Dulu Berlumur Dosa, Kini Menjaring Pahala

Dulu lokasi ini dikenal sebagai lokasi prostitusi terbesar se-Asia Tenggara. Kramat Tunggak atau akrab disebut Kramtung, yang resmi ditutup tahun 1999, dan berubah menjadi Islamic Center, tempat pengembangan Islam. Apa kabar lokasi itu kini?

POTRET hitam Kramat Tunggak di Jakarta Utara sudah berubah. Wisma-wisma yang dihuni penjaja seks dan mucikari pun sudah lenyap, Wanita penjaja seks pun sudah meninggalkan lokasi itu. Kisah-kisah pembunuhan dan penjambretan pun menjadi kisah masa lampau.

Jakarta, Pelita- POTRET hitam Kramat Tunggak di Jakarta Utara sudah berubah. Wisma-wisma yang dihuni penjaja seks dan mucikari pun sudah lenyap, Wanita penjaja seks pun sudah meninggalkan lokasi itu. Kisah-kisah pembunuhan dan penjambretan pun menjadi kisah masa lampau.

Kramtung pernah dihuni oleh 1.615 wanita tunasusila, 258 germo, 700 pembantu pengasuh, 800 pedagang asongan, serta 155 tukang ojek dan tukang cuci.

Lokalisasi pelacuran yang sudah ada pada tahun 1970-an itu telah lenyap dari tanah Kramtung. Yang ada sekarang ini adalah bangunan Jakarta Islamic Centre (JIC) yang berdiri megah dengan sebuah bangunan masjid yang anggun. Boleh dikata, perubahan yang ada bak bumi dan langit, tentu itu tak lepas dari dorongan  masyarakat, ulama, dan tentu niat kuat dari Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso kala itu.

Kini, menjelang malam wajah Kramtung tidak lagi hingar- bingar dengan alunan beragam jenis musik yang memekakkan telinga, melainkan suara-suara anak manusia yang sedang tadarus (membaca Al-Qur’an) saat bulan Ramadhan, Suara adzan menggema setiap masuk waktu shalat.

Lembah hitam bernama Kramat Tunggak itu secara resmi ditutup Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tanggal 31 Desember 1999, dan di atas lahan seluas kurang lebih 10,9 hektar tersebut dibangun Jakarta Islamic Centre.

JIC sekurangnya telah memberi warna lain yang lebih tenang dan sejuk. berbagai aktivitas keagamaan pun menjadi menu utama JIC, menu khusus selama Ramadhan, misalnya  antara lain, pesantren kilat remaja dan pemuda, tadarus Al-Qur’an, buka puasa bersama, dan ceramah agama.

Berbagai kegiatan keagamaan juga dilakukan secara berkala, termasuk  pada peringatan hari-hari besar Islam.

Perubahan wajah Kramtung yang boleh dibilang punya catatan sejarah tersendiri dalam dunia pelacuran di Jakarta itu adalah sebuah keniscayaan.

Di Kramtung praktik prostitusi lenyap, tetapi di wilayah lain di Jakarta tetap saja masih bisa dijumpai dengan mudah, baik mereka yang di pinggir-pinggir jalan maupun prostitusi yang terselubung.

Pemerintah DKI sendiri mengucurkan lagi dana pembebasan lahan, sebesar Rp70 miliar pada APBD 2001, APBD 2000 menyediakan anggaran pembebasan lahan Rp30 miliar.

Sebelumnya,  upaya menutup Kramat tunggak mendapat tantangan keras datang dari para germo, pelacur, dan pihak-pihak yang berkepentingan, berbagai alasan muncul, dari alasan perut hingga alasan politis.

Menurut Buku “Jakarta Islamic Centre: Dari Ufuk Timur yang Cemerlang” terbitan JIC, ditutupnya Kramtung dilatarbelakangi kuatnya desakan masyarakat serta rekomendasi hasil penelitian yang dilakukan oleh Dinas Sosial dan Universitas Indonesia tahun 1996/1997 dan 1997/1998.

Mengingat parahnya dampak keberadaan Lokasi Rehabilitasi Sosial (LokRes) Kramtung bagi masyarakat seperti tingginya angka kriminalitas, rusaknya nilai sosial masyarakat, hingga tingginya penyebaran penyakit akibat perzinaan (HIV/AIDS, sipilis, dan lainnya), tim peneliti merekomendasikan: LokRes Kramat Tunggak harus ditutup selambat-lambatnya akhir Desember 1999.

LokRes Kramtung didirikan pada masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin menyusul marak dan rumitnya masalah pelacuran di Jakarta pada tahun 1970-an.

