HIJRAH UNTUK KEMBALI

Hijrah bukan sekedar peristiwa monumental yang hanya dimaknai berpindahnya Rasulullah saw. dan para sahabat dari Kota Makkah ke Madinah saja. Hijrah yang bukan untuk lari dari tanggung jawab, tapi hijrah untuk mengumpulkan kekuatan di Madinah dan kembali ke Makkah membebaskan penduduknya dari kemusyrikan dan memeluk agama Islam. Orang Betawi sejak lama, disadari atau tidak, mereka juga telah melakukan Hijrah untuk dirinya dan anak-anaknya seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw.

 

Hijrah bukan sekedar peristiwa monumental yang hanya dimaknai berpindahnya Rasulullah saw. dan para sahabat dari Kota Makkah ke Madinah saja. Hijrah yang bukan untuk lari dari tanggung jawab, tapi hijrah untuk mengumpulkan kekuatan di Madinah dan kembali ke Makkah membebaskan penduduknya dari kemusyrikan dan memeluk agama Islam. Orang Betawi sejak lama, disadari atau tidak, mereka juga telah melakukan Hijrah untuk dirinya dan anak-anaknya seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw. untuk mengumpulkan kekuatan, yaitu berupa ilmu, khususnya hijrah ke Makkah dan kembali ke Betawi sebagai ulama terkemuka. Syekh Djunaid Al-Betawi adalah contohnya. Syekh Junaid Al-Betawi adalah ulama Betawi pertama yang dapat dilacak yang lahir di Pekojan namun kemudian hijrah dan menjadi ulama berpengaruh di Makkah, sempat balik ke Betawi menyiarkan agama Islam, dan memiliki murid-murid yang kemudian menjadi ulama Betawi terkemuka, sepeti Syekh Mujitaba. Begitu pula ulama Betawi lainnya tempo yang dipanggil guru, muallim, syekh, kyai haji, umumnya adalah kaum muhajirin alumni Makkah yang kemudian kembali menjadi ulama Betawi terkemuka, dari Guru Marzuki sampai Syekh KH Muhadjirin Amsar Ad-Darry.

Begitu kuatnya keyakinan orang Betawi terhadap kebaikan hijrah ke Makkah bagi pembangunan kekuatan keilmuan anak-anaknya, mereka tidak berat hati atau merasa kehilangan ketika harus menghijrahkan anak-anak mereka ke kota Makkah walau usia anak-anaknya masih sangat belia atau masih kanak-kanak. Mari kita simak kisah bagaimana Guru Mughni menghijrahkan anaknya Ali Syibromalisi, (KH. Ali Syibromalisi) ke Makkah dan bagaimana tradisi model hijrah ini diteruskan KH. Ali Syibromalisi kepada anak-anak, keponakan dan lainnya walau tidak ke kota Makkah lagi karena Makkah setelah era tahun 50-an tidak lagi kondusif untuk mendidik anak-anak mereka untuk menjadi ulama Ahlussunnah Waljama` ah Asy-Syafi`iyyah.

Sekitar tahun 1933, saat usia KH.Alisyibromalisi masih sangat muda, yaitu 12-13 tahun, beliau dikirim ke Makkah oleh Guru Mughni untuk belajar memperdalam ilmu-ilmu Islam.Kembali ke Tanah Air karena alasan politik dan kondisi perang dunia ke 2 yang mengharus pelajar-pelajar Indonesia di Makkah kembali ke tanah airnya.Guru yang beliau sering sebut yang terbesar adalah Syeikh Yasin Padang. Kedekatan murid dan guru ini tidak diragukan, bahkan ketika Syeikh Yasin diundang Presiden Suharta ke Indonesia, beliau sempat mampir di rumah beliau.Sedang teman seperjuangan beliau yang banyak bersama melangkah memperjuangkan misi yang sama adalah:KH. Abdul Razaq Ma’mun (keponakan), KH Abd Syakur Chairi (teman), KH Ahmad Hajjarmalisi (kakak).

Kembali ke tanah air beliau terus berjuang, melalui 3 media, Formal dan Non Formal (pendidikan, majelis ta`lim, organisasi masyarakat dan politik).Perjuangan itu terus beliau lakukan sampai akhir hayat. KH Ali Syibromalisi tercatat mengajar di lebih dari 10 tempat perminggunya. Beberapa Masjid yang beliau sempat mengajar: Masjid Baitul Mughni; Masjid Istiqlal; Masjid Istikmal; Masjid Darussalam, Kuningan Barat; Masjid Blok S;Beberapa masjid di Kemang, Cipete dan lain-lain.

Selain itu, ia juga aktif dalam menyampaikan Khutbah Jum’at dan Ied, ceramah di kesempatan hari-hari besar Islam, menghadiri pertemuan-pertemuan tingkat provinsi dan Nasional. Juga aktif dalam organisasi masa Islam, seperti: NU ( jabatan beliau yang tertinggi adalah menjadi salah satu Ketua di PB NU Pusat), Dewan Masjid Indonesia walau hanya tingkat wilayah, MUI Pusat dan di Ittihad al-Muballighin pimpinan KH A. Syaihu.

Ia juga menjadi ketua atau pengurus di beberapa Yayasan, kepengurusan masjid. Antara lain: Yayasan Darussa’adah, Yayasan KH. Abdul Mughni Kuningan, Masjid al-Taysir, Masjid Darussalam

Sedangkan untuk melanjutkan misi dakwahnya, beliau mempersiapkan penerusnya dari murid maupun anak yang kemudian beliau kirim atau usahakan untuk mendapatkan beasisawa ke timur tengah. Beliau mengirim putranya: Marzuki Ali ke Makkah, lalu ke Mesir. KH Marzuki Ali dikenal sebagai jago baca kitab di kalangan mukimin Makkah dan Cairo.Beliau juga mengirim putrinya: Faizah Ali ke Al-Azhar Cairo, putrinya ini berhasil sampai mendapat gelar Dr. Mengusahkan beasiswa untuk ponakannya: Nasruddin Syahrowardi : Ke Madinah, selesai Lc lalu melanjutkan ke Mesir hmad Lutfi Fathullah : ke Syria, selesai Lc lalu melanjutkan sampai selesai doktor di Malaysia.

Maka dalam memaknai hijrah memperkuat ilmu untuk kembali, pada peringatan hijrah ini, Jakarta Islamic Centre (JIC) mengadakan Gema Hijrah 7 yang semuanya dilaksanakan di JIC berupa kegiatan Talk Show Buku “Bumi Cinta” Habiburrahman el Shirazy, 2 Nopember 2011: Talk Show Hypnoparenting bersama Agus Sutiyono (Penulis Dahsyatnya Hypnoparenting), 2 Nopember 2011; Pelatihan Muhasabah Berbasis Story Telling bersama kak Haryo [khusus undangan], 3 Nopember 2011; Family Day “Lomba Mewarnai, Lomba Melukis di Kaos, Lomba Bercerita untuk Guru & Orang Tua”, 4 Nopember 2011; dan kegiatan lain-lain. Untuk informasi dan konfirmasi kegiatan dapat menghubungi 021-4413069.***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki

Koordinator Pengkajian JIC

Jakarta Islamic Centre

Read Previous

OKI Ingin Krisis Suriah Diselesaikan oleh Internal Umat Islam

Read Next

JIC Kembali Gelar Gema Hijrah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + sixteen =