DEMI REDAM EKSTREMISME, ALJAZAIR BANGUN MASJID TERBESAR KE-3 DI DUNIA

1047385Masjid-Aljazair780x390

JIC – Pemerintah Aljazair sedang membangun masjid raksasa yang akan menjadi masjid ketiga terbesar di dunia setelah masjid di Mekkah dan Madinah, Arab Saudi.

Para pejabat negeri itu mengklaim, pembangunan masjid besar ini adalah cara untuk melawan radikalisme Islam dan penghormatan bagi Presiden Abdelaziz Bouteflika.

Masjid yang dinamai Djamaa El Djazair itu dibangun di kawasan teluk Algiers yang indah sebagai bagian sebuah kompleks yang termasuk perpustakaan sejuta buku, madrasah, serta museum sejarah dan seni Islam.

Masjid ini juga akan dilengkapi sebuah menara setinggi 265 meter, tertinggi di dunia, serta ruang shalat seluas 20.000 meter persegi yang mampu menampung 120.000 orang umat.

Kompleks ini dibangun di antara sebuah lokasi yang direncanakan sebagai daerah tujuan wisata dan kawasan permukiman kelas pekerja yang dulu dikenal sebagai basis kelompok Islam radikal.

“Beberapa kalangan menuduh kami membangun kuil bagi ekstremisme,” kata Ahmed Madani, penasihat kementerian perumahan yang bertanggung jawab atas pembangunan masjid ini.

“Namun sebaliknya, masjid ini akan menjadi tamparan keras bagi kelompok militan. Mereka yang paling menentang proyek ini,” tambah Madani.

Masjid yang dijadwalkan selesai dibangun pada 2017 itu akan menjadi lambang Islam moderat di Aljazair.

“Masjid ini juga akan menjadi tameng dari segala bentuk ekstremisme,” lanjut Madani, yang berharap keberadaan masjid ini bisa menghindarkan umat Muslim dari masjid yang dikelola kelompok militan.

Sejak 1962

Menurut Madani, pemerintah Aljazair sebenarnya sudah memiliki rencana pembangunan masjid besar ini sejak 1962, saat mendapatkan kemerdekaan dari Perancis.

“Mimpi yang sudah dimulai sejak dulu kini mulai menjadi kenyataan, setelah terpilihnya Bouteflika, seorang yang dikenal akan kecintaannya terhadap budaya dan kesenian Islam,” tambah Madani.

Presiden berusia 79 tahun itu sudah berkuasa sejak 1999. Dia sangat dihormati karena perannya mengakhiri perang saudara di Aljazair.

Namun, lawan-lawan politik Bouteflika dan para aktivis HAM menuduh sang presiden sedang berupaya melanggengkan kekuasaannya.

“Masjid ini tak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Masjid ini juga akan menjadi tempat di mana jalinan iman dan kebudayaan akan diperkuat berkat adanya perpustakaan ultra-moderen dan sekolah Al-Quran yang akan menampung 300 siswa,” ujar Madani.

Berbiaya mahal

Sementara itu, Menteri Perumahan Aljazair Abdeladjid Tebboune mengatakan, rencana pembangunan masjid ini sudah diluncurkan pada 2012, saat harga minyak dunia sedang mencapai puncaknya.

Empat tahun kemudian, Aljazair mengalami kekurangan pendapatan bersamaan dengan melorotnya harga minyak dunia serta berkurangnya cadangan mata uang asing yang dimiliki negeri itu.

Padahal, kompleks masjid ini butuh 1,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp 16 triliun, jumlah uang yang banyak dikritik sejumlah kalangan di Aljazair.

Para pengkritik menyebut dengan uang sebanyak itu pemerintah seharusnya bisa membangun rumah sakit atau sarana layanan publik lainnya.

Sejumlah pakar juga memperingatkan biaya pembangunan masjid ini kemungkinan besar akan membengkak jika tenggat waktu tak terpenuhi.

“Sebagian besar pekerjaan jauh dari kata selesai dan butuh waktu lama untuk menyelesaikannya,” ujar seorang arsitek kepada AFP merujuk pada instalasi teknis, dekorasi mural dan kaligrafi yang belum selesai.

Masjid ini nantinya akan dilengkapi panel surya dan sistem sirkulasi air yang rumit untuk mengelola air hujan dan akan digunakan untuk kebutuhan lainnya.

Pembangunan masjid ini sendiri dilakukan oleh Perusahaan Teknik Konstruksi China (CSCEC) yang sudah beroperasi selama 30 tahun di Aljazair dan membangun lima hotel besar di negeri itu.

CSCEC mengalahkan sebuah perusahaan Lebanon-Italia dan Aljazair-Spanyol dalam kompetisi mendapatkan tender proyek raksasa ini.

Daerah gempa

Masalah lain yang dihadapi adalah terdapat kemungkinan masjid ini rusak atau hancur akibat gempa bumi.

Sebab, Aljazair berada di atas dua lempeng utama dan kerap diguncang gempa bumi, terutama wilayah di sepanjang pesisir Laut Tengah.

Pada 2003, gempa bumi menghantam kota Boumerdes di wilayah timur negeri itu dan menewaskan hampir 3.000 orang dan mengakibatkan 10.000 orang lainnya terluka.

Pakar gempa bumi, Abdelakrim Chelghoum telah memperingatkan pemerintah bahwa studi seismik yang dilaukan sebuah perusahaan Jerman menyebut ada risiko besar gempa menghancurkan masjid itu.

Namun, Madani sang pemimpin proyek mengabaikan peringatan itu. Dia yakin mekanisme untuk menyerap gerakan bumi sudah dibangun.

Dengan sistem itu, masjid dan bangunan lain di komplek tersebut mampu bertahan terhadap guncangan gempa hingga kekatan 9 magnitudo.

Sumber ; kompas.com

Write a Reply or Comment

five × four =