ETIKA DAN HIKMAH PINJAM-MEMINJAM DALAM ISLAM

JICSalah satu muamalah yang diperbolehkan oleh syariat adalah pinjam-meminjam. Dalam ilmu fiqih, akad ini dikenal dengan istilah ‘ariyah. Peminjam disebut musta’ir, pemberi pinjaman disebut mu’ir, objek pinjaman disebut mu’ar.

Imam Ibnu Qosim, dalam Fathul Qorib menjelaskan bahwa ariyah adalah:

اباحة الانتفاع من اهل التبرع بما يحل الانتفاء به مع بقاء عينه ليرده على التبرع

Izin menngunakan manfaat dari orang yang sah bersedekah dalam barang yang dibolehkan serta tetapnya barang pinjaman sehingga dapat dikembalikan secara utuh pada pemiliknya.

Definisi lain dari ulama syafi’iyah (Mughnil Muhtaj, juz 2, hal. 263)

اباحة الانتفاع بما يحل الانتفاء به مع بقاء عينه بلا عوض

Izin menggunakan barang yang halal dimanfaatkan serta barang tersebut tetap utuh tanpa imbalan.

Dalam artian, pinjam-meminjam adalah akad yang sering dijalankan oleh manusia. Dalam definisi tersebut, barang yang dipinjam (mu’ar) harus memiliki manfaat yang dapat diambil oleh peminjam (musta’ir).

Juga, barang tersebut harus dikembalikan dalam keadaan utuh. Artinya, hanya boleh diambil manfaatnya, tanpa mengurangi kadar barangnya (kuantitas/kualitas). Ditambah lagi, barang pinjaman tidak boleh dipinjamkan lagi pada orang lain tanpa seizin dari pemiliknya. Karena ia hanya diberi izin menggunakan, bukan diberi kepemilikan.

Berbeda dengan ulama Hanafiyyah dan Malikiyyah dalam hal akad ariyah. Keduanya mendefinisikan ariyah sebagai penyerahan kepemilikan manfaat (suatu barang) dalam masa tertentu tanpa imbalan. (Al-Mabsuth, juz 11/hal. 133, Asy-Syarhu As-Saghir, juz 3/hal. 570).

Terlepas dari perbedaan pendapat ulama, pinjam-meminjam dalam kehidupan bermasyarakat dapat semakin mengokohkan rasa persaudaraan. Akad ini tetap eksis sampai sekarang. Utamanya di pedesaan. Tiap hari saling ganti peran. Yang hari ini menjadi mu’ir, bisa saja besok menjadi musta’ir, dan sebaliknya. Sikap saling tolong-menolong yang perlu diwariskan ke generasi berikutnya, dan kita sebagai modelnya.

Memang tidak sedikit orang yang semakin enggan meminjamkan barang pada orang lain kecuali dengan upah. Artinya matematis, penuh perhitungan dalam berinteraksi sosial. ‘Ariyah sedikit demi sedikit tergerus oleh ijaroh, sewa. Hal ini tidak terus-menerus dibiarkan tanpa ada kontrol, utamanya dari para tokoh ulama dan masyarakat. Karena dapat mengakibatkan sikap ta’awun mahdliyah, tolong-menolong murni, sedikit demi sedikit akan tergantikan dengan ta’awun bisyarthiyah, tolong-menolong bersyarat.

Sebagaimana yang sudah kita ketahui, di lingkungan para petani, yang sering menjadi objek ‘ariyah adalah sapi untuk membajak, cangkul, sabit, timba, dan lain-lain. Di lingkungan pegawai kantor, pensil, stampad, karet penghapus, dan lain-lain. Di lingkungan sekolah, antar siswa, pinjam-meminjam buku tulis, buku bacaan, pensil, pena, penggaris, dll.

Namun, perlu kita perhatikan, tanggung jawab peminjam (musta’ir) di antaranya adalah mengembalikan barang pinjaman sesuai perjanjian. Jika memberi atau diberi jangka 1 minggu (muqoyyad), maka kembalikan tepat waktu. Usahakan tidak sampai terlambat. Karena dengan tepat waktu, biasanya saat berkeinginan untuk meminjam lagi, pemberi pinjaman tidak akan keberatan. Kepercayaan sudah terbangun antar keduanya.

Lain lagi dengan pinjaman yang tidak ditentukan waktunya (Ghoiru Taqyid), maka kapan saja bisa mengembalikan barang pinjaman (mu’ar). Namun lebih baik, ketika sudah selesai kebutuhannya, segera dikembalikan. Siapa tahu barangnya dibutuhkan oleh yang punya, atau ada peminjam lain yang membutuhkan.

Kebebasan dalam menggunakan barang pinjaman jangan sampai melupakan etika dalam bermualah. Biar kata fiqh boleh kapan saja mengembalikan, setidaknya kita memiliki perasaan tidak enak pada pemiliknya saat kebutuhan sudah terlaksana, sehingga tidak mengulur-ulur waktu pengembalian barang pinjaman. Wallahua’lam.

Sumber : bincangsyariah.com

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

CEGAH KEKERASAN TERHADAP ANAK, KEMENAG SEGERA TERBITKAN PMA

Read Next

KEMENAG: BIAYA HAJI 2020 DITETAPKAN AWAL FEBRUARI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − 2 =