BUKU TENTANG JARINGAN ULAMA BETAWI

Memperingati maulid Nabi Muhammad saw. secara tidak langsung juga memperingati kelahiran ulama sebagai pewarisnya. Ulama yang juga terus-menerus terlahirkan (maulud) dalam rangkaian rantai keilmuan atau genealogi intelektual yang panjang dari satu bapak, yaitu Rasulullah saw. sendiri. Rantai ini tidak berujung tunggal, tidak terhenti di jazirah Arab. Ujungnya banyak. Menyebar ke Afrika, Eropa, Amerika, Asia, juga sampai ke tanah Betawi.

<< (Mesjid Jami Al-Manshur, Jembatan Lima)

(Mesjid Jami Al-Manshur, Jembatan Lima). Memperingati maulid Nabi Muhammad saw. secara tidak langsung juga memperingati kelahiran ulama sebagai pewarisnya. Ulama yang juga terus-menerus terlahirkan (maulud) dalam rangkaian rantai keilmuan atau genealogi intelektual yang panjang dari satu bapak, yaitu Rasulullah saw. sendiri. Rantai ini tidak berujung tunggal, tidak terhenti di jazirah Arab. Ujungnya banyak. Menyebar ke Afrika, Eropa, Amerika, Asia, juga sampai ke tanah Betawi. Jika kita mendatangi rumah sebagian ulama Betawi, biasanya di depan rumah terpajang sebuah bagan genealogi intelektual si empunya rumah yang terbingkai indah di dalam kaca dan ditulis dalam bahasa Arab. Tertulis di paling bawah dari bagan tersebut adalah nama si empunya rumah yang tersambung sampai ke Rasulullah saw. Lalu, siapakah orang-orang yang mewariskan genealogi intelektual tersebut kepada si empunya rumah, apa saja yang diwariskan dan kepada siapa ia akan mewariskannya? Jika ini bisa dijelaskan secara komprehensif, maka persoalan-persoalan kepemimpinan, keteladanan, kearifan dan persoalan moralitas ummat lainnya yang terjadi kini dan kelak, khususnya di Jakarta, dapat ditemukan sebagian solusinya dan dapat diantisipasi sejak dini.

Ini salah satu alasan utama Jakarta Islamic Centre (JIC) melakukan penelitian genealogi intelektual ulama Betawi sejak tahun 2007, 2008, 2009, di bawah bimbingan Dr. KH. Ahmad Syafi`i Mufid, APU, Syekh KH. Saifudin Amsir, Drs. H. Ridwan Saidi, Prof. Dr. Yasmine Zaki Shahab, dan Alwi Shahab dan dilanjutkan pada bulan Oktober sampai dengan Nopember 2010 di bawah bimbingan Prof. Dr. Azyumardi Azra, Drs. Ridwan Saidi, dan JJ Rizal. Hasil penelitian ini kemudian diterbitkan oleh JIC dalam sebuah buku yang berjudul Genealogi Intelektual Ulama Betawi: Melacak Jaringan Ulama Betawi dari awal Abad ke-19 sampai Abad ke-21. Buku ini telah diseminarkan pada hari Rabu, 16 Februari 2011 dengan pembicara Prof. Dr. Azyumardi Azra dan Drs. H. Ridwan Saidi; pembahas Prof. Dr. KH. Musa bin Fathullah Harun dan Dr. KH. Ahmad Luthfi Fathullah Mughni, MA dengan penanggap KH. Mahfudz Asirun.

Di dalam pengantar buku ini, Prof. Dr. Azyumardi Azra mengatakan bahwa buku ini memperkuat perkembangan di Indonesia sebuah genre literatur yang dalam istilah historiografi berbahasa Arab disebut sebagai tarjamah (jamak, tarajim), yaitu semacam yang dalam historiografi di Barat disebut ‘kamus biografi’ (biographical dictionary). Genre literatur semacam ini bahkan memiliki sejarah sangat lama. Dejak masa awal Islam genre ini sudah ada dalam bentuk genre tabaqat (generasi) ulama atau tokoh-tokoh lain; dan bahkan juga asma’ al-rijal—nama dan riwayat hidup para perawi hadits yang memang diperlukan untuk mengetahui otoritas orang-orang yang ada dalam sanad dan perawi hadits. Memang, tradisi historiografi semacam ini berasal dari kebutuhan untuk memastikan kualitas hadits—apakah sahih, atau dha’if dan seterusnya.

Masih menurut Prof. Dr. Azyumardi Azra, di Indonesia genre literatur tarajim ulama jelas masih langka; padahal sangat dibutuhkan, bukan hanya untuk mengetahui biografi ulama-ulama, tetapi juga untuk rekonstruksi sejarah sosial intelektual Islam. Salah satu perintis genre tarajim ulama di Nusantara adalah Sirajuddin Abbas yang menulis tentang ‘tabaqat Syafi’iyah’. Belakangan ini juga muncul semacam ‘kamus biografi ulama’ Nusantara sejak abad 17—yang sayangnya tidak mencakup ulama Betawi. Saya sendiri pernah menyunting dua ‘tarajim siyasi’ (biografi politik) menteri-menteri agama RI sejak masa awal kemerdekaan; dan juga biografi sosial intelektual ulama perempuan Indonesia. Tapi juga jelas, baru kali ini ada tarajim ulama salah satu kelompok etnis Muslim Nusantara—dalam hal ini adalah ulama Betawi. Karena itu, karya ini dapat mendorong penulisan ‘tarajim’ ulama di daerah lain, yang sekaligus dapat memperkaya pengetahuan kita tentang sejarah Islam lokalitas tertentu, sehingga mampu menambah pengetahuan, penghargaan dan kebanggaan kaum Muslim Indonesia kepada ulama-ulama mereka, yang telah memberikan kontribusi besar dalam penguatan dan dinamika Islam Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan.

Semoga buku ini menjadi sumbangan yang berharga dari JIC bagi khazanah sejarah dan perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Jakarta. Namun demikian, buku ini tetap harus dilengkapi isinya supaya lebih representatif. Untuk itu diharapkan kepada para pembaca ntuk tidak segan-segan memberikan masukan kepada JIC, agar kedepan JIC bisa lebih banyak lagi menghasilkan karya-karya Islam yang berbobot. Amin.***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Staf Seksi Pengkajian Bidang Diklat JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Evaluasi SKB Ahmadiyah, Pemerintah akan Gelar Dialog Nasional

Read Next

‘Ada yang Senang Kalau Indonesia Ribut Terus’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + sixteen =