Pemda DKI saat itu, sebagaimana ditulis di Buku Bang Ali, “Demi Jakarta 1966-1977”, tidak dapat membenarkan dan mendiamkan saja aksi pelacuran di tempat-tempat ramai dan terbuka.

Saat melakukan kunjungan ke Bangkok, Thailand , Ali Sadikin melihat pelacuran di sana tidak tersebar melainkan dilokalisasi di satu tempat. Ide tersebut pun dibawa ke Jakarta. Pertimbangannya, agar ibukota tidak terlihat jorok.

Usai ditetapkannya SK Gubernur KDKI Jakarta No Ca.7/I/13/1970, para pelacur yang umumnya tersebar di daerah Senen dan Kramat Raya dipindahkan ke Kramat Tunggak. Sebuah kawasan terpencil di ujung utara Jakarta.

“Dulu daerah ini susah dijangkau,” kata  Apriadi, mantan preman sekaligus calo di Kramtung.

Kramtung malah berkembang sangat pesat dan terkenal hingga Asia Tenggara, jika pada awal berdirinya terdapat sekitar 300 pelacur dengan 76 germo, maka pada tahun 1980-1990 membengkak menjadi lebih dari 1.615 pelacur di bawah asuhan 258 germo. Menjelang ditutup pada 1999, ada 1.600 pelacur dan 258 germo, bukan cuma pelacur dan germo yang meningkat tajam, luas areal LokRes pun bertambah, dari hanya 5 hektar menjadi lebih dari 10 hektar ketika akan ditutup.

Menurut Ustadz Syarifin Maloko, salah seorang tokoh umat Islam Jakarta Utara, tidak jalannya proses pembinaan kepada para pelacur telah membuat LokRes Kramtung menjadi besar. Kata Syarifin, yang terjadi di sana bukan pembinaan, melainkan regenerasi tunasusila.

“Yang tua dipulangkan yang muda masuk. Pada tahun 1969 umur mereka masih belasan, tapi pas mau ditutup itu masih tetap muda-muda. Padahal kalau dihitung kan sudah nenek-nenek,” ujar ustadz yang kerap menggerakkan masa menuntut penutupan Kramtung ketika itu.

Tuntutan penutupan Kramtung disambut oleh Sutiyoso, Gubernur DKI pada era akhir tahun 1999, menjelang penutupan, para pelacur, germo, pengelola hiburan, dan semua yang terlibat telah diberi imbauan agar tidak mengulangi praktik prostitusi. Khusus bagi para pelacur diberikan pelatihan seperti menjahit, membuat kue, merias, memotong rambut, dan memasak. Lalu mereka diberi modal dan dipulangkan ke daerah asal.

Kepala Badan Pengelola JIC (Jakarta Islamic Centre), H Muhayat mengatakan bahwa organisasi non-struktural di bawah Pemda Provinsi DKI Jakarta yang berdiri di eks lokalisasi Kramat Tunggak, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Kehadiran Jakarta Islamic Centre (JIC) yang mengubah tanah hitam menjadi tanah putih, “min al-dzulumaat ila an-nuur“, diharapkan mampu menampilkan citra baru yang memancarkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang menyejukkan nurani.

Konsepsi pembangunan JIC merupakan sebuah bentuk fasilitasi fungsi-fungsi kemakmuran masjid yang difasilitasi secara total oleh Pemda DKI Jakarta dengan ciri utamanya, terdapat fungsi peribadatan, fungsi pendidikan dan fungsi perdagangan/ bisnis.

Kelengkapan fungsi yang dimiliki JIC serta dengan dukungan bentuk fisik bangunan yang monumental diharapkan dapat menjadikannya sebagai landmark Jakarta sekaligus prototype bagi Islamic Centre di Indonesia.

Dengan jaringan kerja yang melingkupi wilayah Indonesia, Asia Tenggara bahkan dunia, peran strategis JIC diharapkan mampu mewujudkan kebanggaan umat.

Jakarta Islamic Centre diharapkan dapat menjadi salah satu simpul Pusat Peradaban Islam di Indonesia dan Asia Tenggara yang merupakan wilayah konsentrasi baru kebangkitan Islam di dunia, sehingga keberadaannya di Ibukota negara dengan mayoritas penduduk muslim terbesar dapat menunjukkan peran strategisnya sebagai Pusat Pembaruan Menuju Tata Nilai Kehidupan yang lebih Islami.

Kehadiran JIC tidak sekedar hanya mengubah tanah hitam menjadi putih, atau hanya sebuah masjid saja, melainkan lebih dari itu. JIC diharapkan menjadi salah satu simpul pusat peradaban Islam di Indonesia dan Asia Tenggara yang menjadi simbol kebangkitan Islam di Asia dan dunia. (norhakim/PelitaOnline.com)

Write a Reply or Comment