BIOGRAFI M NATSIR & CURHATAN ANIES BASWEDAN

Anies Baswedan saat peluncuran buku M Natsir.                                      Foto: Lukman Hakiem

Anies mengenal Natsir sejak masa kanak.

 

JIC, JAKARTA – –Acara peluncuran buku biografi M Natsir karya abangda Lukman Hakiem yang digelar kemarin (08/09/2019) di Indonesia International Book Fair (IIBF) 2019 ini, disebut-sebut –sekurangnya oleh Mohammad Siddik (Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) dalam sambutannya–sebagai buku biografi M. Natsir yang paling lengkap.

Sebelumnya telah banyak buku serupa (baik keluaran dalam maupun luar negeri) yang menyorot dari berbagai sisi jejak hayat dan pemikiran tokoh muslim negarawan ini, yang paling terkenal di antaranya adalah yang ditulis oleh Ajip Rosidi, “M. Natsir; Sebuah Biografi” (1990)

Dalam kesempatan itu, Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan diberikan kehormatan untuk melaunching buku setebal hampir 700 halaman terbitan Pustaka Al Kautsar ini. Menarik, di dalam sambutannya Anis ternyata lebih banyak berkisah.

“Saya dengan mas Lukman Hakiem (penulis –red) ini sudah kenal sejak lama. Dulu ketika di Jogja saat saya masih kelas lima atau enam SD, mas Lukman ini sering main ke rumah berdiskusi dengan kakek (AR Baswedan). Saat itu mas Lukman sebagai ketua HMI Cabang Jogjakarta. Maka rasanya apapun yang terjadi dengan saya sekarang ini, bagi mas Lukman saya (tetap) adalah seperti seorang anak kecil yang dulu sering ditemuinya itu.”

Gambar mungkin berisi: luar ruangan dan makanan

Anis melanjutkan kisahnya, dan kini mulai bercerita tentang hubungan Pak Natsir dengan kakeknya, “Antara kakek saya dengan Pak Natsir terjalin hubungan yang sangat akrab. Hal ini ditunjukkan dengan kebiasaan mereka memanggil sesamanya dengan sapaan ‘akhi’ (saudaraku). Bahkan dulu saat kakek menikah, Pak Natsir didaulat menjadi wali nikahnya. Hingga kemudian karena demikian hormat dan kagumnya kakek sama beliau, anak pertamanya diberi nama Hafidh Natsir.”

Dalam membaca dalam sejarah, lanut Anies, setelah Masyumi dibubarkan pada tahun 1960, Natsir kemudian melanjutkan perjuangan politiknya melalui jalur dakwah. Terkait ini beliau pernah mengeluarkan sebuah ungkapan yang terkenal, “Dulu kita berdakwah lewat jalur politik, sekarang kita berpolitik melalui jalur dakwah”. Maka didirikanlah Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), sebuah lembaga untuk menopang strategi dari cita-cita barunya tersebut.

“Nah, dulu rumah saya yang di Jogja itu juga merangkap sebagai kantor DDII Cabang Jogjakarta,” kenang Anis.

Sesungguhnya keakraban antara AR Baswedan dan Pak Natsir ini bukan semata alasan emosional. Lebih dari itu, mereka yang kebetulan lahir pada tahun yang sama, 1908 (usia antara keduanya hanya terpaut dua bulan; Natsir lebih tua dua bulan dari AR), juga aktif di partai yang sama, Masyumi. Dulu AR Baswedan selaku pemimpin himpunan bangsa peranakan Arab yang tinggal di Hindia Belanda (sebelum Indonesia lahir)–untuk mewadahi perjuangan merebut kemerdekaan—, memang pernah mendirikan Partai Arab Indonesia (PAI).

Akan tetapi, tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, karena tujuan kemerdekaan telah tercapai dan otomatis wadah partai sudah tidak lagi diperlukan, maka PAI pun membubarkan diri. Ini juga sekaligus menjadi bukti bahwa bangsa peranakan Arab sejak awal memang merasa melebur dengan bangsa pribumi. Bahwa tanah air Indonesia adalah juga tanah air mereka. Mereka bangga sebagai bangsa Indonesia.

Lalu para mantan anggota PAI yang masih ingin berkiprah di dunia politik, dipersilahkan masuk ke partai politik yang ada. AR Baswedan masuk di antara mereka yang ingin terus berjuang di jalur politik, kemudian memilih masuk Masyumi. Di sanalah interaksi AR. Baswedan dengan M Natsir menemukan ruang intensitasnya yang kelak pada kemudian hari sangat membekas dan bertumbuh menjadi serimbun kenangan indah.

Kisah M Natsir Berguru Kepada Tjokroaminoto Dalam Gerbong Kereta Api

Kembali ke catatan kenangan Anis, menurut ceritra yang ia dengar dari salah satu orang dekatnya pak Natsir, alasan kenapa Pak Natsir –misalnya– yang pada waktu itu sudah berusia senja selalu memaksakan diri untuk menerima tamu dari kalangan anak-anak muda yang datang dari berbagai daerah hanya untuk sekadar bertukar pikiran, penyebabnya adalah diawali dari sebuah epos menarik seperti terlukis di bawah ini.

Hari itu Pak Natsir naik kereta Api. Saat kereta berhenti di stasiun Jati Negara, dan banyak penumpang yang turun, beliau mendapati ada seorang tua yang tidak turut keluar menyusul penumpang lainnya. Penasaran, Natsir muda pun menghampirinya. Semakin medekati tujuan, Natsir seperti kenal dengan sosok yang nampak kharismatik itu. Tidak salah lagi, fikir natsir, beliau adalah Tjokroaminoto. Dan benar, setelah Natsir menyapa dan beruluk salam, orang tua itu adalah Pak Tjokro tokoh pergerakan yang sangat dikaguminya.

Perlahan, kereta pun mulai melaju meningalkan Jati Negara menuju Gambir. Hanya berdua dalam satu gerbong dengan seorang tokoh besar republik, Natsir muda memanfaatkan momen itu dengan berdiksusi sepuasnya. Bertanya berbagai hal, sampai tanpa terasa akhirnya tiba di stasiun tujuan akhir. Raga mereka berpisah. Tapi tidak jiwanya.

Selepas pertemuan singkat itu Natsir muda membara. Semangat juang menggebu. Natsir cerdas yang sebelumnya sangat potensial meneruskan sekolah hukum ke Belanda itu akhirnya bertekad untuk mengganti cita-citanya, lebih memilih terjun langsung ke dalam kancah perjuangan politik dan pendidikan. Dari sanalah, dari gerbong kereta ekonomi Jati Negara, karir politik nasional Natsir bermula dengan penuh gelora.

Dari fase yang mengesankan itulah, fase dimana seorang pemuda Natsir begitu senang karena dilayani dengan sepenuh hati untuk berdiskusi oleh sorang renta Tjokroaminoto, membuat Natsir senja berketetapan hati untuk mengikuti teladan gurunya tersebut; senantiasa menerima tamu anak-anak muda, dengan harapan kelak akan ada di antara mereka yang terinspirasi sebagaimana dulu ia terinspirasi.

sumber ; Republika.co.id

Write a Reply or Comment

thirteen − one =