BERSABAR DAN BERSYUKUR ATAS NIKMAT HIDUP

JIC12-1024x576

Iman terbagi dua, separuh bagian dalam sabar dan separuh bagian dalam syukur.
(HR. Al-Baihaqi)

JIC – Hingga hari ini bahkan detik ini, Allah SWT masih memberikan nikmat itu kepada kita selaku hambaNya, yang selayaknya sama dengan hamba Allah yg lainnya, yang notabene lemah, serba kurang, serba terbatas dan bergantung. Tentu sederetan pengalaman hidup menjadi kisah suka duka yang telah mewarnai hari-hari kehidupan.

Kesempatan hidup yang Allah SWT berikan, kita coba hadapi dengan syukur dan sabar sepanjang hidup. Di sanalah letak ujian keimanan sesungguhnya, sebagaimana yang dilisankan Rasul SAW dalam sebuah hadits riwayat Al Baihaqi di atas. Sabar bil makna senantiasa istiqomah dalam kebenaran, apapun yang terjadi tetap berpegang teguh pada kebenaran, sebab Allah SWT bersama dengan orang-orang yang sabar. Ditambah dengan syukur yang tak henti-hentinya kepada Allah SWT atas segala nikmat, seperti halnya nikmat Islam, nikmat Iman, nikmat masa muda, nikmat sehat, nikmat lapang, dan bahkan nikmat hidup yang dengannya adalah peluang bagi kita menanam banyak amal shalih, menuai pahalanya dan merasakan manisnya iman. Iman tidak hanya terucap dengan lisan saja, namun juga harus diyakini dalam hati dan diwujudkan dengan amal.

Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan? (QS. Ar Rahman dalam banyak ayat)

Bagaimanapun kondisinya, ketika deadline hidup sudah habis, manusia manapun tidak akan dapat mengundurkan atau memajukannya, bahkan tidak akan mampu lari daripadanya. Lebih-lebih, ketika kita banyak mengingat kematian dan mempersiapkan bekal untuk kematian, dikatakan sebagai secerdas-cerdasnya manusia. Pemahaman ini yang saya juga dapatkan selama mendalami Islam.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. (QS. Al Anbiyaa’: 35)

Tidak ada suatu umatpun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan (nya). (QS. Al Hijr: 5)

“Secerdas-cerdasnya manusia adalah yang terbanyak mengingat kematian serta yang terbanyak persiapan menghadapinya.” (HR. Ibnu Majah)

Kejadian demi kejadian dalam hidup, akan senantiasa memiliki nilai pelajaran. Mudah bagi kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian, entah yang kita alami atau yang orang lain hadapi, syaratnya kita memiliki komponen berpikir yang lengkap dan memfungsikannya, yaitu fakta/ objek yang bisa diindera, alat indera, otak yang normal dan pengetahuan sebelumnya (previous knowledge). Allah SWT Maha Tahu apa yang dibutuhkan manusia sebagai makhluk ciptaanNya. Allah SWT bekali kita dengan seperangkat aturan (Syariah Islam) sebagai pedoman/petunjuk hidup agar bisa kita jadikan sebagai tolok ukur benar salahnya perbuatan kita, potensi akal yang dengan tabiatnya kita berkemampuan memahami dan mempertimbangkan serta potensi kehidupan, yaitu kebutuhan jasmani serta naluri (naluri beragama, naluri berkasih sayang/ melestarikan keturunan dan naluri mempertahankan diri) yang dengan potensi kehidupan ini yang mendorong kita beraktivitas guna memenuhinya, di samping itu dibekali hawa nafsu yang harus kita kendalikan dengan syariat dan juga akal, agar tidak menjadikan kita liar, tetapi menjadikan kita tetap memperhatikan rambu-rambu (terikat dengan SyariahNya) dan tunduk pada Syariat Allah SWT, agar kita selamat dunia dan akhirat. Kesemuanya itu harus menjadi sarana dan sebab untuk kita semakin menaati Allah SWT, mengimaninya dengan senantiasa tak pernah ragu untuk memelihara dan mewujudkan rasa syukur dan rasa sabar dalam segenap aspek kehidupan kita.

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran. (QS. Ar Ra’du: 19)

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. (QS. Al Anfaal: 24)

Sumber : islampos.com

Write a Reply or Comment

11 − 5 =