Warning: getimagesize(http://pangben.files.wordpress.com/2012/11/hujan-1.jpg): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/islamicc/public_html/wp-content/plugins/wp-open-graph/output.class.php on line 306

DUH, PAWANG HUJAN!

Ada hal menarik di perayaan tahun baru 2013 di Jakarta yang tidak begitu banyak diliput oleh media massa, tetapi menjadi kritikan yang dikirim berantai melalui pesan Blackberry (BMM) atau melalui sosial media lainnya, yaitu penggunaan jasa pawing hujan oleh Pemprov. DKI Jakarta. Mengutip dari salah satu media online, alas an Pemprov.DKI Jakarta mengerahkan pawang hujan karena untuk mengantisipasi turunnya hujan sebagaimana yang dikatakan oleh Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Arie Budiman, “Pemprov memang menyediakan pawang hujan karena sekarang sedang musim hujan. Inikan niat baik dari Pemprov DKI Jakarta untuk masyarakat, jadi semoga cuaca cerah dan acaranya lancar. “Namun selain pawang hujan, ia juga mengajak warga Jakarta berdoa agar pagelaran Jakarta Night Festival dan Car Free Night, yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Ibu Kota berlangsung lancar.

Ada hal menarik di perayaan tahun baru 2013 di Jakarta yang tidak begitu banyak diliput oleh media massa, tetapi menjadi kritikan yang dikirim berantai melalui pesan Blackberry (BMM) atau melalui sosial media lainnya, yaitu penggunaan jasa pawing hujan oleh Pemprov. DKI Jakarta. Mengutip dari salah satu media online, alas an Pemprov.DKI Jakarta mengerahkan pawang hujan karena untuk mengantisipasi turunnya hujan sebagaimana yang dikatakan oleh Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Arie Budiman, “Pemprov memang menyediakan pawang hujan karena sekarang sedang musim hujan. Inikan niat baik dari Pemprov DKI Jakarta untuk masyarakat, jadi semoga cuaca cerah dan acaranya lancar. “Namun selain pawang hujan, ia juga mengajak warga Jakarta berdoa agar pagelaran Jakarta Night Festival dan Car Free Night, yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Ibu Kota berlangsung lancar.

Para pengkritik memang tidak mempersoalkan niat baik Pemprov. DKI Jakarta tersebut, tetapi yang dipersoalkan adalah penggunaan pawang hujan yang ditugaskan secara resmi dan dibayar secara professional namun bekerja dengan cara-cara irasional bahkan sebagian menggunakan ritual-ritual yang tidak dikenal dalam syari`at Islam dan dapat dikatakan menerapkan praktik perdukunan. Misalnya, menggunakan bokor berisi kemenyan, garam, lisong, kapur, pinang, dan sirih. Nasi satu genggam kemudian dibuang oleh si pembeli jasa keatas genting dan membuang lisong, kemenyan, kembang, dan kapur kesungai agar hujan tidak turun di suatu tempat yang diinginkan. Walau jujur diakui jika dilihat hasilnya, memang hasil kerja parapawang hujan cukup berhasil. Hujanhanya turun rintik-rintik atau gerimis pada malam dan di puncak acara tahun baru di Bundaran HI dan sepanjang jalan Sudirman-Thamrin. Para pawang hujan ini sepertinya telah mampu memindahkan hujan dari pusat acara kepinggiran kota karena di beberapa tempat di pinggir kota Jakarta, disaat yang sama, hujan turun lumayan lebat.

Memang begitulah kerja pawang hujan. Mereka bukan menolak hujan, tetapi memindahkan hujan ketempat lain. Ada seloroh, jika tempat lain yang menjadi pindahan hujan juga memakai jasa pawang hujan, bagaimana nasib si hujan ini ? Ternyata di dunia pawang hujan, ada tingkatan pangkat di antara mereka. Pawang hujan yang lebih senior, tentu memiliki kemampuan untuk mengalahkan pawang hujan yang lebih junior. Dalam bisnis jasa pemindahan hujan ini, tentu pawang senior mempunyai tarif yang tinggi dibandingkan yang junior. Bisnis yang sudah berlangsung lama ini ternyata tetap larismanis. Buktinya, di internet, berpuluh-puluh iklan penawaran jasa memindahkan hujan dengan mudah kita temukan dengan kemasan yang beragam, dari yang terang-terangan memakai praktik perdukunan sampai yang dikemas dengan embel-embel sesuai syari`at Islam. Jika di telusuri siapa para pembeli jasa ini ? Yah, kebanyakan umat Islam juga yang ingin tempatnya tidak diguyur hujan saat sedang melangsungkan acara pernikahan, pesta, konser, dan lain-lain.

