DINASTI POLITIK: PUTRA DAN MENANTU JOKOWI BERNIAT IKUT PILKADA, ‘GODAAN KEKUASAAN SULIT DITEPIS’

AFP/GETTY IMAGES
Image captionPresiden Joko Widodo beserta istri dan kedua putranya menghadiri upacara pernikahan putrinya, pada 2017 lalu.

JIC, JAKARTA — Kemunculan Joko Widodo di kancah politik nasional pada mulanya diyakini bisa mendobrak dinasti politik di tanah air. Tapi sekarang, satu per satu anggota keluarganya mulai berniat mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

Gibran Rakabuming Raka, si anak sulung, mengaku hendak mencalonkan diri sebagai wali kota Solo— kursi yang pernah ditempati bapaknya.

Bukan hanya Gibran. Bobby Nasution, menantu Jokowi, sudah mengambil formulir pendaftaran bakal calon Wali Kota Medan pada 13 September lalu.

 

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini, menilai fenomena ini sebagai awal kelahiran dinasti politik baru dari klan Jokowi.

“Secara moral menjadi sesuatu yang disayangkan oleh banyak kelompok. Karena ternyata kekuasaan itu menggoda, dan godaan itu sulit ditepis oleh lingkungan di sekitar Jokowi,” kata Titi kepada wartawan Muhammad Irham yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Bagaimanapun, Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi, mengaku tak punya tekanan dan arahan dari bapaknya saat berniat maju menjadi bakal calon wali kota Solo.

“Pokoknya bapak nggak pernah memaksa apa pun, nggak pernah mengarahkan harus ke sini, harus ke sana, nggak. Semuanya bebas. Semuanya, yang penting harus mandiri,” kata Gibran kepada wartawan Fajar Sodiq di Solo untuk BBC Indonesia beberapa waktu lalu.

gibran jokowiHak atas fotoANTARA/MOHAMMAD AYUDHA
Image captionPutra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka (kanan) bersiap memberikan keterangan pers usai menyerahkan berkas pendaftaran anggota PDI Perjuangan di kantor DPC PDI Perjuangan, Solo, Jawa Tengah, Senin (23/9). Gibran Rakabuming Raka daftar menjadi kader PDI Perjuangan sebagai syarat untuk maju sebagai bakal calon Wali Kota Solo pada Pilkada tahun 2020 mendatang.

‘Jokowi politikus ulung’

Jokowi bukan berasal dari keluarga politikus, bukan pula anak ketua partai berlambang banteng bermoncong Putih, Megawati Soekarnoputri. Tapi karier politiknya moncer sejak menjabat wali kota Solo selama dua periode (2005 dan 2010).

Setelah menjadi wali kota Solo, Jokowi meniti tangga politik sebagai Gubernur DKI Jakarta pada 2012 dengan mengalahkan petahana, Fauzi Bowo.

Sebagai pemimpin ibu kota, dia bertahan selama dua tahun karena anak dari pasangan Wijiatno Notomiarjo dan Sujiatmi mencoba peruntungan menjadi orang nomor satu di Indonesia pada Pilpres 2014.

Menang pada pilpres 2014, Jokowi mempertahankan kursinya pada 2019. Sebanyak dua kali pula lawannya, mantan menantu Presiden Soeharto, Prabowo Subianto, kalah.

“Beliau memang terlihat polos, tapi beliau ini politisi yang ulung. Justru dengan gayanya itu (polos), dia adalah politisi ulung,” kata Wakil Direktur Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia, Hurriyah kepada BBC News Indonesia.

Keulungan Jokowi, menurut Hurriyah, salah satunya diwujudkan dengan mempersiapkan regenerasi, walau dia sendiri dipersepsikan sebagai antitesa dari semua hal buruk di Orde Baru, termasuk dinasti politik.

“Sebenarnya yang dilakukan Jokowi hanyalah mengikuti, meneruskan, tradisi yang sudah berjalan lama, sejak masa reformasi,” kata Hurriyah.

Tradisi yang dimaksud Hurriyah telah dijalankan Susilo Bambang Yudhoyono yang melibatkan anak-anaknya dalam politik praktis.

Begitupun dengan Megawati Soekarnoputri. Putri semata wayang, Puan Maharani kini duduk sebagai ketua DPR.

megawatiHak atas fotoANADOLU AGENCY/GETTY IMAGES
Image captionAnak perempuan Megawati Soekarnoputri. Puan Maharani, kini duduk sebagai ketua DPR.

Sudah punya calon sendiri

Gibran telah resmi mendaftar sebagai kader PDI Perjuangan. Mengantongi kartu tanda anggota PDI Perjuangan merupakan syarat untuk maju menjadi calon wali kota Solo.

