HATI-HATI TERJERUMUS UJARAN KEBENCIAN DI SOSIAL MEDIA

JIC – Perkembangan teknologi yang semakin pesat membuat penggunanya harus awas terhadap hal buruk yang muncul dari perkembangan ini. Media Sosial (Social Media) adalah saluran atau sarana pergaulan sosial secara online di dunia maya (internet). Para pengguna (user) media sosial berkomunikasi, berinteraksi, saling kirim pesan, dan saling berbagi (sharing), dan membangun jaringan (networking).

Media sosial (Social Network) sebagai salah satu bentuk media baru menjadi fenomena di dunia termasuk indonesia dengan peningkatan jumlah pengguna yang sangat drastis. Data Asosiasi Pengguna Jaringan Internet Indonesia (APJII) per Januari 2016 menyebut ada 79 juta pengguna media sosial di Indonesia. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring dengan makin beragamnya fitur media sosial yang bisa dimanfaatkan penggunanya. Beragam penelitian tentang motif penggunaan media sosial menunjukkan berbagai keleluasaan yang diperoleh pengguna seperti dalam mencari informasi alternatif, berkomunikasi dengan rekan jauh, atau sebagai ruang eksistensi diri.

Keleluasaan berdiskusi di media sosial ini menyiratkan beberapa dampak negatif. Salah satu yang dipotret ialah hadir dan meningkatnya intensitas ujaran kebencian (hate speech). Secara sederhanaKomunitas Uni Eropa mendefinisikan konsep ini merujuk pada ekspresi yang menghasut, menyebarkan, membenarkan kebencian yang biasanya berkaitan dengan Suku Ras dan Agama. Ujaran kebencian adalah bentuk dari sikap intoleran pada kelompok masyarakat lain. Pandangan lain melihat dampak lanjutnya yang menganggap ujaran kebencian sebagai ungkapan yang menyerang dan mendorong terjadi kekerasan.

Sekarang begitu cepat pengguna sosial media memberikan comment atas nama kebebasan, terlepas karena ingin menyampaikan aspirasi, mengemukakan opini, atau hanya sekedar menunjukkan eksistensi dan kemampuan. Jika commentnya positif dan dibangun diatas sebuah keikhlasan, maka tidak ada masalah.

Namun jika comment tersebut negatif, maka ada baiknya kita renungkan ucapan berikut ini:

إني لأرى الشيء أكرهه فما يمنعني أن أتكلم فيه إلا مخافة أن أبتلى بمثله. التاريخ الكبير

“Aku melihat sesuatu yang aku benci dan tidak ada yang menghalangiku untuk memberikan comment kecuali karena kekhawatiran suatu saat nanti aku yang mengalami hal tersebut.”

Itulah kalimat yang meluncur dari lisan seorang ulama besar, Ibrahim An Nakha’i.

Dan semakin fatal jika orang yang kita komentari ternyata telah bertaubat dan menangis kepada ALLAH atas dosa-dosanya tersebut.

Simak apa yang diutarakan oleh Imam Hasan Al Bashri berikut ini:

كانوا يقولون: من رمى أخاه بذنب قد تاب منه لم يمت حتى يبتليه الله به. الصمت لابن ابي الدنيا

Sahabat mengatakan: “Barangsiapa yang mencela saudaranya karena dosa yang dikerjakannya (padahal saudaranya itu telah bertaubat dari dosanya tersebut), niscaya ia tidak akan meninggal kecuali setelah ia mengerjakan dosa yang serupa dengan yang dilakukan oleh saudaranya itu”.

Tidakkah kita khawatir hal itu menimpa kita? Pantaskah kita mengomentari sebuah dosa atau skandal yang bisa jadi telah dimaafkan dan diampuni oleh Allah?

Allah telah menghapus dan memaafkan dan kita masih asik membicarakannya tanpa alasan syar’i? Belum lagi jika kita mengingat bahwa seluruh comment kita akan dihisab:

 مَّا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

(18) Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qaaf: 18)

Dan juga comment kita adalah parameter iman dan taqwa kita:

“Barangsiapa yang beriman kepada ALLAH dan hari kiamat, maka hendaklah berkata baik atau diam…” (HR. Bukhari)

Maka dari itu, dari fenomena ujaran kebencian (hate speech) yang ada di sosial media, membuat penggunanya harus lebih cerdas beretika. Tidak bertatap muka namun menyampaikan komentar negatif sejatinya adalah perbuatan yang buruk. Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya menjaga lisan dan perkataan di sosial media amat sangat penting sebab segala sesuatunya akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Wallahu a’lam. (ZS)

Write a Reply or Comment