Bengkalis, JIC – Sejumlah mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Kabupaten Kepulauan Meranti yang kuliah di Bengkalis melakukan audiensi diskusi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat terkait maraknya Gelanggang Permainan (Gelper) yang disinyalir jadi ajang perjudian.

Kedatangan Mahasiswa yang dikoordinatoriMuhammad Arif Al-Arkhan ini disambut Ketua MUI Kabupaten Bengkalis H Amrizal dan didampingi Sekretaris MUI, Karya Mukhsin.

“Kami menduga di Bengkalis saat ini sudah mulai tampak tindakan Penyakit Masyarakat (Pekat), seperti Gelper dan hiburan malam di warung remang-remang. Tentu kami khawatir hal ini akan merusak generasi muda di kemudian hari bila ini dibiarkan,” ucap Muhammad Arif Al-Arkhan, Selasa (30/6).

Menyikapi ini, Ketua MUI Kabupaten Bengkalis, H Amrizal mengatakan bahwa kerisauan mahasiswa terhadap Gelper dan hiburan malam sejatinya adalah hal yang patut diapresiasi dalam mengantisipasi kerusakan moral masyarakat terlebih kaula muda.

“MUI hanyalah sebagai organisasi kemasyarakatan di bidang keagamaan yang tentunya tidak memiliki kemampuan untuk memberikan tindakan jika memang Gelper dan tempat hiburan ada. Namun hanya bisa meminta pemerintah dan penegak hukum untuk menertibkan hal yang demikian,” tuturnya.

Amrizal juga menyebutkan bahwa beberapa tahun lalu MUI juga sudah pernah melakukan diskusi bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat terkait Pekat di Kabupaten Bengkalis dan hasil diskusi itu kemudian disampaikan ke Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan pihak yang berwenang.

“Namun persoalan Pekat tidaklah bisa diatasi oleh satu pihak saja, harus ada kerjasama sejumlah pihak sehingga Gelper atau tempat hiburan malam tidak secara berulang terjadi,” ungkapnya.

Secara pribadi Amrizal juga sangat mendukung para mahasiswa yang menginginkan pengawasan terhadap Gelper agar izinnya tidak disalah gunakan. Dan MUI hanya mampu bertindak sesuai koridor sebuah organisasi keagamaan.