BUKHARA: KISAH SEBUAH KOTA DALAM PENAKLUKAN ISLAM

JIC – Penaklukan pertama kali sejarah kota Bukhara oleh umat Muslim terjadi pada tahun 674 oleh gubernur Khorasan, Ubaidillah Bin Ziyad. Tapi 30 tahun kemudian, kekuasaan Islam di kota itu  baru bisa dicapai. Setelah Kuteybe Bin Muslim, gubernur baru Khorasan mengalahkan perlawanan sekutu Turki dengan penguasa lokal dan menempatkan pasukan di seluruh kota.

Muslim Arab memberi kontribusi besar terhadap Islamisasi kota Bukhara. Sedemikian pentingnya, untuk memudahkan dan mempercepat perpindahan masyarakat untuk memeluk Islam secara masal dan menyelesaikan masalah-masalah sosial yang dihadapi karena kendala bahasa, pembacaan kitab suci Al Quran dalam bahasa Persia selama melaksanakan ibadah shalat diijinkan. Dengan alasan tersebut berdasarkan sumber yang ada, Bukhara menjadi satu-satunya kota di mana peraturan ini diterapkan. Solusi ini sangat membantu meningkatkan jumlah orang yang beralih memeluk dan beradaptasi dengan agama Islam secara cepat.

Bahasa Persia adalah bahasa pertama yang digunakan membaca Al Qur’an selain dari bahasa Arab khususnya ketikah ibadah shalat dimulai. Islam pertama kali dialihkan ke bahasa Persia setelah bahasa Arab. Dengan mengesampingkan pendapat agama dan pandangan hukum, bagaimana pun juga evaluasi dan debat, berapa lama aturan ini diterapkan tidak diketahui secara pasti. Buku ‘Tarih-I Buhara’ yang ditulis ahli sejarah terkenal, ‘Nersahi’ adalah sumber paling penting yang memberikan informasi tentang masalah ini.

Menurut ‘Sureyh en-Nersahi’ yang lahir di sebuah desa dekat Bukhara, melaporkan bahwa tak ada buku mengenai wilayah itu sebelum Islam dan periode setelah penaklukan Arab, tentang ibadah yang menggunakan bahasa Persia. “Masyarakat Bukhara, pada tahap awal Islam tidak bisa membaca Qura’an dalam bahasa Arab, telah melakukan ibadah shalat dan berdoa menggunakan bahasa Persia. Begitu juga saat shalat berjemaah, masyarakat tidak mengenal bahasa Arab. Ketika rukuk, mereka menyerukan dengan keras ‘Bekunita-Nekinet’ dan saat sujud imam menyerukan “Nekuniya- Nekinet” sehingga jama’ah akan rukuk dan sujud menuruti perintah tersebut.

Ini adalah salah satu contoh yang menarik di mana Islam menaklukkan kota-kota dan program Islamisasi diluncurkan, juga untuk meningkatkan orang yang beralih ke agama Islam, menarik masyarakat kelas menengah dan kaum miskin, (tak ada contoh lain yang terlihat di wilayah kekuasaan Ummayyah), uang diberikan kepada Mualaf yang datang untuk ibadah Jum’at sebagai imbalan. “Nersani” melaporkan setiap hari Jum’at seseorang akan meneriakkan dengan keras ‘imbalan dua dirham’ sehingga banyak orang yang kesulitan keuangan pura-pura menjadi Muslim dan datang ke Masjid pada hari Jum’at untuk mendapatkan imbalan. Walaupun demikian tidak mudah bagi Islam untuk berkembang di Bukhara di mana agama Zoroaster masih dominan karena kuteybe Bin Muslim terkenal dengan karakternya yang keras, suka melakukan tindakan opresif.

Sumber : muslimahdaily.com

Write a Reply or Comment