EKSPEDISI ISLAM NUSANTARA, DARI JAKARTA FINISH DI RAJA AMPAT

peta-kesultanan-islam-nusantara-_140426175059-714

JIC – Wakil Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Imam Pituduh mengatakan, Ekspedisi Islam Nusantara akan menyampaikan ke dunia bahwa Islam Nusantara berbeda dengan watak kekerasan, radikal dan merugikan peradaban. Ekspedisi menjadi penegasan bahwa Islam tidak bertentangan dengan kebudayaan.

“Anak-anak muda sekarang harus disadarkan bahwa suatu saat mereka akan menjadi pelaku sejarah sehingga perlu pemamahan yang benar, terutama terkait bahaya radikalisasi dan narkoba,” kata Gus Imam, sapaan akrabnya di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (14/4).

Sementara itu, Tim Ekspedisi Islam Nusantara akan menyampaikannya ke masyarakat Tanah Air selama dua bulan, yang dimulai sejak 31 Maret 2016 dari Jakarta dan dijadwalkan berakhir 9 Juni 2016 di Raja Ampat, Papua.

Sampai saat ini, sudah sembilan daerah di tiga provinsi yang dilewati, yaitu Cirebon, Semarang, Demak, Kudus, Rembang, Tuban, Lamongan, Gresik, dan Surabaya. Perjalanan berikutnya, tim menuju Lumajang, Jombang, Mojokerto, Kediri, Nganjuk, Yogyakarta, Tasikmalaya dan Serang.

Kemudian beralih ke Pulau Sumatera (Aceh, Medan, Langkat, Siak, Indragiri, Pariaman, Padangpanjang, Palembang), Pulau Kalimantan (Kutaikartanegara dan Banjarmasin), Pulau Sulawesi (Makassar, Gowa, Gorontalo, Manado), Maluku (Ternate dan Tidore), Nusa Tanggara Barat (Lombok), serta perjalanan terakhir ke Indonesia paling timur, yaitu Papua (Sorong dan Raja Ampat).

PETA ISLAM INDONESIA

Di tempat-tempat yang dikunjungi, tim akan membidik persoalan toleransi dan akulturasi budaya, kebhinekaan dan solidaritas sosial, kemandirian ekonomi, kesehatan dan keberlanjutan kehidupan, sufisme dan kepercayaan lokal.

Berikutnya adalah semangat Keislaman, kemanusiaan dan kebangsaan, infrastruktur dan corak arsitektur, kesenian, tata busana dan tradisi lokal, pendidikan, ilmu pengetahuan dan karya tulis, politik keumatan, hukum dan kesultanan, serta pelestarian lingkungan dan harmoni alam.

“Tim melakukan berbagai kegiatan seperti menonton pertunjukan seni, membaca naskah, mendatangi makam, masjid, keraton, museum, dan tempat-tempat bersejarah, bertemu dengan pelaku seni, budayawan, kiai, dan tokoh lain,” kata ketua ekspedisi ini.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengapresiasi tim Ekspedisi Islam Nusantara yang digagas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ekspedisi ini dinilai menjadi wujud perekaman jejak dan rekonstruksi sejarah untuk perdamaian di Tanah Air.

“Ekspedisi Islam Nusantara sangat penting karena mempelajari proses transformasi antara Islam dan akulturasi dengan kebudayaan yang dilakukan,” ujarnya di sela menerima Tim Ekspedisi Islam Nusantara PBNU di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Kamis (14/4).

Menurut dia, tim dan anggotanya sudah melakukan pekerjaan berat karena dituntut untuk menyajikan Islam dan budaya yang merupakan model lama menjadi sesuatu yang baru dan diterima oleh masyarakat. Khususnya anak-anak muda.

“Makna Islam dan budaya tetap seperti dulu atau tidak berubah, tapi pengemasannya harus menarik sesuai zaman sekarang sehingga bisa dirasakan oleh siapa dan dimana saja,” ucap Pakde Karwo, sapaan akrabnya.

Orang nomor satu di Pemprov Jatim itu memisalkan budaya yang dikembangkan di provinsinya adalah musyawarah mufakat untuk menemukan seorang pemimpin. “Di Jatim itu tidak sependapat dengan suara terbanyak, kecuali model Pilkada karena sudah diatur dalam undang-undang,” katanya.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Tim Ekspedisi Islam Nusantara Imam Pituduh mengatakan bahwa tujuan ekspesidi ini untuk melakukan rekam jejak dan merekonstruksi sejarah nusantara sekaligus menyebarluaskan perdamaian.

Selain itu, lanjut dia, tim juga menyampaikan kampanye deradikalisasi dan antinarkoba kepada semua kalangan. Khususnya anak muda melalui pembelajaran serta pemahaman yang benar.

“Anak-anak muda sekarang harus disadarkan bahwa suatu saat mereka akan menjadi pelaku sejarah sehingga perlu pemamahan yang benar, terutama terkait bahaya radikalisasi dan narkoba,” kata Gus Imam, sapaan akrabnya.

Sumber : Antara, republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

MENJADI PEMUDA CERDAS DAN IDEOLOGIS

Read Next

ENAM MUALAF PALING BERPENGARUH DALAM SEJARAH PERADABAN ISLAM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nineteen + 8 =