DUA HILAL DI LANGIT BETAWI (2)

Bantahan yang dilakukan oleh Guru Marzuqi Cipinang Muara terhadap pendapat Guru Manshur Jembatan Lima mengenai hilal dapat dilihat kurang dari tujuh derajat sebenarnya tidak begitu tepat. Sebab, Guru Manshur Jembatan Lima berbasis pada hisab, bukan pada rukyat. Rukyat, bagi Guru Manshur dipahami juga dengan hisab. Jika Hilal sudah wujud (wujudul hilal), maka awal bulan hanya untuk menyandarkannya pada Sullamun Nayyiroin menggunakan sistem/ teori hasil pengamatan yang dilakukan oleh seorang Zij Sulthon (astronom pemerintah) yang bernama Ulugh Beyk as-Samarkand, ahli astronomi yang lahir di Salatin pada tahun 1393 Masehi dan meninggal di Iskandaria 1449 Masehi. Ia hidup pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, tepatnya pada masa kepemimpinan khalifah Al-Makmun.

Bantahan yang dilakukan oleh Guru Marzuqi Cipinang Muara terhadap pendapat Guru Manshur Jembatan Lima mengenai hilal dapat dilihat kurang dari tujuh derajat sebenarnya tidak begitu tepat. Sebab, Guru Manshur Jembatan Lima berbasis pada hisab, bukan pada rukyat. Rukyat, bagi Guru Manshur dipahami juga dengan hisab. Jika Hilal sudah wujud (wujudul hilal), maka awal bulan hanya untuk menyandarkannya pada Sullamun Nayyiroin menggunakan sistem/ teori hasil pengamatan yang dilakukan oleh seorang Zij Sulthon (astronom pemerintah) yang bernama Ulugh Beyk as-Samarkand, ahli astronomi yang lahir di Salatin pada tahun 1393 Masehi dan meninggal di Iskandaria 1449 Masehi. Ia hidup pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, tepatnya pada masa kepemimpinan khalifah Al-Makmun. Pada masa kepemimpinannya, sang khalifah memerintahkan para ilmuan untuk mendirikan observatorium, salah satunya yaitu di daerah Samarkand yang dikepalai oleh Ulugh Beyk tersebut. Ulugh Beyk adalah seorang astronom yang pandai dan mengepalai penyelidikan-penyelidikan yang menelan biaya yang tidak sedikit. Ulugh Beyk merupakan keponakan dari cucu Hulago dari keluarga Timur Lenk, Hasan Al A’raj, Si Pincang.

Pada tahun 1437 M, Ia telah berhasil membuat sebuah Zij berdasarkan observasi yang dilakukannya. Pengertian dari Zij itu sendiri adalah tabel keangkaan yang diterapkan kepada planet-planet untuk mengetahui ciri masing-masing, baik jalan gerakannya, kecepatan, kelambatan, kediaman dan geraknya kembali. Ia menamakannya Zij Ulugh Beyk. Tabel-tabel tersebut masih menggunakan model angka Jumali yang merupakan model angka yang biasa digunakan oleh para ulama hisab tempo dulu untuk menyajikan data astronomis benda-benda langit.

Sullamun Nayyiroin (Selamatnya Dua yang Bercahaya) adalah sebuah buku karangan Haji Muhammad Mansur Al-Batawie berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ulugh Beyk tersebut, yang sebelumnya telah ditalhis (dijelaskan) oleh orang tuanya sendiri yang bernama Abdul Hamid Bin Muhammad Damiri Al-Batawie dengan taqrir/ ketetapan dari Syeikh Abdurrahman bin Ahmad Al-Mishrie.

