BERSAMA KEMENPERIN, BANK INDONESIA IKUT KEMBANGKAN PROGRAM SANTRIPRENEUR

JIC, Jakarta — Dalam rangka mewujudkan program pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) di lingkungan pondok pesantren. Kementerian Perindustrian menggalang kemandirian industri nasional berbasis syariah melalui proyek percontohan santripreneur.

Direktur Jenderal IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih mengatakan dalam kurun waktu 2013 sampai 2015, Direktorat Jenderal IKM telah membina beberapa pondok pesantren dengan pelatihan tematik yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi industri yang ada di pondok pesantren.

Berdasarkan data Kementerian Agama 2014 lalu, pondok pesantren yang ada di Indonesia tercatat sebanyak 27.290 lembaga dengan jumlah santri mencapai 3,65 juta orang. Hal ini menjadi potensi bagi penumbuhan wirausaha baru dan sektor IKM di Tanah Air.

“Dalam implementasinya, kami memiliki dua model untuk mencapai sasaran tersebut. Pertama, Santri Berindustri, dan kedua Pesantren Berkreasi,” ujar Gati.

Lanjut Gati, Model Santri Berindustri fokus pada pengembangan unit industri yang telah ada dan sumber daya manusia di lingkungan pondok pesantren yang terdiri dari santri dan alumni santri.

Sedangkan, Santri Berkreasi merupakan kegiatan pelatihan dan pendampingan dalam pengembangan potensi kreatif para santri maupun alumni yang terpilih dari beberapa pondok pesantren. Mereka dibidik untuk menjadi seorang profesional di bidang seni visual, animasi, dan multimedia sesuai standar industri.

“Program pilot project santripreneur yang telah berjalan, misalnya di Pondok Pesantren Sunan Drajat, yaitu program bimbingan teknis pengolahan ikan dan bantuan peralatan, serta bimbingan teknis pembuatan alas kaki,” tambah dia.

Kemudian, program selanjutnya yang akan dilakukan adalah bimbingan teknis pembuatan lampu LED dan revitalisasi industri garam.

Untuk menyukseskan program Santripreneur ini, Bank Indonesia (BI) turut andil dalam memfasilitasi inkubator bisnis syariah mengenai keuangan mikro syariah dan nonkeuangan seperti agrobisnis serta perdagangan dan jasa.

“Inkubator bisnis syariah bertujuan untuk mendorong pengembangan ekonomi syariah melalui pemberdayaan ekonomi pesantren,” jelas Gati.

Adapun beberapa program yang diberikan, antara lain pelatihan motivasi usaha dan penyusunan bisnis plan, Pelatihan rapid rural appraisal (RRA), penyusunan feasibility study (FS), pelatihan strategi marketing, serta pelatihan hukum bisnis, fiqih mualah dan akad perbankan syariah.

Bekerja sama dengan bank sentral, Kemenperin ikut berpartisipasi dalam kegiatan Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) 2017 di Surabaya, dengan mengisi delapan gerai yang terdiri dari peserta IKM komoditas pangan, klinik kemasan, dan merek serta gerai hak kekayaan intelektual.

Sementara, dalam acara ini, para peserta santripreneur diberikan fasilitasi uji coba pasar (promosi) oleh BI, termasuk Pondok Pesantren Sunan Drajat.

ISEF sendiri merupakan salah satu acara ekonomi dan keuangan syariah terbesar dan terdepan di Indonesia dengan mengintegrasikan pengembangan sektor keuangan dengan perekonomian sektor riil.

Pada kesempatan kali ini, ISEF turut mengundang 80 Pimpinan dari perwakilan Pondok Pesantren besar seluruh pelosok Indonesia dan para penggiat ekonomi syariah.

Sumber ; gomuslim.co.id

Write a Reply or Comment