BOM SURABAYA: ‘SAYA TIDAK TERLALU KAGET DITA MELEDAKKAN DIRI BERSAMA KELUARGANYA’

JIC, JAKARTA- Serangkaian aksi bom bunuh diri di Surabaya mendorong sejumlah pengguna media sosial membagikan pengalaman ketika berhasil menolak bujukan untuk bergabung kelompok Islam radikal.

Kesaksian mereka ini menarik perhatian pengguna sosial lainnya dan melahirkan gelombang kesaksian serupa di media sosial seperti Facebook.

Salah-seorang yang membagikan kesaksiannya di Facebook adalah Ahmad Faiz Zainuddin, pria asal Surabaya kelahiran 1977.

Saat duduk di bangku SMA Negeri 5 Surabaya, Faiz mengaku kenal dengan Dita -tersangka pelaku bom bunuh diri bersama istri dan anak-anaknya di tiga gereja di Surabaya- dalam acara pengajian keislaman.

“Orangnya halus, enggak kasar, bahkan kawan-kawan saya bilang, lalat saja dia enggak akan membunuh,” Faiz kepada BBC Indonesia, mencoba menggambarkan sosok Dita, kakak kelasnya, yang dikenalnya 25 tahun silam dalam sebuah acara pengajian.

“Tapi senior saya itu rupanya berevolusi…”

Ahmad Faiz mengaku, saat itu, tertarik mengikuti berbagai diskusi keislaman karena ingin “menyelami” berbagai “pemikiran dan suasana batin” aktivitas tersebut.

ahmad FaizHak atas fotoAHMAD FAIZ ZAINUDDIN/FACEBOOK

Semenjak SMA hingga kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya, dia mengaku mengikuti berbagai versi pemikiran dan aktivis Islam “dari yang paling radikal sampai liberal, dari Sunni, Sufi, Wahabi, Syiah, hingga Negara Islam Indonesia.”

Tetapi, “Dan dari semua versi tadi, yang paling saya khawatirkan adalah versi kakak kelas saya, almarhum Dita.”

“Saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak ‘jihad’ dia, karena benih-benih ekstremisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu,” tulisnya dalam akun Facebooknya.

Sumber : bbcindonesia.com

Write a Reply or Comment