BOM SURABAYA: ‘SAYA TIDAK TERLALU KAGET DITA MELEDAKKAN DIRI BERSAMA KELUARGANYA’ (3)

Diajak ‘perang-perangan’

JIC, JAKARTA- Seraya tertawa, Faiz mengingat lagi kegiatan “perang-perangan” yang diikutinya saat melakukan lawatan ke luar kota.

“Lucu ini, topik awalnya kita rekreasi, lalu sampai diajak perang-perangan. Renungan malam, sampai diajak menangis untuk memperjuangkan Islam garis keras.”

Seingatnya, saat latihan perang-perangan digelar, dunia internasional dikejutkan invasi AS ke Irak dan kecamuk di Balkan akibat perang etnis.

“Itu video diputar di sekolah-sekolah, di masjid-masjid tentang pembantaian orang Islam di Bosnia. Makin menggelegak darah kita.”

Di komunitas itu kemudian beredar majalah yang menggambarkan “kekerasan” di wilayah konflik tersebut.

bom surabayaHak atas fotoANTARA/UMARUL FARUQ
Image captionPetugas kepolisian berjaga di sekitar lokasi ledakan di Rusunawa Wonocolo, Taman Sepanjang, Sidoarjo, Jawa Timur, Minggu (13/05) malam.

“Dan ditampilkan foto anak-anak yang berdarah-darah dan video-video yang ngeri, kemudian malam hari diajak sampai terharu, dan hati kita disayat-sayat, sudah masuk indoktrinasinya,” Faiz mengenang apa yang terjadi saat itu.

Namun demikian, dalam perjalanannya, Faiz kemudian memutuskan meninggalkan pengajian “radikal” seperti itu karena merasa “tidak nyaman”.

“Beberapa kali pengajian, kok sangat ekstrem (pemikirannya), lalu saya tinggalkan, saya keluar,” akunya.

Alasan ini pula yang membuat dia meninggalkan aktivitas rois di sekolahnya yang dipimpin Dita.

Benih-benih ekstremisme

Dalam bagian lain tulisannya, Faiz kemudian menulis: “Yang ingin saya katakan, terorisme dan budaya kekerasan yang kita alami saat ini adalah panen raya dari benih-benih ekstremisme-radikalisme yang telah ditanam sejak 30-an tahun yang lalu di sekolah-sekolah dan kampus-kampus.”

bom surabayaHak atas fotoREUTERS
Image captionSejumlah anggota kepolisian mengevakuasi rongsokan sepeda motor yang terbakar akibat ledakan bom di depan gereja Pantekosta, Minggu (13/05).

Menurutnya, semua pihak kini harus menetralisir “kegilaan” ini sampai ke akar-akarnya.

“Tidak ada gunanya kita melakukan penyangkalan (denial) bahwa ini cuman rekayasa, pelakunya ndak paham Islam, ini bukan bagian dari ajaran Islam, ini pasti cuman adu domba, dan lain-lain.”

“Ini tidak lagi sebuah film di bioskop atau berita koran yang terjadi nun jauh di negeri seberang. Ini sudah terjadi di sini dan saat ini disekitar kita,” tegas Faiz yang kini memimpin lembaga training psikologi, SEFT, di Jakarta.

Di akhir tulisannya, Faiz kemudian memberikan solusi, antara lain, SMA dan kampus-kampus harus disterilkan dari gerakann bawah tanah Islam garis keras.

Diganti dengan “kemeriahan dan kegembiraan aktivitas Islam” yang menebarkan cinta dan welas asih kepada sesama manusia.

Apa komentar pengamat?

Pengamat masalah terorisme dan pimpinan yayasan Prasasti yang membina para bekas napi teroris , Nur Huda menyambut positif langkah anggota masyarakat yang membagikan pengalamannya yang berhasil menolak bujukan untuk bergabung kelompok Islam radikal.

“Artinya kebangkitan civil society untuk melawan terorisme secara nyata,” kata Nur Huda kepada BBC Indonesia, Selasa (14/05) sore.

bom surabayaHak atas fotoANTARA/MAULANA SURYA
Image captionWarga menyalakan lilin dan berdoa bersama untuk korban bom gereja di Surabaya dalam aksi solidaritas di Solo, Jawa Tengah, Minggu (13/05).

Menurutnya, kekuatan terbaik dari gerakan melawan terorisme adalah yang muncul dari orang-orang yang pernah ‘bergabung’ di dalamnya.

“Dan dari kesaksian ini, kita jadi tahu bahwa proses radikalisasi itu ternyata proses yang super lama. Apa yang kita lihat itu puncak gunung es saja,” kata Nur Huda. “Tapi akarnya itu banyak.”

Itulah sebabnya, jika perlawanan terhadap terorisme itu hanya mengandalkan negara semata, itu akan sulit untuk menyelesaikannya.

“Nah, gerakan civil society seperti ini (melalui kesaksian orang-orang yang pernah bergabung kelompok radikal), enggak perlu negara turun tangan juga,” ujarnya saat ditanya apakah pemerintah perlu menindaklanjuti gerakan ini.

“Nanti kalau negara turun tangan langsung, malah gerakan ini kehilangan kredibilitasnya,” anggap Nur Nuda.

“Jadi biarkan kegiatan ini yang organik.”

 

Sumber : bbcindonesia.com

Write a Reply or Comment

three × four =