DUA HILAL DI LANGIT BETAWI

Sebentar lagi bulan penuh rahmat dan ampunan, Ramadhan, akan tiba. Sepertinya, tidak akan ada perbedaan di antara ormas-ormas Islam dengan pemerintah dalam penetapan 1 Ramadhan 1432H. Misalnya, Muhammadiyah dan Persis menetapkan 1 Ramadan 1432H jatuh pada Senin, 1 Agustus 2011. Sementara Nahdlatul Ulama (NU) masih menunggu itsbat yang dilakukan oleh pemerintah. Perbedaan justru terjadi Untuk penetapan 1 Syawal 1432H. Muhammadiyah menetapkan jatuh pada Selasa, 30 Agustus 2011. Sedangkan Persis menetapkan 1 Syawal 1432H jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011. Sedangkan NU menunggu itsbat yang dilakukan oleh pemerintah.

Sebentar lagi bulan penuh rahmat dan ampunan, Ramadhan, akan tiba. Sepertinya, tidak akan ada perbedaan di antara ormas-ormas Islam dengan pemerintah dalam penetapan 1 Ramadhan 1432H. Misalnya, Muhammadiyah dan Persis menetapkan 1 Ramadan 1432H jatuh pada Senin, 1 Agustus 2011. Sementara Nahdlatul Ulama (NU) masih menunggu itsbat yang dilakukan oleh pemerintah. Perbedaan justru terjadi Untuk penetapan 1 Syawal 1432H. Muhammadiyah menetapkan jatuh pada Selasa, 30 Agustus 2011. Sedangkan Persis menetapkan 1 Syawal 1432H jatuh pada Rabu, 31 Agustus 2011. Sedangkan NU menunggu itsbat yang dilakukan oleh pemerintah.

Kita patut bersyukur karena perbedaan ini, yang sudah terjadi puluhan tahun, tidak menimbulkan konflik antar umat Islam yang berbeda pandangan. Semua bisa menerima perbedaan dan saling menghormati. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan para pemimpin ormas Islam untuk menyikapi perbedaan tersebut dengan cara yang cerdas dan mengedepankan kesantunan yang menjadi contoh di akar rumput. Tidak terkecuali di tanah Betawi.

Persoalan perbedaan penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal di tanah Betawi bukan hal yang baru. Pada era 30-an bahkan sampai saat ini, orang Betawi terbagi dalam dua madzhab utama, yaitu mazhab Habib Utsman bin Yahya, mufti Betawi, yang motor utamanya adalah Guru Marzuqi Cipinang Muara dan guru Madjid Pekojan dan Mazhab Guru Manshur Jembatan Lima. Mazhab Habib Utsman ini berpedoman mustahil rukyat jika hilal di bawah tujuh derajat, sedangkan mazhab Guru Manshur Jembatan Lima berpedoman bahwa hilal bisa dirukyat walau kurang dari tujuh derajat. Semasa mereka masih hidup, pada saat penetapan, orang Betawi akan berbondong-bondong datang kepada mereka untuk mengetahui hasil ngeker bulan atau rukyatul hilal yang telah dilakukan.

Namun yang menarik dari kasus perbedaan rukyatul hilal adalah cara mereka untuk membantah metodologi dan hasil rukyat yang berbeda dari mereka. Mereka menempuh tradisi para ulama terdahulu, sebuah tradisi perbantahan yang mencerdaskan umat ,yaitu melalui tulisan (risalah). Salah satu risalah perbantahan ini ditulis oleh Guru Marzuqi Cipinang Muara dengan judul Fadhulurrahman fi Raddi Man Radda Al-Marhum As-Sayyid Utsman yang jika diterjemahkan artinya Keutamaan Ar-Rahman di dalam Menolak Orang yang Menolak (pendapat) Al-Marhum As-Sayyid Utsman.

Dalam risalah tersebut, Guru Marzuqi CIpinang Muara membela pendapat Habib Utsman bin Yahya dan membantah pendapat Guru Manshur Jembatan Lima dalam masalah rukyatul hilal. Poin-poin penting bantahannya yang saya nukil dari risalah tersebut dengan beberapa perubahan redaksi agar sesuai dengan EYD sebagai berikut: Pertama, penetapan awal Ramadhan atau `Aid oleh qadhi telah berlaku di Betawi dengan terlihatnya bulan yang imkaanurrukyah atau dengan istikmal tiga puluh hari. Dan terkadang ditetapkan dari jauh-jauh hari jika bulan di malam tiga puluh itu mustahil rukyah karena kurang dari tujuh derajat. Hal ini telah berlaku sejak masa yang begitu lama hingga dekat kepada seratus tahun di era fatwa Al-Marhum Habib Utsman Bin Yahya.

Kedua, Kemudian sekarang di masa ini ada seorang bernama Al-Hajj Muhammad Manshur Kampung Sawah Betawi (maksudnya Guru Manshur Jembatan Lima) yang membuat satu perkumpulan komite untuk menyalahkan fatwa Al-Marhum (Habib Utsman bin Yahya) dan berkata bahwa bulan (hilal) terlihat kurang dari tujuh derajat dan harus menerima saksi yang mengaku melihat bulan di malam kurang dari tujuh derajat tanpa syarat `adalah dan muruwwah. Maka inilah pokok persoalan terjadinya perbantahan antara dua pihak ini, yaitu pada qadar imkaanurrukyah. Maka masing-masing kedua pihak itu memiliki hujjah dan burhan.

