DIALOG JIC : AGAR ANAK TIDAK TERDAMPAK EFEK PERCERAIAN ORANG TUA, BEGINI SOLUSINYA!

JIC – Divisi Sosial Budaya Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta atau dikenal dengan Jakarta Islamic Centre menyelenggarakan Dialog Budaya Keagamaan di Ruang Audio Visual JIC (25/4). Bertema “Pengaruh Perceraian Orang Tua Terhadap Psikologi Anak di Era Milenial” ini mengundang Pakar Psikologi Anak, Nunki Nilasari, S.Psi dan Drs. H. Waljon Siahaan, SH MH, Hakim Pengadilan Jakarta Utara.

“Konflik rumah tangga bisa saja dimulai dari jejak digital. Maka dari itu sepelik apapun permasalahan, Bersopan santunlah di sosial media.” Ungkap Nunki

Pakar Psikologi Anak, Nunki Nilasari, S.Psi (kiri) dan Hany Fitriyah Moderator (Kanan)

Perceraian berdampak bagi ibu yang sedang mengandung, yakni kemarahan dan depresi ibu dapat dirasakan oleh janin.

“Usia 0-2 tahun, usia yang masih dipengaruhi oleh lingkungan. Perubahan mendadak membuat anak tidak nyaman, gelisah, menangis, sering terbangun, perubahan pola makan dan masalah pencernaan, serta sangat tergantung pada pengasuh.” Tegasnya

Nungki mengungkapkan solusi bagi kedua orang tua yang bercerai adalah dengan berusaha mengatasi bersama-sama dampak perceraian pada anak. Selain itu, hindari rasionalisasi, dan jangan menceritakan detail buruk atau hal yang dapat menimbulkan trauma pada anak. Serta mempertahankan rutinitas dan meminimalisir perubahan karena pada dasarnya anak-anak mudah untuk sembuh.

Fakta mengenai perceraian dijabarkan oleh Drs. H. Waljon Siahaan, SH MH, Hakim Pengadilan Jakarta Utara yang mengungkapkan kasus perceraian yang terjadi sepanjang tahun 2018, sebanyak 1.177 Perselisihan dan Pertengkaran Terus Menerus, 370 Kasus ekonomi, 54 KDRT, dan 222 meninggalkan salah satu pihak.

Drs. H. Waljon Siahaan, SH MH, Hakim Pengadilan Jakarta Utara

“Ada kasus suami yang suka main game online digugat cerai. Pada dasarnya, menikah ini bukan sebatas menghalalkan hubungan saja. Jauh lebih penting dari itu adalah tentang kesiapan berumah tangga.” Tegasnya

Ia menyampaikan perpisahan kedua orang tua menjadi mimpi buruk bagi anak-anak, maka dari itu ia menyampaikan bahwa ungkapkan selalu pesan positif kepada anak.

“Dengan kalimat aku percaya padamu, aku tahu kamu bisa mengatasi ini, kamu selalu disayang, kamu terpenting bagiku. Menjadi sebuah penyemangat agar anak-anak tidak terdampak efek psikologis perpisahan kedua orang tua.” Tutupnya. (ZS)

Sesi Tanya Jawab Peserta kepada Narasumber

Write a Reply or Comment

thirteen − 10 =