DINASTI SELJUK: DINASTI KESATUAN SUKU-SUKU TURKI SAAT DINASTI ABBASIYAH MELEMAH

JIC – Dinasti Seljuk berdiri pada abad ke-13 saat Dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran dalam bidang ekonomi, politik, dan militer. Didirikan oleh pemimpin kabilah Guz dari Turkistan, Seljuk bin Duqaq. Wilayah meluas ke Asia Kecil dan Asia Tengah. Dinasti ini memiliki lima cabang pemerintahan: Seljuk Iran (Seljuk Besar), Seljuk Irak (al-Iraq), Seljuk Kirman (al-Qawurdiyun), Seljuk Asia Kecil (ar-Rum), dan Seljuk Suriah (asy-Syam). Setiap cabang dinasti tersebut menguasai wilayahnya masing-masing. Meskipun berdiri pada saat Dinasti Abbasiyah masih ada, tetapi Khalifah Abbasiyah di Baghdad mengangkat dan mengakui kekuasaan Seljuk. Begitu juga Seljuk yang menjunjung dan menghormati Khalifah Abbasiyah.

Dinasti Seljuk dipersatukan oleh Seljuk Bin Duqaq, seoarang pemimpin konfederensi suku-suku Turki. Seljuk dan pengikutnya bermigrasi ke wilayah Transoksania dan menempati wilayah itu atas izin penguasa Samaniah. Seljuk dan pengikutnya berada di bawah kekuasaan Dinasti Samaniyah. Saat Dinasti Samaniah diruntuhkan oleh Dinasti Gaznawiyah, Seljuk memerdekakan diri dan menguasai wilayah yang dulu berada di bawah kekuasaan Samaniah. Seljuk Bin Duqaq memimpin hingga wafat pada tahun 1308.

Seperti pada masa dinasti lainnya, Dinasti Seljuk mengalami masa kejayaannya pada masa kepemimpinan Tugril Beq bin Seljuk. Ia memimpin sejak tahun 1038 hingga wafatnya pada tahun 1063. Pada masa kepemimpinannya ia berhasil mengalahkan Dinasti Gaznawiyah dan menguasai wilayah mereka. Setelah penaklukkan tersebut Tugril Beq mendapatkan pengakuan dari Khalifah Abbasiyah, al-Qa’im. Wilayah kekuasaannya meliputi Iran dan sekitar Transaxonia.

Tugril Beq terus melakukan perluasaan wilayah di Iran hingga bisa menguasai seluruh wilayah Iran. Bahkan pada masa kejayaannya, Tugril Beq mengontrol kekuasaan Dinasti Abbasiyah pada tahun 1055. Juga di tahun yang sama, di bawah kepemimpinanannya, Dinasti Seljuk berhasl meruntuhkan Dinasti Buwaihi yang saat itu berpusat di Baghdad. Ia memenjarakan Malik ar-Rahim, penguasa terakhir Dinasti Buwaihi.

Pasca wafatnya Tugril Beq, dia digantikan oleh keponakannya karena ia tak memiliki anak lelaki. Keponakannya bernama Alp Arslan yang memerintah sejak tahun 1063 sampai 1072. Ia berhasil mendamaikan perseteruan yang terjadi di kalangan internal Dinasti Seljuk, juga ia berhasil mengatasi perlawanan dari saudaranya. Di masanya, Alp Arslan pernah berperang melawan Pasukan Byzantium di tahun 1071 yang disebut sebagai Perang Manzikert. Dan, perang ini dimenangkan oleh Alp Arslan. Perang inilah yang nanti menjadi bibit terjadinya rangkaian perang Salib (Crusades).

Selama masa kepemimpinannya, ia didampingi oleh seorang Perdana Menteri bernama Nizam al-Mulk, sosok pendiri al-Madrasah an-Nizhamiyah dimana Imam al-Ghazali pernah menjadi pemimpin sekolah ini. Nizam juga mendampingi Maliksyah, putra Alp Arslan yang menggantikan dirinya setelah wafat.

Saat masa kepemimpinan Maliksyah, ia mendapatkan perlawanan dari pamannya, Qaurad bin Jufri yang berkuasa di wilayah Seljuk Kirman. Kemudian terjadilah pertempuran antara Qurad dan Maliksyah pada tahun 1072. Pertempuran akhirnya dimenangkan oleh Maliksyah dan Qaurad terbunuh. Wilayah Seljuk Kirman pun jatuh ke tangan Maliksyah dan ia menyerahkan kepada saudaranya, Syah bin Alp Arslan dan menjadikannya ia sultan di wilayah tersebut.

Pada masa kepemimpinannya, wilayah Dinasti Seljuk meluas dari Afghanistan sampai Asia ke Asia Kecil. Demi mengawasi wilayah-wilayah yang telah ditaklukannya, ia menyerahkannya kepada saudara-saudaranya. Salah satunya kepada Tajud Daulah pada tahun 1077 yang akhirnya ia menjadi pendiri Dinasti Seljuk di Syam.

Kemudian Tajud Daulah juga memberi wilayah taklukkannya di Asia Kecil kepada Sulaiman bin Qatalmasy bin Israil pada tahun yang sama dan sebelumnya wilayah tersebut berada di bawah kekuasaan Romawi. Sulaiman bin Qatalmasy menjadi pendiri Dinasti Seljuk di Romawi.

Sejak kepemimpinan Maliksyah, Dinasti Seljuk terbagi-terbagi atas beberapa wilayah. Hal tersebut dilakukan Sultan Maliksyah demi melakukan pengawasan terhadap wilayah-wilayah taklukkannya. Namun karena pembagian wilayah tersebutlah mulai muncul kemunduran pemerintahn Dinasti Seljuk. Setiap wilayah yang mulanya berada di bawah kontrol Seljuk pusat akhirnya melepaskan diri. Konflik internal yang terjadi di kalangan saudara-saudara sesama keturunan makin memperuncing masalah. Beberapa dari mereka berupaya membangun dinasti sendiri, seperti Guz, Ghuri dan Khawarizmi.

Pada saat yang bersamaan, Kekhalifahan Abbasiyah sedikit demi sedikit mulai membaik, terutama di Irak. Kekuasaan Seljuk berakhir saat berada di bawah kepemimpinan Khawarizmi pada tahun 1195.

Sumber : bincangsyariah.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MEME TIGA AMAL YANG PALING BERAT

Read Next

PUTRI KESAYANGAN NABI MUHAMMAD YANG LAHIR PADA JUMADIL AKHIR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 1 =