Khusus para penjual jasa pemindahan hujan yang katanya Islami, mereka mengklaim menggunakan cara-cara yang sesuai dengan syari`at Islam dan menggunakan do`a – do`a yang diajarkan oleh Rasulullah SAW sehingga “halal” untuk memakai jasamereka. Benarkah ? Menurut Ustadz Abdul Latif, SE, MA, salah seorang pengurus Tarekat Qadiriyahwa Naqsyabandiyah Center (TQNC), Rawamangun, memang dalam suatu kesempatan, Rasulullah SAW pernah berdo`a agar hujan tidak menimpa dirinya, tetapi jatuh di sekitarnya saja dengan do`a, “Allaahumma hawaalainaalaa `alainaa.” Artinya, “Ya Allah, turunkan hujan di sekitar kami, bukan kepada kami.” Tapi, ini adalah do`a, permintaan, tidak ada kepastian. Allah SWT berhak untuk mengabulkan atau menolaknya Namun karena yang berdo`a adalah kekasih-Nya, do`a itu dikabulkan. Selain itu, tujuan Rasulullah SAW berdo`a memindahkan hujan karena untuk melancarkan dakwahnya, untuk menegakkan agama Allah. Sedangkan pada malam tahun baru itu, tujuannya jelas sangat jauh berbeda. Apalagi dengan dibisniskan. Maukah para pemindah hujan ini bekerja ikhlas untuk kemashlahatan umat tanpa dibayar seperti Rasulullah SAW? Sudah hamper dipastikan tidak ada yang mau.

Menanggapi hokum penggunaan pawang hujan pada perayaan tahun baru di Jakarta ini, Sekretaris Umum MUI Provinsi DKI Jakarta, DR. KH. Syamsul Ma’arif, mengatakan tergantung cara dan tujuannya. Artinya, walau caranya Islami, namun dengan tujuan untuk mencari uang dan untuk melancarkan acara yang penuh kemaksiatan, kemubadziran dan membuat orang jauh dari mengingat Allah, maka tidak dibenarkan. Apalagi dengan cara yang tidak benar atau menggunakan praktik-praktik perdukunan yang penuh dengan ritual-ritual kemusyrikan maka tentu diharamkan dan hanya mengundang murka Allah SWT.

Akhirulkalam, Jakarta Night Festival dan Car Free Night yang digagas dan telah dilaksanakan oeh Pemprov. DKI Jakarta pada perayaan tahun baru kemarin dan akan dirutinkan setiap tahunnya merupakan sebuah kegiatan yang baik dan patut didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun untuk kedepan, agar kegiatan tersebut mendapatkan keberkahan dan ridha Allah SWT, bisakah tidak lagi mengundang pawanghujan? Cukup meminta ulama berdo`a, jika tetap hujan, itu pun karena kehendak Allah, apalagi hujan adalah rahmat. Selain itu, bisakah kegiatan-kegiatan yang kental dengan nuansa keagamaan? Ada ulama yang diundang yang mendampingi gubernur untuk memimpin do`a bersama, sujud syukur atau dzikir sebagai acara puncaknya. Jangan terkesan seperti yang kita saksikan di layer televisi, acara tersebut seolah-olah berlangsung di Negara barat atau negara yang sekuler yang mengusung kebebasan dan keliaran berekspresi. Katanya, kita masyarakat yang relijius? ***

Oleh: RakhmadZailani Kiki

KoordinatorPengkajian JIC

 

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

WAKTU UNTUK MUHASABAH

Read Next

MADRASAH DI BETAWI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve + 12 =