Sullamun Nayyiroin Bermarkaz Di Jakarta

Secara istilah dijelaskan (Khazin:2005), bahwa pengertian Markaz adalah suatu tempat/ lokasi yang dijadikan pedoman dalam perhitungan. Dalam (Mansur:1925) dijelaskan bahwa data-data yang digunakan pada perhitungan awal bulan hijriyah tersebut memakai markaz Jakarta dengan data geografis 5o 19’ 12” – 6o 23’ 54” LS dan 106o 22’ 42” – 106o 58’ 18” BT. Dalam pengukuran waktu dunia, Sullamun Nayyiroin mengacu pada tempat yang bernama Jaza’irul Kholidat/ Kanarichi, suatu tempat di tengah lautan atlantik yang dijadikan titik 0 derajat dalam pengukuran bujur bumi tempo dulu. Ia berposisi pada 35o 11’ sebelah barat Greenwich. Dalam (Mansur:1925) dijelaskan pula bahwa antara Kanarichi dan Jakarta mempunyai selisih waktu 142o (1o= 4 menit). Jadi, total selisih waktu keduanya adalah 9 jam 28 menit. Untuk perumpamaan, ketika di Jakarta hari rabu pukul 16.00 WIB, maka di Kanarichi hari rabu pukul 06.22 waktu Kanarichi.[1]

Buah tangan Guru Mansur yang amat monumental adalah Sullam an-Nayyirain fi Ma’rifati Ijtima’i wal Kusufain. Selain itu juga kitab Khulasah al-Jadawil (ilmu falak), Taqrir al-Mabahits dan al-Mabahits fi Ilmi al-Warits (ilmu waris), dan Abwab al-Tashrif (tentang sharaf). Menurut Kiai Fatahillah, kitab Sullam an-Nayyirain ini sampai sekarang masih terus diajarkan dan dicetak, karena memang banyak yang membutuhkan.

Kitab tersebut begitu terkenal sampai ke seantero nusantara dan digunakan sebagai rujukan untuk mempelajari ilmu falak di kalangan pesantren-pesantren di Indonesia dan beberapa perguruan serta lembaga pendidikan Islam di Malaysia sampai hari ini. Kitab ini pertama kali dicetak pada tahun 1344 H atau 1925 M oleh percetakan Borobudur, batavia.

Buku ini oleh penyusunnya dibagi menjadi tiga risalah (klasifikasi pembahasan), pertama bertemakan al-Risalah al-Ula fi Ma’rifati Ijtima’in Nayyirain, yakni pembahasan mengenai ijtima’ irtifa’ hilal, posisi hilal, dan umur hilal. Kedua, al-Risalah al-Tsaniyah fi Ma’rifati Khusufil Qomar yakni memuat tentang perhitungan gerhana bulan dan yang ketiga adalah al-Risalah al-Tsalisah fi Ma’rifati Kusufis Syamsi yang memaparkan perhitungan gerhana matahari. Buku ini sampai sekarang dipakai sebagai salah satu pertimbangan penetapa awal bulan dalam Musyawarah kerja (muker) Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama RI.

Salah satu cucunya, KH Ahmadi Muhammad menyusun sebuah kalender hisab al-Mansuriyah di mana susunan tersebut bersumber dari hasil pemikiran Guru Mansur. Kini, kalender hisab al-Mansuriyah itu masih tetap eksis dan dipergunakan oleh murid-muridnya, masyarakat Betawi, maupun umat Islam lainnya di sekitar Jabodetabek, Pabdeglang, Tasikmalaya, dan bahkan sampai ke Malaysia.

Kitab Sullam an-Nayyirain memang begitu dahsyat manfaatnya. Menurut Ustadz Djabir Chaidir Fadhil, Muballigh Betawi yang kerap kali diundang ke beberapa kota Malaysia, menuturkan bahwa kitab ini masih dipelajari di majelis-majelis taklim di negara bagian Terengganu, Malaysia, bahkan sampai hari ini dijadikan rujukan oleh para ulama, cendekiawannya untuk melihat hilal dalam menentukan awal puasa, Idul Fitri, dan 1 Dzulhijjah.

Kitab ini pun tak luput dari komentar khusus dari para astronom modern untuk dipelajari dan dikritisi karena memang harus memadukan dengan konsep astronomi modern. Seperti yang dinyatakan seorang astronom Bapak Dr. T. Djamaluddin dari LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), Bandung, yang mengatakan bahwa buku Sullam harus diberikan apresiasi dan kritik konstruktif di dalamnya.

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC


[1] Hasan Lutfi at-Tamimy, Sejarah Singkat Madrasah Chairiyah Mansuriyah (Jakarta: Yayasan Pendidikan Al-Mansuriyah, 2010), h. xiii.

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

Jakarta Islamic Center Sediakan 1.000 Paket Takjil

Read Next

KAYFIYAT SEMBAHYANG TARAWIH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + 1 =