CERITA SISWA STM DEMO CIPTAKER: JAKARTA MEMANGGIL

Pelajar STM yang ikut demo tolak omnibus law cipta kerja, Kamis (8/10). CNN Indonesia/ Yandhi
Jakarta, JIC — Baju hitam Angga basah dengan keringat. Pada beberapa titik di wajahnya terlihat masih berpeluh. Dengan raut yang terlihat kelelahan, remaja 15 tahun itu duduk sambil menyelonjorkan kaki di sebuah taman di sekitar Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat.“Belum sampai ke depan, istirahat dulu, bang,” kata dia kepada CNNIndonesia.com, Kamis (8/10) sore.

Angga adalah satu dari ribuan massa yang ikut demo di Jakarta Kamis ini. Pelajar Sekolah Teknik Menengah (STM) ini datang bersama puluhan teman-teman seusianya dari Kota Bekasi, Jawa Barat.

Tak membawa kendaraan ataupun menaiki kereta, menuju Ibu Kota, mereka hanya menumpang beberapa kendaraan.

“Nge-BM dari Bekasi, tadi dari jam 9 udah kumpul ramai-ramai,” kata dia.

Berangkat sejak pagi, Angga mengaku hanya ikut-ikutan dan tidak tahu apa yang sebenarnya menjadi tuntutan demo itu. Informasi mengenai demo itu sendiri, ia peroleh dari postingan di media sosial.

“Enggak tahu soal apa. Tahunya ‘Jakarta Memanggil’. Undangannya itu ‘Jakarta Memanggil’,” kata dia.

Mengikuti demo kali ini, merupakan pengalaman pertama baginya, karena hal itu, ia sempat was-was ketika beberapa temannya yang juga berangkat dari Bekasi, diamankan pihak kepolisian.

“Kocar-kacir tadi ada 3 orang temen yang ditangkap di Harapan Indah (Bekasi). Untung kita lari ini. Apalagi ini lagi bawa cewek,” ucap dia.

Sejumlah pelajar STM di Bekasi memang ditangkap aparat kepolisian hari ini. Mereka ditangkap usai berusaha menyerang pos penjagaan polisi Harapan Indah, Jalan Sultan Agung, perbatasan Bekasi-Jakarta, Kamis (8/10).

Dari pantauan sejumlah pelajar STM itu sempat berusaha menghindari pos penjagaan polisi.

Sama seperti Angga, pelajar STM lainnya, Farhan, yang juga berasal dari Kota Bekasi, mengetahui adanya aksi demonstrasi hari ini dari Facebook. Undangannya juga sama, “Jakarta Memanggil”.

Meski tak tahu apa yang jadi tuntutan, ada satu alasan Farhan datang mengikuti demo, yakni solidaritas.

“Solidaritas aja ramai-ramai, kayak di tempat lain. Ini juga jadi nambah teman, awalnya gak kenal, tapi pas kumpul nge-BM, jadi kenal,” kata dia.

Remaja berusia 15 tahun ini mengaku bisa saja ikut demo yang ada di Kota Bekasi, namun, ia lebih memilih datang ke Jakarta dengan alasan sekalian jalan-jalan.

Infografis UU Ketenagakerjaan vs Omnibus Law Cipta KerjaFoto: CNN Indonesia/Timothy Loen

“Kalau di Bekasi kan kampung sendiri. Ini ke Jakarta sekalian jalan-jalan,” ucap dia.

Dalam demonastrasi menolak Omnibus Law yang tersebar di sejumlah daerah itu, ratusan pelajar STM diamankan kepolisian.

Misalnya, di Bekasi. Kapolsek Medan Satria Kompol Agus Rochmat mengatakan para pelajar memaksa untuk menerobos barikade petugas yang berjaga di pos penyekatan ke Jakarta. Bahkan, mereka sempat melemparkan batu hingga kayu ke arah pos polisi Harapan Indah.

Pihaknya pun mengamankan ratusan anak STM/SMA yang akan mengarah ke Jakarta.

Selain itu, 183 pemuda dan remaja pelajar juga diamankan polisi dalam aksi unjuk rasa menolak Omnibus Law di depan Gedung DPRD Sumsel, Rabu (7/10).

Mereka disebut menyusup ke barisan para demonstran buruh dan mahasiswa.

Fenomena yang sama terjadi saat demo menolak RKUHP, beberapa waktu lalu. Kebanyakan dari mereka hanya terpanggil solidaritasnya tanpa begitu tahu soal isu yang diperjuangkan.

(yoa/ain)

Sumber : cnnindonesia.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

TUDINGAN PENUNGGANG DEMO DI TENGAH KERESAHAN PADA OMNIBUS LAW

Read Next

PASAL DI UU CIPTA KERJA YANG DINILAI LEMAHKAN PERAN ULAMA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + thirteen =