Karena ketika seorang muslim keluar dari standar keislaman, maka ia tidak lagi disebut muslim, melainkan murtadin.
HOMO OMINI LUPUS

Paradigma materialistik menganggap bahwa segala sesuatu baru ada kalau berwujud secara materi sehingga manusia pun dianggap manusia hanya sebatas tubuh. Dari paradigma ini muncullah paradigma sekularistik adalah suatu pandangan hidup yang memahami bahwa kehidupan hanya sebatas kehadiran tubuh di bumi ini saja. Ukuran kebahagiaan bagi pemilik paradigma materialistik dan sekularistik adalah kenikmatan tubuh atau jasmani, yang dapat dirasakan sekarang di bumi ini. Sebagian besar mereka mengetahui adanya akhirat, tetapi tidak menjadi kesadaran yang melekat dalam diri mereka. Mereka terpesona dengan kehidupan di dunia seakan-akan kehidupan hanya kini, di sini, di bumi. Mereka menjadi orang-orang yang lalai (ghaflah) akan akhirat. Konsekuensinya, kejarlah semua yang diinginkan sekarang juga, di sini juga. Raih dan miliki, dapatkan dan ambil. Kuasai sekarang juga, di sini juga. Mumpung masih di bumi. Tak pelak, mereka pun berlomba-lomba mencari kenikmatan jasmaniah.