Ketiga, burhan yang pertama dari pihak Habib Utsman bin Yahya. Burhan ini berasal dari pendapat Tuan Hoof Penghulu Betawi, Haji Muhammad Hasan Ada dua burhan, yaitu Aqli dan naqli. Untuk burhan `aqli, yaitu ketokohan dan kepakaran dari Habib Utsman bin Yahya dalam bidang agama, termasuk falakiyah. Sedangkan burhan naqli bahwa imkaanurukyah itu sekurang-kurangnya hilal berada di tujuh derajat yaitu istiqraa-u taam yang memberi faidah yakin. Karena belum pernah bulan (hilal) dapat dilihat orang dibawah tujuh derajat dan belum pernah pula dapat dilihat orang di Betawi dengan penglihatan yang shahih. Maka jika ada orang yang mendakwah, mengaku melihat bulan (hilal) padahal kurang dari tujuh derajat itu semata-mata dusta belaka. Atau mungkin saja benar jika melihatnya dengan dua mata yang tajam luar biasa atau dengan perantaraan teropong, tapi syar`i tidak meng `itibarkan dua penglihatan itu dan juga tidak membatalkan dengan keyakin mustahil rukyat bulan yang kurang dari tujuh derajat yang diketahui dengan istiqraa-u taam. Dan kala dimana atas jalan fardhlu kifayah melihat bulan di awal tiap-tiap bulan itu jika telah imkaan ru-yah di awal bulan itu dengan tujuh derajat atau lebih. Adapun jika bulan itu kurang dari tujuh derajat itu tiada wajib malah tiada sunnah karena `abats, yakni sia-sia sedang syar`i tiada memerintah yang sia-sia.

Keempat, adapun burhan yang lain adalah tentang kewajiban qadhi untuk menolak saksi yang melihat bulan kurang dari tujuh derajat meski saksi itu cukup syarat-syarat nya sebagai saksi, yaitu `adalah dan murruwah. Ini terkait dengan jumhur `ulama muhaqqiqin yang berpegang kepada qaul Tuan Syaikh As-Subki yang berkata ditolak akan saksi yang mendakwakan melihat bulan di malam yang mustahil rukyat dan itulah qaul raajih yang wajib agar qadhi menghukumkan dengan menolak saksi yang melihat hilal kurang dari tujuh derajat.Begitu pula mufti, juga harus memfatwakannya. Sedangkan qaul Tuan Syaikh Az-Zarkasyi dan qaul tuan Syaikh Ar-Ramli yang mengikut qaul Syaikh Az-Zarkasyi yang mengatakan diterima saksi yang cukup syarat-syaratnya yang mengaku melihat bulan (hilal) di malam yang mustahil rukyat padahal Al-Hasanat Al-Qath`iy, maka ini qaul dianggap dhaif. Kedhaifannya diberikan oleh jumhur `ulama muhaqqiqin. Maka qadhi atau mufti yang menghukumkan atau memfatwakan dengan qaul Tuan Zarkasiy itu fasik lagi dzolim. Karena Ijma` `Ulama tidak menghukumkan dan memfatwakan dengan qaul yang dhaif.

Dari point-point bantahan di atas, kita bisa menilai tentang kemampuan ulama terdahulu yang mampu berargumen dengan baik dan membantah dengan cerdas melalui tulisan, dengan kesantunan, bukan debat kusir tak berujung di forum-forum terbuka yang sering kali mempermalukan lawan debatnya. Akhirul kalam, untuk meningkatkan pemahaman umat Islam tentang falakiyah, Jakarta Islamic Centre (JIC) dalam rangka kegiatan Tarhib Ramadhan 1432H bekerjama dengan MUI Provinsi DKI Jakarta dan Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) Pusat mengadakan Pelatihan Starrynight Version 639, sebuah software untuk “melihat” hilal sekalipun cuaca berawan pada hari Jum`at, 29 Juli 2011 dari jam 08.30 s/d 15.00 WIB di Ruang Audio Visual JIC. Peserta yang ingin mengikuti acara ini diharapkan membawa laptop dan akan mendapatkan Buku Pedoman Falakiyah dan Software Starrynight . JIC juga mengadakan Pelatihan Blog pada hari Sabtu, 23 Juli 2011 di waktu dan tempat yang sama. Bagi yang berminat untuk mendapatkan informasi dan mengikuti kedua acara tersebut dapat mendaftarkan diri pada hari dan jam kerja ke JIC melalui telepon (021)4413069, (021) 44835349 via Kiki atau Lia, atau ke 081314165949, (021)9955075 atau datang ke JIC di Jl. Kramat Jaya, Koja, Jakarta Utara pada hari dan jam kerja. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pendidikan dan Pengkajian JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

QLP – Qolbu Linguistic Programming

Read Next

Festival Musik Sufi Diharapkan Bangkitkan Kesenian Islam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 19 =