DARI MUKHLISH KE MUKHLASH

wallcoocom_daisy_by_dimage

JIC – Tidak semua orang melakukan perbuatannya dengan ikhlas. Tidak semua orang yang melakukan perbuatannya dengan ikhlas (mukhlish) dapat disebut mukhlash. Dengan kata lain, semua orang yang memiliki kapasitas mukhlash sudah pasti mukhlish, tetapi belum tentu seorang mukhlish adalah mukhlash.  

Dari kata ikhlash lahir kata mukhlash, berarti orang yang mencapai puncak keikhlasan sehingga bukan dirinya lagi yang yang berusaha menjadi orang ikhlas (mukhlish) tetapi Allah Swt yang proaktif untuk memberikan keikhlasan itu. Mukhlish masih sadar kalau dirinya berada pada posisi ikhlas, sedangkan mukhlash sudah tidak sadar kalau dirinya sedang berada dalam posisi ikhlas. Keikhlasan sudah merupakan bagian dari habit dan karakternya di dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Kalangan sufi memaksudkan konsep ikhlas itu sebagai mukhlash. Syekh al-Fudhail mengatakan: “Menghentikan suatu amal karena manusia adalah riya’, dan mengerjakan suatu karena manusia adalah syirik”. Sahl bin Abdullah mengatakan, ikhlas merupakan ibadah yang paling sulit bagi jiwa, sebab diri manusia tidak punya bagian di dalamnya. Abu Said al-Kharraz menambahkan, riya’nya para ‘arifin (ahli ma’rifah) adalah lebih utama dari pada ikhlasnya para murid. 

Al-Sariy Rahmatullah ‘alaih mengatakan, barangsiapa berhias karena manusia dengan apa yang bukan miliknya, maka ia akan terlempar dari penghargaan Allah. Kata Ruwaim bin Ahmad bin Yazid al-Baghdadi, ikhlas adalah segala amal yang dilakukan pelakunya tidak bermaksud mendapatkan balasan, baik di dunia maupun di akhirat. Ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menyembunyikan kejelekannya. Abu Ya’kub al-Susiy Rahimahullah mengatakan, barang siapa melihat dalam keikhlasannya suatu keikhlasan, maka keikhlasannya itu masih memerlukan keikhlasan lagi. 

Jika masih dalam kadar mukhlish maka yang bersangkutan masih riskan untuk digoda berbagai maneuver iblis, karena masih menyadari dirinya berbuat ikhlas. Sedangkan dalam kadar mukhlash, Iblis sudah menyerah dan tidak bisa lagi berhasil mengganggunya karena langsung di-back-up oleh Allah Swt.

Berbagai firman Allah Swt menyebutkan bahwa orang-orang yang sudah sampai di maqam mukhlash, maka Iblis sudah tidak berdaya lagi menggodanya, sebagaimana pernyataan Iblis yang disebutkan dalam ayat: “Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlas di antara mereka”. (Q.S. al-Hijr/15:39-40).

Dalam ayat lain disebutkan: “Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka. (Q.S. Shad/38:82-83).

Perkatikan ayat-ayat tersebut di atas semuanya menggunakan kata al-mukhlashin (bentuk jamak dari mukhlash)¸ bukannya al-mukhlishin (bentuk jamak dari mukhlish). Ini menunjukkan bahwa jika keikhlasan seseorang baru sampai di tingkat keikhlasan awal maka tidak ada jaminan untuk bebas dari godaan Iblis. Orang-orang yang sudah mencapai tingkat al-mukhlashin bukan hanya terhindar dari cengkeraman Iblis tetapi juga terhindar dari fitnah dan berbagai kecelakaan sosial. 

Untuk mencapai tingkat mukhlash diperlukan latihan spiritual (mujahadah) yang tinggi dan telaten (istiqamah). Mencapai derajat mukhlish saja begitu sulit, apalagi mencapai tingkat mukhlash. Seorang ulama tasawuf bernama Makhul mengatakan: “Tidak seorang pun hamba yang ikhlas selama 40 hari kecuali  akan tampak hikmah dari hatinya melalui lidahnya.” Barang siapa yang sudah mencapai tingkat mukhlash maka patutlah bersyukur karena ia sudah berhasil menjadi orang yang langka. Kelangkaannya terlihat dari sulitnya menemui orang yang betul-betul ikhlas tanpa pamrih sedikit pun dari amal kebajikannya.

Banyak sekali orang-orang yang kelihatannya sudah menjadi tokoh bahkan ulama tetapi masih berhasil tergoda dan jatuh di dalam cengkeraman nafsunya dan perbuatan terlarang. Itu menjadi pertanda perlunya kita selalu mengasah keikhlasan. Kita memohon kiranya kita ditingkatkan menjadi manusia yang tadinya tidak pernah ikhlas menjadi mukhlis, lalu terus berdoa dan bersusaha untuk meraih martabat mukhlash. Allahu a’lam.

Oleh KH Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta)

Sumber ; republika.co.id

Write a Reply or Comment

12 + fifteen =