GULA PASIR UNTUK IBUNDA DARI PELAKU BOM MAPOLRESTA SURABAYA

JIC, Surabaya,  — Senin (14/5) pagi itu, Tri Ernawati masih sempat singgah ke rumah orang tuanya, di Jalan Krukah Selatan XI B Nomor 11, Ngagelrejo, Wonokromo, Surabaya. Tri datang bersama anak bungsunya, AAP, menggunakan sepeda motor.

Tak terlihat gelagat aneh pada Tri saat bertamu ke rumah orang tuanya. Ia membawa gula pasir dan ditawarkan kepada ibunya. Orang tua Tri sehari-hari memang membuka warung kelontong menjual kebutuhan sehari-hari. Tri tak lama berada di rumah yang ia tinggali sejak lahir itu.

“Itu cerita dari ibunya. Datang sama anaknya yang selamat,” kata Ketua RT 009 Kukuh Santoso saat berbincang dengan CNNIndonesia.com kemarin.

Kukuh sempat melihat Tri dan anak bungsunya itu lewat di depan rumahnya.

Rumah orang tua Tri berada di ujung Jalan Krukah Selatan XI B. Rumah bercat putih dengan pagar hijau itu persis berada di samping musala. Sementara rumah Kukuh berada tiga rumah sebelum rumah orang tua Tri.

Tri kerap mengunjungi rumah orang tuanya. Belakangan diketahui di kartu keluarga (KK) Tri ternyata masih menumpang alamat rumah orang tuanya.

Tri tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama suaminya, Murtiono, pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya dan dua anaknya yang lain. Suami istri itu total memiliki tiga anak.

Tri yang sejak lahir tinggal di daerah itu sangat dikenal baik oleh tetangganya, termasuk keluarga Kukuh. Menurut dia, Tri seperti orang pada biasanya, tak memiliki gelagat aneh selama ini.

“Normal, kaya orang-orang kita. Wong anaknya bebas main, seperti anak-anak main itu. Tidak ada yang aneh sama sekali. Makanya kami semua kaget,” kata Kukuh.


Tak ayal, setelah mengetahui Tri ikut melakukan bom bunuh diri di Polrestabes Surabaya, warga syok dan tak percaya.

Kukuh mengatakan warga terkejut melihat saat mengetahui berita perihal bom bunuh diri yang dilakukan keluarga Tri. Para tetangga sedih dan menangis. Terlebih, anak bungsunya kini harus dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara.

“Kami saja sampai syok berat, warga sampai nangis dengar kemarin. Kami kaget juga, sampai anaknya yang kecil dirawat di Bhayangkara. Banyak yang nangis di sini lihat tv,” tuturnya.

“Dia mulai lahir di sini. Orang tuanya asli sini. Hampir 50 tahun di sini,” kata Kukuh.

Kukuh tak terlalu mengenal suami Tri. Ia menyebut suami Tri bisa dihitung jari datang ke rumah mertuanya itu. Namun, Kukuh pernah diminta tolong oleh suami Tri untuk membetulkan mesin cuci.

Selain sebagai ketua RT, Kukuh sehari-hari membuka usaha jasa perbaikan barang-barang elektronik, seperti mesin cuci, kipas angin, hingga AC.

“Pernah diundang suruh betulin mesin cuci, saya dipanggil, ‘mas tolong mesin cuci ku benerin dong’. Saya datang ya ngobrol biasa,” ujarnya.

Tak ada pembicaraan yang aneh-aneh dari Tri saat Kukuh datang membetulkan mesin cucinya. Tri dan suaminya mengontrak rumah di Jalan Tambak Medokan Ayu VI, Surabaya. Di sana mereka baru sekitar 2 sampai 3 bulan.

Kukuh mengatakan bahwa jenazah Tri yang ada di Rumah Sakit Bhayangkara belum diambil pihak keluarga. Ia belum mendapat kabar apakah jenazah sudah boleh diambil atau belum oleh pihak keluarga.

“Nah ini belum koordinasi. Ini kemarin sempat ngasih tahu rumah Medokan,” ujarnya.

CNNIndonesia.com mencoba mendatangi rumah orang tua Tri kemarin. Namun, keluarga yang sudah puluhan tahun tinggal di Jalan Krukah Selatan XI B itu tak ada yang keluar.

Menurut Kukuh, keluarga Tri ingin ketenangan setelah mengetahui kejadian yang menggemparkan Kota Pahlawan tersebut.

“Saya diomelin kakak Tri, saat pagi-pagi salah seorang wartawan datang langsung ke rumahnya,” katanya. (ayp/gil) 

SUmber : cnnindonesia.com

 

Write a Reply or Comment