Sebenarnya Gibran tidak masuk dalam radar calon wali kota dan wakilnya dari PDI Perjuangan untuk Pilkada 2020 mendatang. Ketua DPC PDI Perjuangan Solo, FX Hadi Rudyatmo mengaku sudah punya calon-calon di luar Gibran.

“Kita sudah punya calon sendiri dari PDI Perjuangan. Cuma itu last minute, nanti yang mau dideklarasikan oleh teman-teman PDIP,” kata FX Hadi seperti dilaporkan wartawan Fajar Sodiq untuk BBC Indonesia.

Namun, nama-nama calon ini pada akhirnya akan dipilih Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

“Jadi, semua tergantung ketua umum, rekomendasi-nya. Misalnya saya daftar, kalau saya tidak dapat rekomendasi ya ndak jadi. Gitu aja,” lanjut FX Hadi.

Wakil Sekjen PDI Perjuangan, Arief Wibowo mengaku belum ada rekomendasi dari ketua umum untuk Gibran untuk melaju ke kursi satu Solo.

“Masih panjang jalannya. Kita tidak mau gegabah dalam rekomendasi ini,” katanya melalui sambungan telepon, Selasa (08/10).

gibran jokowiHak atas fotoANTARA/MOHAMMAD AYUDHA
Image captionPutra sulung Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka (ketiga kanan) menyerahkan berkas pendaftaran anggota PDI Perjuangan di kantor DPC PDI Perjuangan, Solo, Jawa Tengah, Senin (23/9).

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggraini, mengatakan semestinya untuk mendapat posisi kepala daerah atau setingkatnya, seseorang melalui proses rekrutmen dan kaderisasi yang demokratis di internal partai politik.

Tapi, lanjut Titi, hal ini tidak berlaku ketika pemimpin keluarga memperoleh kekuasaan politik karena kerabatnya mendapat ‘tiket emas’ untuk maju menjadi kepala daerah atau anggota parlemen daerah.

Adapun orang-orang yang telah melalui proses pengkaderan dengan baik, akan dilangkahi.

Akan tetapi, Arief menegaskan seluruh kader PDIP di Solo berhak untuk mendaftarkan diri sebagai bakal calon orang nomor satu di sana.

“Siapa pun yang mendaftar, termasuk Mas Gibran anaknya presiden akan kita terima dengan baik,” katanya.

Terkait dengan tudingan berdirinya dinasti politik Jokowi, Arief mengklaim partainya tetap berpegang pada seleksi yang terukur dan objektif.

“Jadi bisa saja tanya petinggi misalnya pada ujungnya tidak diberi rekomendasi. Tapi bisa saja sebaliknya, diberi rekomendasi karena memenuhi syarat-syarat objektif untuk memenangkan pilkadanya,” katanya.

pilkadaHak atas fotoULET IFANSASTI/GETTY IMAGES
Image captionPara petugas sebuah tempat pemungutan suara di Daerah Istimewa Yogyakarta pada pemilu 2014 lalu sengaja memakai kostum wayang.

Sementara itu, Tenaga Ahli Utama bidang Komunikasi Politik Kantor Staf Presiden (KSP), Ali Mochtar Ngabalin mengatakan, tak ada yang salah dengan kemunculan Gibran dan Bobby sebagai kerabat Presiden Jokowi di kancah politik.

“Tak ada seorang pun memiliki kemampuan untuk menilai bahwa langkah-langkah yang dilakukan Gibran atau Bobby adalah sebuah strata yang sedang dibangun untuk menyiapkan dinasti baru dalam kekuasaan,” katanya kepada BBC Indonesia, Selasa (08/10).

Ngabalin menambahkan, Presiden Jokowi sejak awal tidak ada rencana untuk membangun dinasti politik.

“Kecuali Presiden Jokowi pada waktu walikota pada maju jadi Gubernur DKI Jakarta, serta merta harus didorong anaknya,” katanya.

Dalam satu kesempatan, ia mengaku bertanya langsung kepada Presiden Jokowi tentang manuver Gibran dan Bobby dalam politik praktis.

“Apakah benar mas Gibran dan Mas Bobby sedang begini? Tanya saja sama anaknya, orang saya tidak diajak ngomong,” katanya sambil menirukan jawaban Presiden Jokowi.

Tommy SoehartoHak atas fotoAFP
Image captionTommy Soeharto dan Titiek Soeharto sempat menjadi kader Golkar, keduanya bahkan sempat mencalonkan diri menjadi ketua umum partai berlambang beringin itu.

 

 

 

sumber : bbcindonesia.com

 

Write a Reply or Comment

6 + nine =