FILM ‘NUSA RARA’, BUDAYAWAN: DENNY SIREGAR SALAH ALAMAT

Kartun Islami Nussa dan Rara.                                                                                        Foto: Youtube

Tudingan Denny itu sebagai bentuk fobia dan sesuatu yang berlebihan.

JIC, JAKARTA — Budayawan Islam Tiar Anwar Bachtiar menilai, pegiat media sosial Denny Siregar salah alamat lantaran mempermasalahkan film animasi ‘Nusa dan Rara’ karena tidak mengajarkan keberagaman. Tiar mengatakan, tema yang dibuat dalam animasi Nusa Rara jelas pendidikan agama Islam bagi anak-anak. Sehingga, animasi itu pasti akan memperlihatkan simbol-simbol Islam.

Sebelumnya Denny menuding film animasi garapan sutradara Angga Dwimas Sasongko itu diintervensi oleh Ustaz Felix Siauw. Denny juga menuding, film tersebut sebagai film propaganda Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Dia berdalih, film Nusa dan Rara tidak menunjukkan keberagaman. Menurut Denny, Islam ditampilkan dalam film tersebut dalam budaya Arab karena pakaian Nussa adalah gamis dan celana.

“Ya memang bukan itu tujuan dari animasi itu. Film animasi Nusa Rara isinya baik. Bahwa dia tidak mengajarkan keberagaman itu harus dilihat dulu itu animasi tema apa,” kata Tiar kepada Republika.co.id, Selasa (12/1).

Tiar menegaskan, tidak ada kesalahan sama sekali dari film Nusa dan Rara. Pasalnya, film atau animasi merupakan simbolisasi atau dunia simbol budaya, gagasan dan sebagainya. Karena itu, Nussa yang disimbolkan memakai pakaian gamis adalah suatu pesan bahwa Nusa dan Rara adalah seorang Muslim, dilihat dari simbolnya.

Namun demikian, Tiar mengatakan, bahwa simbol budaya atau gagasan yang ditampilkan dari sebuah film animasi tidak akan serta-merta mengubah kebiasaan dan tradisi anak-anak di Indonesia. Apalagi, Nusa dan Rara bukan animasi pertama yang memakai simbol keagamaan.

Ada film animasi lain yang menggunakan simbol agama, seperti film ‘Little Khrisna’ yang juga sukses di Indonesia. Tiar mengatakan, ‘Little Khrisna’ yang menggunakan simbol-simbol agama Hindu tentu bertujuan untuk merepresentasikan budaya dari orang-orang Hindu. Film tersebut pun tidak masalah ketika ditonton oleh anak-anak Muslim.

“Misalnya anak-anak kita nonton Little Khrisna kan tidak ujug-ujug mereka berubah jadi Hindu atau berkultur India, tidak demikian. Begitu pun Nusa Rara, ada pengaruhnya pada budaya, tetapi tidak akan sepenuhnya mengubah orang-orang,” lanjutnya.

Tiar lantas menyebut tudingan Denny itu sebagai bentuk fobia dan sesuatu yang berlebihan, yang menciptakan pandangan seperti menakuti terhadap film Nusa dan Rara.

“Padahal saya kira biasa saja, dan pembredelan terhadap film Nusa dan Rara itu sesuatu yang berlebihan,” tambahnya.

Sebelumnya, Denny yang membuat nyinyiran terhadap film ‘Nusa dan Rara’ memention sang sutradara, Angga Dwimas Sasongko, dan mengatakan kepadanya bahwa film itu dibidani oleh Felix Siauw.

“Mas @anggasasongko apa gak paham ya, kalau pilem Nusa ini yg bidani Felix Siaw ? Liat aja bajunya si Nusa, emang anak muslim Indonesia bajunya model gurun pasir gitu? Setau saya, dari dulu kita sarungan deh. Hati-hati mas, jangan jadi jembatan propaganda mereka,” tulis Denny Siregar di akun Twitternya.

Namun, Angga kemudian menanggapi nyinyiran Denny tersebut, dengan mengatakan bahwa produksi film tersebut tidak melibatkan tokoh agama. Angga menuliskan, bahwa cerita dan skenario film ini digarap Skriptura, divisi IP Development Visinema Group. Produksi animasinya oleh The Little Giantz dan distribusi & promosinya oleh Visinema Pictures.

“Yang saya gak paham cerita bahwa Felix Siauw ada di balik film Nussa itu dari mana? Produsernya isteri saya, @anggiakharisma. Penulis skenarionya 2 penulis saya di Visinema. Pendanaan juga dari Visinema dan The Little Giantz,” tulis Angga.

 

“Bahwa Felix Siauw mungkin berteman dengan beberapa kawan yang ikut membuat Nussa, bukan berarti Felix Siauw mengintervensi pekerjaan kami. Visinema sudah 12 tahun bikin film. Saya gak butuh pembelaan lebih jauh. Film-film kami secara historis memberikan gambaran visi dan independensi kami.”

Sumber : Republika.co.id

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

REAKSI KPAI KETIKA FILM NUSSA DITUDUH RADIKAL DAN INTOLERAN

Read Next

JOKOWI TERIMA SUNTIKAN DOSIS PERTAMA VAKSIN COVID-19 SINOVAC

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 16 =